oleh Lif Syifa pada 10 Oktober 2011 jam 21:09
Alhamdulillah meskipun hanya beberapa –lebih dari 1 sudah bisa disebut beberapa kan? Meski hanya 2- orang (yang aku tahu), setidaknya ada yang mengendus juga “bau”ku sebenarnya. Walaupun aku tidak pernah menproklamirkan pada mereka, apalah artinya pengakuan, yang hanya sekedar pengakuan tanpa bukti. Salah seorang narasumber menyatakan dia bisa mengendus “bau”ku karena memperhatikan gerak-gerikku, wah berasa dimata-matai nih. Bahkan narasumber lain, tanpa basa-basi langsung main tuding.
Yah, memang perlu penciuman yang tajam agar bisa mengendus dengan benar “bau” seseorang, juga kacamata yang jernih agar tidak salah menilai karena seringkali orang tertipu oleh kemasan atau packaging, padahal tidak selalu kemasan mewakili substansi sebenarnya.
Sebagai contoh saja, jika dulu anda adalah preman, namun sekarang sudah bertaubat dengan taubat nasuha. Tentu anda tidak akan suka jika masih ada yang mengendus “bau” preman pada tubuh anda.
Atau misalnya (hanya contoh, tanpa ada maksud rasisme) anda berasal dari suku jawa, tentu anda pun merasa kurang nyaman jika orang2 mengendus anda sebagai orang papua hanya karena anda berkulit gelap dan tinggal di lingkungan serta berteman dengan orang2 Papua.
Contoh konkretnya; kisah seorang kakak yang diberi buku oleh adiknya, mungkin karena hanya melihat sampulnya sekilas, dia pun buru2 menyimpulkan, kira2 begini dialognya “mambu2 ***** iki (dia menyebut sebuah manhaj)”. Padahal dia salah mengendus tuh.
240911
NB: mungkin aku yang terlalu naif menyangka tak banyak yang mencium, sepertinya memang “bau”ku sudah sedemikian menyengat.
Rabu, 30 November 2011
PANEN SEMANGKA
oleh Lif Syifa pada 10 Oktober 2011 jam 20:39
Catatan ini ditulis dengan sudut pandang seorang anak kelas 2 SD berumur 7 tahun.
Hari jumat lalu (300911) aku bersama teman2 dan ustadz ustadzah pergi ke kebun, tak lupa kami memakai kostum petani lengkap dengan aksesorisnya, seperti caping dan pacul dari kardus, kayu de es be. Setiba disana kami pun mendengarkan instruksi cara menanam bibit semangka yang benar dari Pak Lukito sang empunya kebun. Setelah itu mulailah kami melepas daun yang digunakan membungkus bibit, kemudian menanamnya dengan memasukkan bagian akar bibit itu ke tanah yang sudah dilubangi dan meratakan tanah di sekitarnya. Tangan kami belepotan tanah, bagitupun halnya dengan kaki kami belepotan lumpur. Bahkan ada teman kami yang sendalnya terendam di lumpur.
Selang beberapa menit kemudian kami langsung bisa memanen semangka, hebat bukan? He3, tapi tentunya yang kami panen bukanlah bibit yang barusan kami tanam, melainkan yang sudah ditanam sendiri oleh pak tani beberapa minggu atau bulan yang lalu. Kami memilih dan memanen sendiri semangka yang kami mau, karena kami kecil kami pun memilih semangka yang kecil agar tak keberatan. Seorang temanku –yang memang ringkih- bahkan sampai keberatan dan meminta ustadzah membawakan untuknya, tapi kemudian ustadzah menyuruhnya membawa sendiri karena beliau keberatan sudah membawa semangkanya sendiri yang juga berat. Setelah itu semangka kami timbang dan langsung kami bayar. Ada yang semangkanya 2 kg, 3 kg, bahkan sampai 5 kg dan 6 kg.
Setelah memanen ria kami mencuci tangan di sumur yang berada di area kebun, sebagian berganti pakaian karena bajunya sudah sangat kotor. Jadi seperti kata iklan, “berani kotor itu baik”. Ada juga yang kemudian memakan bekal yang tadi dibawa, ada yang memotong semangkanya dan dimakan ramai-ramai.
