080611
Diakui atau tidak, anak hasil didikan sekolah umum dan sekolah islam memang berbeda, akhlaknya terlihat sekali berbeda –ini hanya dari pengamatan yang saya lakukan-.
Di sekolah Negeri gurunya tidak harus muslim, mau kafir, pelaku kesyirikan maupun bidah pun sah-sah saja, karena memang tidak ada seleksi akidah disana.
Saya teringat ketika SMA, guru saya (kafir) menyayangkan mengapa dua pasang sejoli yang akan menikah membatalkan hanya gara2 beda keyakinan, padahal semua agama kan sama saja katanya. Itu kan kata dia, kalau kata Allah hanya islam yang benar.
Belum lagi pergaulan dengan teman2 sekolah, anak2 dari berbagai latar belakang ada disana: anak orang kafir, anak dukun, anak koruptor de el el.
Kalau misalnya si anak duduk sebangku dengan anak dukun, terus pulang2 minta Keris gimana? (sekedar contoh, ini juga nyontek, he3)
Siapa yang bisa menjamin anak2 tidak akan terpengaruh dengan teman2 sekolahnya
Lagi2 saya teringat masa SMA saya, teman laki2 sekelas saya, ketika saya meminjam hpnya, ternyata banyak gambar2 perempuan tak berbusana. Belum lagi di jaman serba mudah sekarang dengan mudah video2 asusila bisa didapat –bluetooth via hp misalnya-.
Belum lagi isu2 yang berkembang diantara mereka, pembicaraan atau obrolan2 mereka. Saya pernah mendengar anak SD menyanyikan yel2 yang isinya kurang sopan,
Juga pergaulan antar jenisnya, anak SD bahkan sudah mengenal pacar-pacaran,bahkan istilah ciuman. Saya sangat ngeri mengetahui anak SD sudah tau hal2 yang berbau se*s.
Belum lagi kata2 kotor yang mungkin berkembang diantara mereka. Teringat ketika SMA dulu, teman2 dengan ringannya mengucapkan makian atau menyapa temannya dengan panggilan sayang nama2 binatang “b*bi“ misalnya, bahkan bukan dalam keadaan marah.
Di sekolah islam, paling tidak semua gurunya muslim. Dan dengan adanya kesamaan akidah paling tidak atmosfernya lebih kondusif. Disana juga akan lebih ada penekanan masalah agama dan akhlak. Apalagi jika sekolah itu benar2 komitmen untuk benar2 menjadi sekolah islam, mereka tidak akan sembarang menerima guru, pasti ada kriteria2 tertentu yang harus terpenuhi. Begitupun halnya dengan kurikulum, akan ada tambahan pelajaran2 agama yang tidak ada di sekolah umum. Kalau saran saya sih, cari sekolah islam yang benar2 kondusif, bukan hanya sekedar namanya yang terdengar islami. Pelajari dulu profil sekolah sebelum memutuskan dimana anak kita akan kita titipkan.
Dan yang lebih parah, jangan sampai anak2 kita kita sekolahkan di sekolah kafir. Ketika disana –seperti yang saya dengar dari tetangga- mau tidak mau mereka akan diberi pelajaran agama mereka, bahkan ketika ada acara keagamaan (baca: ibadah) mereka juga diwajibkan ikut.
Miris sekali melihat fenomena ini, siapakah yang berhak disalahkan orang tuanya kah ataukah sekolah2 itu?
Selain memilih sekolah yang bernafaskan Islam, Masukkan juga anak2 kita ke TPQ, itupun tidak asal TPQ, carilah yang pengajarnya benar manhajnya, sehingga tidak mengajarkan bid’ah atau segala bentuk penyimpangan dalam beragama. Itu pun perlu kita beri teladan, tidak hanya menyuruhnya mengaji sementara orang tua hanya sibuk nonton sinetron.
Jangan sibuk mengurusi dunianya saja, tapi yang terpenting perhatikan akhiratnya. Dan tak perlulah anak2 kita diberikan les2 tambahan yang tak berguna bahkan haram semacam les piano, les menari de es be.
Kalau bisa alangkah lebih baiknya lagi jika anak2 dididik di pondok pesantren sejak kecil. Dan tak perlulah percaya dengan teori psikologi yang mengatakan anak yang sejak kecil dipisahkan dari orang tua akan merasa dibuang, terlebih yang mengemukakan teori itu juga orang kafir. Seperti Imam syafii, yang mungkin tidak akan jadi ulama besar seperti itu jika ibunya tidak menngirimkannya untuk dididik dari kecil.