Selanjutnya kami bersiap2 melanjutkan perjalanan menuju masjid terdekat untuk sholat jumat. Semangka kami, kami masukkan ke dalam tas hingga berat sekali tas kami dibuatnya. Selepas sholat kami pun mulai kelaparan n kehausan, apalagi bekal kami sudah habis sejak tadi. Dan senang sekali ketika akhirnya makanan kami datang, kami pun makan siang dengan lahapnya. Setelah kenyang, kami membersihkan area masjid dan bersiap2 pulang.
Hari yang melelahkan tapi sekaligus menyenangkan. Sampai berpeluh2, kata upin & ipin ^_^
Catatan ini ditulis dengan sudut pandang seorang anak kelas 2 SD berumur 7 tahun.
Hari jumat lalu (300911) aku bersama teman2 dan ustadz ustadzah pergi ke kebun, tak lupa kami memakai kostum petani lengkap dengan aksesorisnya, seperti caping dan pacul dari kardus, kayu de es be. Setiba disana kami pun mendengarkan instruksi cara menanam bibit semangka yang benar dari Pak Lukito sang empunya kebun. Setelah itu mulailah kami melepas daun yang digunakan membungkus bibit, kemudian menanamnya dengan memasukkan bagian akar bibit itu ke tanah yang sudah dilubangi dan meratakan tanah di sekitarnya. Tangan kami belepotan tanah, bagitupun halnya dengan kaki kami belepotan lumpur. Bahkan ada teman kami yang sendalnya terendam di lumpur.
Selang beberapa menit kemudian kami langsung bisa memanen semangka, hebat bukan? He3, tapi tentunya yang kami panen bukanlah bibit yang barusan kami tanam, melainkan yang sudah ditanam sendiri oleh pak tani beberapa minggu atau bulan yang lalu. Kami memilih dan memanen sendiri semangka yang kami mau, karena kami kecil kami pun memilih semangka yang kecil agar tak keberatan. Seorang temanku –yang memang ringkih- bahkan sampai keberatan dan meminta ustadzah membawakan untuknya, tapi kemudian ustadzah menyuruhnya membawa sendiri karena beliau keberatan sudah membawa semangkanya sendiri yang juga berat. Setelah itu semangka kami timbang dan langsung kami bayar. Ada yang semangkanya 2 kg, 3 kg, bahkan sampai 5 kg dan 6 kg.
Setelah memanen ria kami mencuci tangan di sumur yang berada di area kebun, sebagian berganti pakaian karena bajunya sudah sangat kotor. Jadi seperti kata iklan, “berani kotor itu baik”. Ada juga yang kemudian memakan bekal yang tadi dibawa, ada yang memotong semangkanya dan dimakan ramai-ramai.
Selanjutnya kami bersiap2 melanjutkan perjalanan menuju masjid terdekat untuk sholat jumat. Semangka kami, kami masukkan ke dalam tas hingga berat sekali tas kami dibuatnya. Selepas sholat kami pun mulai kelaparan n kehausan, apalagi bekal kami sudah habis sejak tadi. Dan senang sekali ketika akhirnya makanan kami datang, kami pun makan siang dengan lahapnya. Setelah kenyang, kami membersihkan area masjid dan bersiap2 pulang.
Hari yang melelahkan tapi sekaligus menyenangkan. Sampai berpeluh2, kata upin & ipin ^_^
Selasa, 08 November 2011
keSOMBONGan terselubung
Hmm, dari mana ya memulainya?
Dari sini aja deh, he3...
Sebuah ini cerita tentang “kesombongan terselubung” kalau boleh saya istilahkan begitu. Mungkin terkadang kita lupa bahwa yang disebut dengan sombong, selain merendahkan orang lain, juga tidak mau menerima kebenaran.