Tapi perlu diingat tidak semua pesantren bisa dijadikan pilihan. orang tua harus cermat memilih pesantren yang benar2 “bersih” dan benar manhajnya.
Karena tidak jarang pesantren saat ini yang sudah dipenetrasi pemikiran liberal, seperti halnya kampu2 berlabel islam, tempat2 yang semestinya mencetak para da‘i. Mereka diberi kucuran dana oleh instansi yang mendukung penyebaran virus liberal (asia foundation kalau ga salah) bukan tanpa maksud –tak ada makan siang gratis istilahnya-. Para santri bahkan ustadznya diberi beasiswa keluar negeri –entah nama negaranya apa saya lupa, yang jelas bukan negaranya para ulama- untuk belajar islam dari dari sumber yg salah (tentang pesantren jenis ini saya baca disebuah potongan majalah yang ditempel di mading masjid). Untuk tahu nafas pesantren ini bisa dilihat buku2 di perpustakaannya.
Ada juga pesantren yang masih kental dengan ritual2 bidah, misalnya saja shalawatan ba’da adzan, dzikir berjamaah, tahlilan, yasinan dan masih banyak contoh lain.
Atau pesantren yang didalamnya masih membuka pintu kemaksiatan, sangat jelas maksiat itu tidak dianggap haram, terlihat dengan memberikan fasilitas. Saya pernah sekilas membaca sebuah novel dengan latar sebuah pesantren, disana mereka diberi fasilitas2 kegiatan ekstra, dan salah satunya adalah musik, untuk itu mereka difasilitasi dengan alat musik.
Agar tidak salah memilih pesantren,pelajari dulu profil2 pesantren yang dilirik dan minta rekomendasi dari orang2 terpercaya.
Semua hal diatas hanyalah upaya yang perlu dilakukan orang tua untuk menjaga anak2nya. Tak selalu anak hasil didikan sekolah yang tak bernafas Islam menjadi buruk, begitupun sebaliknya tak bisa dijamin anak hasil didikan sekolah islam atau bahkan pesantren hasilnya baik. Masih banyak factor lain yang mempengaruhi, termasuk lingkungan sekitar dan keluarga. Dan yang terpenting hidayah itu ditangan Allah. Namun sebagai orang tua kita berkewajiban mengarahkan anak2 kita, termasuk dalam hal memilih tempat belajar.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluarganu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS: at Tahrim: 6)
Allahu a’lam
semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik dan dikaruniai anak2 yang sholih dan sholihah
Jumat, 17 Juni 2011
Kamis, 16 Juni 2011
TUA BERGAYA MUDA
080611
Kalau ada anak muda yang gemar mengenakan celana jeans, kaos ketat dan segala aksesorisnya mungkin kita akan mengangapnya biasa2 saja, karena memang begitulah style anak muda jaman sekarang. Walaupun sebenarnya bukan begitu cara berpakaian yang benar, wanita tak boleh menampakkan auratnya, terlebih menggunakan ketat2, dan biasanya perbatasan antara jeans dan kaos ketat itu menyisakan sedikit ruang. Begitupun kaum adamnya biasanya jeans2 mereka itu isbal, robek2 atau bahkan ada juga yang ketat, sangat nggilani.
Tapi kalau ada orang tua masih gemar memakai jeans ketat mungkin akan terasa aneh meskipun dipadupadankan dengan atasan yang longgar, terlebih jika bodynya sudah tidak sedap dipandang. Atau malah dipadupadankan dengan kaos n jaket khas anak muda. Atau Ada juga yang gemar menggunakan legging –celana ketat yang sangat2 menampakkan bentuk badan, karena kainnya tipis dan lengket dibadan- . Bahkan menurut saya celana ketat dari bahan2 lainnya masih mending, karena masih tampak memakai celana, tapi kalau legging sudah sama seperti tidak memakai celana alias telanjang, benar2 gilo lihatnya, terlebih jika bodynya ga karuan. Itu baru fenomena pakaian.
Tidak jarang kita jumpai orang2 tua yang tidak rela terlihat tua, rambutnya sudah mulai beruban,disemir agar menjadi hitam lagi. Padahal Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam jelas2 melarang dengan keras menyemir rambut dengan warna hitam.
http://ustadzaris.com/bolehkah-menyemir-rambut-dengan-warna-hitam
Atau bahkan ada orang tua tapi masih gemar bermaksiat, sungguh ini amat sangat buruk. Kalau anak muda gemar maksiat itu memang buruk, tapi memang saat itu nafsu maupun tubuhnya masih sangat mendukung untuk itu. Sedangkan orang tua semestinya nafsu dan tubuhnya yang mulai renta sudah tidak lagi mendorong untuk maksiat, tua2 keladi istilahnya. Bahkan jika orang yang sudah tua berzina –sebagaimana dikabarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam- kelak tidak akan diajak bicara oleh Allah.
Dan sadar atau tidak, fenomena2 orang tua yang tak mau tampak tua alias bergaya muda ini adalah salah satu tanda kiamat seperti disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ahmad.
Ada seorang wanita yang mungkin karena selalu mengenakan baju terusan dipadu dengan jilbab besar, tidak jarang yang memanggilnya dengan sapaan ibu, dan bukan mbak atau lainnya padahal dia masih muda, dan dia tidak kaget karena sudah terbiasa. Tapi apakah orang2 salah menyapa karena tampilannya yang ga khas anak muda jaman sekarang atau memang wajahnya yang terlihat tua ya? Hmm, entahlah…
Wallahua’lam
4 yang dilaknat Allah
070611
Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
(HR Bukhari , Muslim, An Nasa-I, dan Ahmad)
Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah
Menyembelih untuk dikurbankan adalah bentuk ibadah harta yang paling agung, maka menyembelih untuk selain Allah adalah kesyirikan, syirik akbar.
Padahal ketika shalat –iftitah- kita telah berikrar bahwa ibadah kita hanya untukNya. (mengenai doa iftitah yang shahih bisa dilihat dibuku sifat shalat nabinya syekh Albani dan didengarkan penjelasannya di link ini: http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Pembahasan%20Kitab%20Zaadul%20Ma%27aad karena doa iftitah yang banyak beredar di masyarakat merupakan percampuran dari dua doa iftitah)
“Sesungguhnya shalatku, ibadatku (sesembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (al An'am : 162-163). Nusuk dalam ayat diatas secara umum bermakna ibadah, dan secara khusus bermakna sembelihan.
Meskipun ketika menyembelih menyebut nama Allah, tapi jika diniatkan untuk dipersembahkan pada selainNya maka tetap saja syirik. Bahkan kalau misalnya ada yang memberi kita daging sembelihan tersebut, kita dilarang memakannya.
Allah melaknat orang yang mencaci-maki kedua orangtuanya
Baik secara langsung dengan lisan kita sendiri atau tidak langsung, yaitu engkau berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain mencaci-maki kedua orang tuamu.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci-maki kedua orang tuanya,” para sahabat bertanya,”Bagaimana seseorang bisa mencaci-maki kedua orang tuanya?” maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Dia mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu mencaci maki kembali orang tuanya”.
Kita sering mendengar bukan dua orang yang berselisih, kemudian salah satunya memaki orang tua lawannya dan lawannya balas memaki orang tuanya?
Allah melaknat orang yang merubah tanda batas bumi
Bisa bermakna orang yang merubah tanda batas tanah (mencuri tanah orang lain dengan memindahkan patoknya, sehingga tanah miliknya menjadi lebih luas).
Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang mendzolimi 1 jengkal saja, pada hari kiamat 1 jengkal itu dikalungkan dilehernya sampai 7 lapis bumi.
Makna kedua yaitu orang yang merubah tanda petunjuk bumi. Misalnya arah ke Surabaya harusnya ke barat, lalu olehnya tanda arahnya diarahkan ke timur, sehingga membuat orang jadi tersesat.
Allah melaknat orang yang melindungi pelaku muhditsan/muhdatsan
Muhditsan adalah pelaku kriminal, yang semestinya terkena hukum had.
Seperti kisah seorang wanita yang meminjam emas dan tidak mau mengembalikan, maka hukumnya sama seperti mencuri. Dan mencuri pada kadar tertentu hukumannya potong tangan.
Ketika akan dipotong tangannya, keluarganya malu karena mereka dari keluarga terhormat, maka mereka meminta shahabat usamah bin zaid radhiyallahu’anhu sebagai perantara syafaat/pertolongan untuk berbicara pada nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak dihukum.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, “Apakah kamu akan memberikan syafaat terhadap hukum had yang harus dilaksanakan? Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, kalau Fatimah putiku mencuri aku yang memotong tangannya”
Umat jaman dahulu binasa karena kalau yang berbuat jahat tokoh masyarakat tidak dihukum, kalau orang miskin dihukum.