Dan seharusnya kita bisa menerima kebenaran, dari manapun datangnya kebenaran itu. Dari orang yang paling “buruk”, dari seorang pendusta atau bahkan dari setan sekalipun. Jika perkataannya benar maka tak ada alasan untuk menolaknya. Kebencian kita padanya tidak boleh menghalangi kita menerima kebenaran yang disampaikannya.
Seperti kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, setan tersebut berkata,
“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”
Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau berkata,
“Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR. al-Bukhari no. 2187)
Dan berdakwah atau menyampaikan kebenaran, tidaklah mensyaratkan kesempurnaan si da’i. Berdakwah adalah satu hal dan mengerjakan (atau tidak) apa yang si da’i dakwahkan adalah hal lain. Berdakwah adalah baik, sedangkan tidak mengerjakan apa yang dia dakwahkan adalah buruk, 2 hal yang berbeda. Seseorang yang belum mengerjakan (perintah) atau meninggalkan (larangan), bukan berarti lantas dia dilarang berdakwah. Bahkan pun sesama pelaku maksiat tetap harus saling menasehati.
Karena di pelosok dunia manapun, kita tak akan menemukan orang yang sempurna tanpa cela. Karena kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa, bukan Nabi atau Rasul yang ma’shum –terpelihara dari dosa-. Dan kalau hanya orang yang sempurna yang boleh berdakwah, maka tidak akan ada amar ma’ruf nahy munkar. Kita bersaudara untuk saling mengisi, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Hingga jadilah masing2 kita adalah cermin bagi lainnya. Sifat cermin adalah jujur, jika dandanan kita sudah bagus maka dia akan mengatakan bagus, jika dandanan kita masih berantakan dia pun akan memberitahukannya pada kita. Dan setelah itu dia pun tak membeberkan keburukan dandanan kita pada orang yang bercermin setelah kita.
Hingga tak perlulah kita mencari-cari kesalahan atau ketidakkonsistenan si da’i terhadap apa yang dia dakwahkan. Walaupun memang, idealnya seseorang yang berdakwah juga mengerjakan apa yang dia dakwahkan.
Dan semoga kita tidak hanya bersemangat mendakwahi orang lain, tapi juga bersemangat didakwahi -menerima kritikan atas kesalahan2 kita-. Seperti filosofi sebuah gelas, agar airnya tidak tumpah ada kalanya si gelas perlu menuangkan isinya, dan agar tidak kosong ada kalanya juga ia perlu menerima air dari gelas lain.
Seharusnya jika memang kita belum mampu mengerjakan suatu perintah atau meninggalkan larangan, lebih baik mengaku saja salah tanpa mencari-cari alasan atau dalil sebagai pembenaran kesalahan kita. Bukankah bermaksiat saja sudah dosa? Maka bagaimana pula jika kita tambahi dengan merekayasa agar kesalahan kita mendapat justifikasi, sehingga kesalahan kita seakan-akan tampak benar? Hendak menipu Allah, orang lain atau diri kita sendiri? Apalagi jika kita adalah orang yang paham atau bahkan mengaku sebagai da’i.
Semoga kita tidak lupa bahwa orang yang dihatinya ada kesombongan sekecil apapun tidak akan bisa masuk surga. Dan kesombonganlah yang membuat iblis merasa “lebih” dari nabi Adam ‘alaihissalam, sebab ia diciptakan dari api, sedangkan nabi Adam ‘alaihissalam dari tanah. Kesombongan pulalah yang menjadi sebab terusirnya iblis dari surga dan menjadi makhluk terkutuk.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Semoga hati-hati kita dilapangkan untuk bisa menerima kebenaran dari manapun datangnya, semoga kita diselamatkan dari sifat sombong, dan semoga kita tidak menjadi orang yang suka merekayasa kesalahan sehingga tampak benar, amin.
Allahu a’lam
Dari sini aja deh, he3...
Sebuah ini cerita tentang “kesombongan terselubung” kalau boleh saya istilahkan begitu. Mungkin terkadang kita lupa bahwa yang disebut dengan sombong, selain merendahkan orang lain, juga tidak mau menerima kebenaran.