(saya jadi berpikir kalau pelaku pencurian dengan berbagai bentuknya -termasuk korupsi- di Indonesia dihukum potong tangan, mungkin tidak ada lagi yang berani mencuri)
Muhdatsan adalah perbuatan menyimpang dalam agama.
Karena orang yang melindungi penyelewengan berarti dia ridho, dan orang yang ridho sama dengan pelaku meskipun dia tidak melakukan.
Misalnya ada orang melindungi orang yang memiliki pemikiran menyimpang (ex: liberalisme), maka orang ini masuk dalam hadits diatas.
PENTING: Dilaknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah, jauh dari surga, dekat dengan neraka.
Lebih lengkapnya silahkan didengarkan di:
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Pembahasan%20Kitab%20Ensiklopedi%20Larangan poin 13
Allahu a’lam, semoga bermanfaat
Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
(HR Bukhari , Muslim, An Nasa-I, dan Ahmad)
Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah
Menyembelih untuk dikurbankan adalah bentuk ibadah harta yang paling agung, maka menyembelih untuk selain Allah adalah kesyirikan, syirik akbar.
Padahal ketika shalat –iftitah- kita telah berikrar bahwa ibadah kita hanya untukNya. (mengenai doa iftitah yang shahih bisa dilihat dibuku sifat shalat nabinya syekh Albani dan didengarkan penjelasannya di link ini: http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Pembahasan%20Kitab%20Zaadul%20Ma%27aad karena doa iftitah yang banyak beredar di masyarakat merupakan percampuran dari dua doa iftitah)
“Sesungguhnya shalatku, ibadatku (sesembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (al An'am : 162-163). Nusuk dalam ayat diatas secara umum bermakna ibadah, dan secara khusus bermakna sembelihan.
Meskipun ketika menyembelih menyebut nama Allah, tapi jika diniatkan untuk dipersembahkan pada selainNya maka tetap saja syirik. Bahkan kalau misalnya ada yang memberi kita daging sembelihan tersebut, kita dilarang memakannya.
Allah melaknat orang yang mencaci-maki kedua orangtuanya
Baik secara langsung dengan lisan kita sendiri atau tidak langsung, yaitu engkau berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain mencaci-maki kedua orang tuamu.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci-maki kedua orang tuanya,” para sahabat bertanya,”Bagaimana seseorang bisa mencaci-maki kedua orang tuanya?” maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Dia mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu mencaci maki kembali orang tuanya”.
Kita sering mendengar bukan dua orang yang berselisih, kemudian salah satunya memaki orang tua lawannya dan lawannya balas memaki orang tuanya?
Allah melaknat orang yang merubah tanda batas bumi
Bisa bermakna orang yang merubah tanda batas tanah (mencuri tanah orang lain dengan memindahkan patoknya, sehingga tanah miliknya menjadi lebih luas).
Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang mendzolimi 1 jengkal saja, pada hari kiamat 1 jengkal itu dikalungkan dilehernya sampai 7 lapis bumi.
Makna kedua yaitu orang yang merubah tanda petunjuk bumi. Misalnya arah ke Surabaya harusnya ke barat, lalu olehnya tanda arahnya diarahkan ke timur, sehingga membuat orang jadi tersesat.
Allah melaknat orang yang melindungi pelaku muhditsan/muhdatsan
Muhditsan adalah pelaku kriminal, yang semestinya terkena hukum had.
Seperti kisah seorang wanita yang meminjam emas dan tidak mau mengembalikan, maka hukumnya sama seperti mencuri. Dan mencuri pada kadar tertentu hukumannya potong tangan.
Ketika akan dipotong tangannya, keluarganya malu karena mereka dari keluarga terhormat, maka mereka meminta shahabat usamah bin zaid radhiyallahu’anhu sebagai perantara syafaat/pertolongan untuk berbicara pada nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak dihukum.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, “Apakah kamu akan memberikan syafaat terhadap hukum had yang harus dilaksanakan? Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, kalau Fatimah putiku mencuri aku yang memotong tangannya”
Umat jaman dahulu binasa karena kalau yang berbuat jahat tokoh masyarakat tidak dihukum, kalau orang miskin dihukum.
(saya jadi berpikir kalau pelaku pencurian dengan berbagai bentuknya -termasuk korupsi- di Indonesia dihukum potong tangan, mungkin tidak ada lagi yang berani mencuri)
Muhdatsan adalah perbuatan menyimpang dalam agama.
Karena orang yang melindungi penyelewengan berarti dia ridho, dan orang yang ridho sama dengan pelaku meskipun dia tidak melakukan.
Misalnya ada orang melindungi orang yang memiliki pemikiran menyimpang (ex: liberalisme), maka orang ini masuk dalam hadits diatas.
PENTING: Dilaknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah, jauh dari surga, dekat dengan neraka.
Lebih lengkapnya silahkan didengarkan di:
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Pembahasan%20Kitab%20Ensiklopedi%20Larangan poin 13
Allahu a’lam, semoga bermanfaat
MESIR VAN PAPUA JILID IV: MESIRKU SEDANG DINGIN
060611
Tadinya kupikir mesirku (timika pent) hanya bisa panas. Ternyata tidak juga dia juga bisa dingin. Bahkan dinginnya sampai menusuk tulang rasa2nya. Hujan terus menerus dan udaranya menjadi dingin, berkebalikan dengan biasanya yang panas.
Sehingga tidak ada perlu lagi menggunakan kipas angin, padahal benda ini menjadi benda wajib dihari-hari biasanya, tak hanya siang hari, dimalam hari sekalipun.
Saking dinginnya, ada yang bercerita setelah mandi apalagi keramas karena kedinginan dia langsung berselimut untuk menghangatkan badan n ujung2nya ketiduran deh.
Dan mungkin juga karena dingin n hujan yang terus menerus, seorang kawan sampai terserang flu yang akut sampai berhari2, dan titik terparahnya sampai kehilangan suara, kehilangan penciuman, dan meriang2. Ternyata flu kalau sampai akut cukup menyiksa juga, dulu dia sempat heran pada orang yang hanya terserang flu tapi mengeluhnya bukan main. Bukannya flu itu Cuma gitu aja,pikirnya, “hmm ternnyata bisa parah juga ya” pikirnya.
Kini mesirku masih dingin, tapi sepertinya dingin ini akan segera berlalu
Jadi benar2 mirip mesir yang asli, punya da kutub ekstrim, ketika musim panas panasnya bukan main, tapi ketika musim dingin dinginnya sampai menusuk tulang.
NB: ternyata sampai tulisan ini saya posting dinginnya belum juga kabur.
Tadinya kupikir mesirku (timika pent) hanya bisa panas. Ternyata tidak juga dia juga bisa dingin. Bahkan dinginnya sampai menusuk tulang rasa2nya. Hujan terus menerus dan udaranya menjadi dingin, berkebalikan dengan biasanya yang panas.
Sehingga tidak ada perlu lagi menggunakan kipas angin, padahal benda ini menjadi benda wajib dihari-hari biasanya, tak hanya siang hari, dimalam hari sekalipun.
Saking dinginnya, ada yang bercerita setelah mandi apalagi keramas karena kedinginan dia langsung berselimut untuk menghangatkan badan n ujung2nya ketiduran deh.
Dan mungkin juga karena dingin n hujan yang terus menerus, seorang kawan sampai terserang flu yang akut sampai berhari2, dan titik terparahnya sampai kehilangan suara, kehilangan penciuman, dan meriang2. Ternyata flu kalau sampai akut cukup menyiksa juga, dulu dia sempat heran pada orang yang hanya terserang flu tapi mengeluhnya bukan main. Bukannya flu itu Cuma gitu aja,pikirnya, “hmm ternnyata bisa parah juga ya” pikirnya.
Kini mesirku masih dingin, tapi sepertinya dingin ini akan segera berlalu
Jadi benar2 mirip mesir yang asli, punya da kutub ekstrim, ketika musim panas panasnya bukan main, tapi ketika musim dingin dinginnya sampai menusuk tulang.
NB: ternyata sampai tulisan ini saya posting dinginnya belum juga kabur.
MATAPUN DAPAT BERBICARA
060611
Tak selalu harus banyak bergaul dan bertanya untuk tahu kepribadian seseorang. Dengan hanya melihat mata seseorang paling tidak sekilas kita dapat meraba-raba apa yang sedang dirasakan orang itu atau bagimana kepribadiannya. Singkatnya mata juga dapat berbicara dan dapat dibaca. Walaupun tidak selalu 100% benar, karena mungkin “penglihatan” kita yang kabur.