Dan seharusnya kita bisa menerima kebenaran, dari manapun datangnya kebenaran itu. Dari orang yang paling “buruk”, dari seorang pendusta atau bahkan dari setan sekalipun. Jika perkataannya benar maka tak ada alasan untuk menolaknya. Kebencian kita padanya tidak boleh menghalangi kita menerima kebenaran yang disampaikannya.
Seperti kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, setan tersebut berkata,
“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”
Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau berkata,
“Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR. al-Bukhari no. 2187)
Dan berdakwah atau menyampaikan kebenaran, tidaklah mensyaratkan kesempurnaan si da’i. Berdakwah adalah satu hal dan mengerjakan (atau tidak) apa yang si da’i dakwahkan adalah hal lain. Berdakwah adalah baik, sedangkan tidak mengerjakan apa yang dia dakwahkan adalah buruk, 2 hal yang berbeda. Seseorang yang belum mengerjakan (perintah) atau meninggalkan (larangan), bukan berarti lantas dia dilarang berdakwah. Bahkan pun sesama pelaku maksiat tetap harus saling menasehati.
Karena di pelosok dunia manapun, kita tak akan menemukan orang yang sempurna tanpa cela. Karena kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa, bukan Nabi atau Rasul yang ma’shum –terpelihara dari dosa-. Dan kalau hanya orang yang sempurna yang boleh berdakwah, maka tidak akan ada amar ma’ruf nahy munkar. Kita bersaudara untuk saling mengisi, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Hingga jadilah masing2 kita adalah cermin bagi lainnya. Sifat cermin adalah jujur, jika dandanan kita sudah bagus maka dia akan mengatakan bagus, jika dandanan kita masih berantakan dia pun akan memberitahukannya pada kita. Dan setelah itu dia pun tak membeberkan keburukan dandanan kita pada orang yang bercermin setelah kita.
Hingga tak perlulah kita mencari-cari kesalahan atau ketidakkonsistenan si da’i terhadap apa yang dia dakwahkan. Walaupun memang, idealnya seseorang yang berdakwah juga mengerjakan apa yang dia dakwahkan.
Dan semoga kita tidak hanya bersemangat mendakwahi orang lain, tapi juga bersemangat didakwahi -menerima kritikan atas kesalahan2 kita-. Seperti filosofi sebuah gelas, agar airnya tidak tumpah ada kalanya si gelas perlu menuangkan isinya, dan agar tidak kosong ada kalanya juga ia perlu menerima air dari gelas lain.
Seharusnya jika memang kita belum mampu mengerjakan suatu perintah atau meninggalkan larangan, lebih baik mengaku saja salah tanpa mencari-cari alasan atau dalil sebagai pembenaran kesalahan kita. Bukankah bermaksiat saja sudah dosa? Maka bagaimana pula jika kita tambahi dengan merekayasa agar kesalahan kita mendapat justifikasi, sehingga kesalahan kita seakan-akan tampak benar? Hendak menipu Allah, orang lain atau diri kita sendiri? Apalagi jika kita adalah orang yang paham atau bahkan mengaku sebagai da’i.
Semoga kita tidak lupa bahwa orang yang dihatinya ada kesombongan sekecil apapun tidak akan bisa masuk surga. Dan kesombonganlah yang membuat iblis merasa “lebih” dari nabi Adam ‘alaihissalam, sebab ia diciptakan dari api, sedangkan nabi Adam ‘alaihissalam dari tanah. Kesombongan pulalah yang menjadi sebab terusirnya iblis dari surga dan menjadi makhluk terkutuk.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Semoga hati-hati kita dilapangkan untuk bisa menerima kebenaran dari manapun datangnya, semoga kita diselamatkan dari sifat sombong, dan semoga kita tidak menjadi orang yang suka merekayasa kesalahan sehingga tampak benar, amin.