Misalnya saja, dari sekian banyak tatapan mata orang pada kita kita bisa membedakan makna antara tatapan satu dengan lainnya. Antara tatapan mata orang pada kita atau pada orang lain kita bisa meraba-raba apa perasaannya pada kita atau pada orang lain yang ditatapnya. Bisa dibedakan antara tatapan terpesona, menghormati, terintimidasi, takut, merendahkan, atau datar2 saja/ tawar ga berasa de el el. Dengan kesan pertama tersebut kita bisa memilih bagaimana cara bersikap kepada orang2 tersebut.
Begitupun sebaliknya, dengan melihat tatapan mata orang yang berbeda bisa menimbulkan rasa yang berbeda pula. Ada orang yang dengan melihat matanya saja kita sudah merasa terintimidasi, merasa menjadi tidak berkutik. Ada juga orang yang dengan melihat matanya membuat kita kasihan. Ada yang dengan menatap matanya kita merasakan keteduhan. De el el.
Lalu apa pendapat orang2 ketika melihat mata saya ya? Whatever lah
TURUN HARGA
300411
Entahlah apa aku yang terlalu lebay ya?
Apakah wanita yang sudah menikah itu harganya jadi turun ya?
Misalnya saja sebelum menikah mereka biasanya tidak mudah menampakkan p**ud*r*nya, -ini bagi wanita baik2 yang memang tidak biasa begitu- tapi ketika sudah menikah dan punya anak, mudah sekali menampakkan p**ud*r*nya ketika menyusui anaknya, ditempat umum sekalipun , tanpa ada risih sama sekali.
Itu orang awamnya, sedangkan untuk ”akhwat”nya yang biasanya sangat menjaga sikap, bahkan untuk berFBria pun biasanya mereka tidak menyertakan foto, untuk menjaga iffah –walaupun ada juga yang ngakunya akhwat tapi ga kalah narsisnya sama yang bukan akhwat-. Tapi ketika sudah menikah, tidak jarang yang sudah tidak lagi malu2 memasang foto2 mereka di FB, tak lupa foto pernikahan tentunya.
Hmm apakah iffah itu hanya perlu dijaga ketika belum menikah? Apakah setelah menikah iffah itu tidak lagi perlu dijaga? Apakah iffah itu hanya perlu dijaga sebelum menemukan sang pangeran? Apakah iffah dijaga hanya untuk mendapatkan sang pangeran? Entahlah
Entahlah apa aku yang terlalu lebay ya?
Apakah wanita yang sudah menikah itu harganya jadi turun ya?
Misalnya saja sebelum menikah mereka biasanya tidak mudah menampakkan p**ud*r*nya, -ini bagi wanita baik2 yang memang tidak biasa begitu- tapi ketika sudah menikah dan punya anak, mudah sekali menampakkan p**ud*r*nya ketika menyusui anaknya, ditempat umum sekalipun , tanpa ada risih sama sekali.
Itu orang awamnya, sedangkan untuk ”akhwat”nya yang biasanya sangat menjaga sikap, bahkan untuk berFBria pun biasanya mereka tidak menyertakan foto, untuk menjaga iffah –walaupun ada juga yang ngakunya akhwat tapi ga kalah narsisnya sama yang bukan akhwat-. Tapi ketika sudah menikah, tidak jarang yang sudah tidak lagi malu2 memasang foto2 mereka di FB, tak lupa foto pernikahan tentunya.
Hmm apakah iffah itu hanya perlu dijaga ketika belum menikah? Apakah setelah menikah iffah itu tidak lagi perlu dijaga? Apakah iffah itu hanya perlu dijaga sebelum menemukan sang pangeran? Apakah iffah dijaga hanya untuk mendapatkan sang pangeran? Entahlah
NIKMAT PANCA INDERA
01 Juni 2011
Mungkin kita jarang memikirkan betapa pentingnya panca indera yang kita miliki, juga jarang mensyukuri keberadaannya. Karena mereka selalu menyertai kita.
Agar bisa mensyukuri terkadang kita perlu membuat perbandingan dengan saudara2 kita yang panca inderanya tidak berfungsi normal seperti kita. Misalnya; membandingkan penglihatan kita yang normal dibandingkan dengan mereka yang ditakdirkan tidak dapat melihat, kita akan bersyukur karena bisa melihat dunia dengan segala warna-warninya. Begitupun halnya dengan pendengaran, lisan dsb.
Namun mungkin perbandingan itu belum begitu mengena. Dan akan lebih mengena jika kita pernah mengalami sakit yang menyebabkan fungsi panca indera kita hilang atau berkurang sedikit saja, baru kita akan benar2 merasakan betapa nikmatnya panca indera tersebut.