Allahu a’lam
TENTANG KACAMATA DAN GAJAH
Ingin sejenak merebahkan tubuh ini, ku coba tuk memejamkan mata namun tak sepicingpun mata ini mau terpejam. Dada ini masih sesak rasanya. Akhirnya kuputuskan menyalakan netbook baruku –he3- dan seperti yang kau baca saat ini, aku mulai memijit tuts keyboard si netbook yang sudah beberapa hari belakangan ini tak kusentuh (hmm, rupanya sampai saat ini aku belum memberinya nama, kira2 apa ya nama yang cocok? “_”? ).
Aih, prolog yang melankolis sekali nampaknya. Tapi tenang kawan, aku tidak sedang ingin menceritakan kisah seseorang yang sedang patah hati karena ditinggal nikah -atau yang lebih tragis- ditinggal mati kekasihnya, seseorang yang sedang kasmaran, atau segala yang berbau merah jambu.
101011Tapi aku akan sedikit berbicara tentang “kacamata”. Hmm apa ya? Jadi bingung.
Aku sadar aku hidup dalam masyarakat yang majemuk, yang berasal dari latar belakang, pemahaman, sudut pandang atau kacamata yang berbeda. Selama tidak bersinggungan –selama lo kagak nyenggol gue, bahasa gaulnya- dan tidak ada sesuatu yang salah i’ts ok lah. Walaupun akan lebih bagus jika kami memiliki kacamata yang sama, sehingga dapat melihat objek yang sama dengan sudut pandang yang sama pula.
Seperti kisah gajah yang dilihat (baca: dipegang) dengan sudut pandang yang berbeda. Yang oleh beberapa orang yang ditutup matanya dan memang sebelumnya belum pernah melihat gajah, masing2 disuruh memegang gajah. Seorang memegang hanya ekor, seorang lainnya memegang belalai, seorang memegang kaki, seorang memegang gading dan seorang memegang telinganya. Jika disuruh mendeskripsikan tentang gajah, tentu masing2 akan mendeskripsikan hal yang berbeda dan hanya bersifat parsial. Akan berbeda hasilnya jika seseorang yang tidak ditutup matanya disuruh memegang sekaligus melihat si gajah, tentu dia akan dapat mendeskripsikan gajah dengan lengkap, detail dan utuh, tidak sepotong2. Duh jadi ngelantur tentang gajah nih.
Namun, jika ada sesuatu yang tidak sesuai –menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya misalnya- tentu menjadi tugas sesama muslim untuk mengingatkan hal itu. Bukankah tidak mungkin peran itu diserahkan pada orang kafir? Apakah bisa dibenarkan jika aku diam saja melihat seorang ibu yang mengenakan baju yang sedemikian kedodoran pada anak bungsunya yang ceking dan di sisi lain mengenakan baju yang begitu kekecilan pada si sulung yang tambun? Tentu tidak bukan.
Tapi memang tak semua orang suka mendengarkan, kebanyakan lebih suka berbicara. Padahal kita diciptakan dengan 2 telinga dan 1 mulut, yang kalau mau dipikir dengan akal-akalan yang dangkal sekalipun kita akan bisa menyimpulkan bahwa semestinya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Ketika aku berusaha mengingatkan dengan bahasa yang sehalus mungkin, dia malah berkomentar “menurut bapaknya; baju si bungsu tidak kedodoran dan baju si sulung juga tidak kekecilan kok”. Hingga aku hanya bisa bergumam “itu kan kata bapaknya, jelas aja matanya bermasalah”. Dan ketika aku baru berucap sepatah dua patah kata, dia langsung menceramahiku panjang lebar, dan mencercaku dengan menyebutkan kesalahan2ku (menurut versi dia tentunya) dan membeberkan semua citra buruk tentangku (yang entah dia kumpulkan dari mana). Hingga seakan2 akulah yang menjadi si bersalah. Akulah yang menjadi si terdakwa yang duduk di kursi pesakitan.
Dan memang katanya seperti yang pernah kudengar; mereka yang masih “bersih” lebih mudah untuk menerima kebenaran jika kebenaran itu disampaikan padanya, bahkan mereka akan berterima kasih sudah ditunjukkan. Berbeda halnya dengan mereka yang sudah terkontaminasi dengan “ideologi” tertentu, mereka akan merasa tahu pdahal salah paham, sehingga ketika disampaikan kebenaran padanya pun mereka akan kekeuh dengan pendiriannya. Dan berdasarkan penelitian kecil-kecilanku itu terbukti!! Yah seperti kisah si ibu tadi yang lebih percaya pada pendapat suaminya, padahal jelas2 suaminya rabun.