Misalnya saja ketika kita terserang flu berat yang menyebabkan penciuman kita tidak berfungsi, kita memang masih bisa menjalani hidup dengan normal tapi ada yang terasa kurang.
Ketika normal kita mungkin terganggu dengan bau tidak sedap jika mendekat dengan sumber bau. Tapi ketika ada sesuatu yang harum, wangi sabun misalnya atau wangi makanan kita pun bisa menikmatinya.
Berbeda hanya ketika penciuman tak berfungsi, semuanya terasa hambar, mau dekat2 sampah atau dekat makanan enak sensasinya hampir sama saja. Bahkan ketika makan makanan enak, rasanya jadi tidak seenak biasanya, karena yang merasakan enak hanya lidah /indera perasa tanpa disertai penciuman.
Begitupun halnya ketika kita “kehilangan” suara karena flu akut, untuk berbicara saja susah, itupun suaranya jadi tidak semerdu biasanya. Kita jadi sangat hemat berbicara, hanya berbicara yang penting2 saja.
Karena itu kawan, syukurilah nikmat panca indera yang ada padamu, karena tidak semua orang seberuntung kita, memiliki panca indera yang berfungsi sempurna. Bersyukur tentunya tidak hanya sebatas berucap “alhamdulilah” atau segala bentuk ucapan syukur lainnya. Tapi juga memanfaatkan panca indera tersebut untuk hal2 yang baik.
Menggunakan Lisan kita hanya untuk mengucapkan kalimat2 yang baik. Sebisa mungkin menghindari perkataan2 sia2, apalagi sampai menebar perkataan2 haram. Jika memang tak bisa berkata baik lebih baik diam.
Bahkan lisan memegang kunci surga n neraka. Rasul saw bahkan sampai menjanjikan surga bagi yang bisa menjaga farji dan lisannya. Dan karena lisan juga, seseorang bisa memperoleh surga atau bahkan ditelungkupkan ke neraka, hanya karena lisan –yang mungkin dia tidak sadar bahwa ucapannya akan berdampak sebesar itu-
Menggunakan penglihatan kita hanya untuk memandang yang halal2 saja, menghindari segala kesia2an apalagi yang haram. Kita bisa memilih mau menjadikan rabunnya penglihatan kita ketika tua, disebabkan melihat hal2 yang sia2 –membaca majalah2 sampah misalnya- , melihat yang haram, atau melihat yang halal2 –membaca qur’an, membaca buku2 bermanfaat-.
Namun tanpa berniat, terkadang hal2 haram berseliweran di depan kita –aurat2 terbuka misalnya-, tapi beruntung Allah memaafkan pandangan pertama yang tanpa disengaja. Dan untuk menghindari pandangan2 yang haram itu kita diperintahkan untuk “gadhul bashar” (menundukkan pandangan), tidak mengumbar pandangan kita.
Juga pendengaran kita, gunakan untuk mendengar hal2 yang baik, hindari segala bunyi kesia2an apalagi bunyi2 yang jelas2 haram seperti musik misalnya.
Karena semua panca indera kita akan dimintai pertanggungjawaban, mereka akan menjadi saksi untuk apa mereka digunakan.
Alangkah beruntung mereka yang tuli, bisu dan buta. Tuli dari mendengar hal2 yang haram, bisu dari berucap yang haram dan buta dari memandang yang haram.
Tidak heran mengapa kita disunnahkan berdzikir meminta keselamatan badan, pendengaran dan penglihatan tiap pagi dan sore
Mari tutup obrolan kita dengan penggalan firmanNya:
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Fushshilat: 20-22)
Semoga coretan ini bisa membuat kita, khususnya saya sendiri untuk berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan panca indera kita hanya untuk hal2 yang bisa mendatangkan ridhoNya, minimal yang mubah. Dan semoga Allah memaafkan segala dosa yang diperbuat panca indera kita.
*Tulisan ini terinspirasi ketika melihat seseorang terserang flu akut
Mungkin kita jarang memikirkan betapa pentingnya panca indera yang kita miliki, juga jarang mensyukuri keberadaannya. Karena mereka selalu menyertai kita.
Agar bisa mensyukuri terkadang kita perlu membuat perbandingan dengan saudara2 kita yang panca inderanya tidak berfungsi normal seperti kita. Misalnya; membandingkan penglihatan kita yang normal dibandingkan dengan mereka yang ditakdirkan tidak dapat melihat, kita akan bersyukur karena bisa melihat dunia dengan segala warna-warninya. Begitupun halnya dengan pendengaran, lisan dsb.
Namun mungkin perbandingan itu belum begitu mengena. Dan akan lebih mengena jika kita pernah mengalami sakit yang menyebabkan fungsi panca indera kita hilang atau berkurang sedikit saja, baru kita akan benar2 merasakan betapa nikmatnya panca indera tersebut.
Misalnya saja ketika kita terserang flu berat yang menyebabkan penciuman kita tidak berfungsi, kita memang masih bisa menjalani hidup dengan normal tapi ada yang terasa kurang.
Ketika normal kita mungkin terganggu dengan bau tidak sedap jika mendekat dengan sumber bau. Tapi ketika ada sesuatu yang harum, wangi sabun misalnya atau wangi makanan kita pun bisa menikmatinya.
Berbeda hanya ketika penciuman tak berfungsi, semuanya terasa hambar, mau dekat2 sampah atau dekat makanan enak sensasinya hampir sama saja. Bahkan ketika makan makanan enak, rasanya jadi tidak seenak biasanya, karena yang merasakan enak hanya lidah /indera perasa tanpa disertai penciuman.
Begitupun halnya ketika kita “kehilangan” suara karena flu akut, untuk berbicara saja susah, itupun suaranya jadi tidak semerdu biasanya. Kita jadi sangat hemat berbicara, hanya berbicara yang penting2 saja.
Karena itu kawan, syukurilah nikmat panca indera yang ada padamu, karena tidak semua orang seberuntung kita, memiliki panca indera yang berfungsi sempurna. Bersyukur tentunya tidak hanya sebatas berucap “alhamdulilah” atau segala bentuk ucapan syukur lainnya. Tapi juga memanfaatkan panca indera tersebut untuk hal2 yang baik.
Menggunakan Lisan kita hanya untuk mengucapkan kalimat2 yang baik. Sebisa mungkin menghindari perkataan2 sia2, apalagi sampai menebar perkataan2 haram. Jika memang tak bisa berkata baik lebih baik diam.
Bahkan lisan memegang kunci surga n neraka. Rasul saw bahkan sampai menjanjikan surga bagi yang bisa menjaga farji dan lisannya. Dan karena lisan juga, seseorang bisa memperoleh surga atau bahkan ditelungkupkan ke neraka, hanya karena lisan –yang mungkin dia tidak sadar bahwa ucapannya akan berdampak sebesar itu-
Menggunakan penglihatan kita hanya untuk memandang yang halal2 saja, menghindari segala kesia2an apalagi yang haram. Kita bisa memilih mau menjadikan rabunnya penglihatan kita ketika tua, disebabkan melihat hal2 yang sia2 –membaca majalah2 sampah misalnya- , melihat yang haram, atau melihat yang halal2 –membaca qur’an, membaca buku2 bermanfaat-.
Namun tanpa berniat, terkadang hal2 haram berseliweran di depan kita –aurat2 terbuka misalnya-, tapi beruntung Allah memaafkan pandangan pertama yang tanpa disengaja. Dan untuk menghindari pandangan2 yang haram itu kita diperintahkan untuk “gadhul bashar” (menundukkan pandangan), tidak mengumbar pandangan kita.
Juga pendengaran kita, gunakan untuk mendengar hal2 yang baik, hindari segala bunyi kesia2an apalagi bunyi2 yang jelas2 haram seperti musik misalnya.
Karena semua panca indera kita akan dimintai pertanggungjawaban, mereka akan menjadi saksi untuk apa mereka digunakan.
Alangkah beruntung mereka yang tuli, bisu dan buta. Tuli dari mendengar hal2 yang haram, bisu dari berucap yang haram dan buta dari memandang yang haram.
Tidak heran mengapa kita disunnahkan berdzikir meminta keselamatan badan, pendengaran dan penglihatan tiap pagi dan sore
Mari tutup obrolan kita dengan penggalan firmanNya:
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Fushshilat: 20-22)
Semoga coretan ini bisa membuat kita, khususnya saya sendiri untuk berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan panca indera kita hanya untuk hal2 yang bisa mendatangkan ridhoNya, minimal yang mubah. Dan semoga Allah memaafkan segala dosa yang diperbuat panca indera kita.
*Tulisan ini terinspirasi ketika melihat seseorang terserang flu akut
Langganan:
Postingan (Atom)