Yah begitulah, setidaknya aku sudah menyampaikan apa yang seharusnya kita sampaikan. Karena hanya itu yang bisa ku lakukan, karena aku tak mampu menukar baju si bungsu dengan si sulung, sebab mereka tak berada dalam “kekuasaan”ku, melainkan dalam “kekuasaan” ibunya.
Dan cukup lega sudah bisa mengungkapkan apa yang sudah beberapa bulan ini kupendam, yah daripada jadi bisul (kata orang kalau terlalu lama memendam “rasa” bisa jadi bisul, tapi sepertinya perlu pembuktian lebih lanjut deh, kalau bisul di pikiran mungkin iya sampai mengakar malah), dan walaupun hasilnya tidak memuaskan. Rasanya seperti berhasil mengeluarkan sebongkah batu yang sudah lama mencekat kerongkongan –lebay.com-
Semoga saja si ibu dibuka hatinya untuk bisa segera mengganti kacamatanya yang sudah rusak itu dengan kacamata yang pas agar bisa melihat dengan jelas bahwa baju yang dikenakan pada kedua anaknya tidaklah pas. Dan tak begitu saja percaya pada “pandangan” si bapak yang memang penglihatannya sudah rabun.
Allahu a’lam
NB: kisah tentang si ibu dan aku diatas hanya sekedar ilustrasi, entahlah sepertinya ilustrasi itupun masih belum benar2 mengena.
(Sebenarnya ini nulis ulang, yang harusnya sudah selesai sejak sebelum maghrib (cape’ deh “-_- ) setelah tadi entah bagaimana ceritanya note yang kutulis di ms word langsung ku cut dan ku paste ke catatan di FB en karena loadingnya yang lambat ga ke posting2, di simpan di draft pun tak tersimpan)
Aih, prolog yang melankolis sekali nampaknya. Tapi tenang kawan, aku tidak sedang ingin menceritakan kisah seseorang yang sedang patah hati karena ditinggal nikah -atau yang lebih tragis- ditinggal mati kekasihnya, seseorang yang sedang kasmaran, atau segala yang berbau merah jambu.
101011Tapi aku akan sedikit berbicara tentang “kacamata”. Hmm apa ya? Jadi bingung.
Aku sadar aku hidup dalam masyarakat yang majemuk, yang berasal dari latar belakang, pemahaman, sudut pandang atau kacamata yang berbeda. Selama tidak bersinggungan –selama lo kagak nyenggol gue, bahasa gaulnya- dan tidak ada sesuatu yang salah i’ts ok lah. Walaupun akan lebih bagus jika kami memiliki kacamata yang sama, sehingga dapat melihat objek yang sama dengan sudut pandang yang sama pula.
Seperti kisah gajah yang dilihat (baca: dipegang) dengan sudut pandang yang berbeda. Yang oleh beberapa orang yang ditutup matanya dan memang sebelumnya belum pernah melihat gajah, masing2 disuruh memegang gajah. Seorang memegang hanya ekor, seorang lainnya memegang belalai, seorang memegang kaki, seorang memegang gading dan seorang memegang telinganya. Jika disuruh mendeskripsikan tentang gajah, tentu masing2 akan mendeskripsikan hal yang berbeda dan hanya bersifat parsial. Akan berbeda hasilnya jika seseorang yang tidak ditutup matanya disuruh memegang sekaligus melihat si gajah, tentu dia akan dapat mendeskripsikan gajah dengan lengkap, detail dan utuh, tidak sepotong2. Duh jadi ngelantur tentang gajah nih.
Namun, jika ada sesuatu yang tidak sesuai –menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya misalnya- tentu menjadi tugas sesama muslim untuk mengingatkan hal itu. Bukankah tidak mungkin peran itu diserahkan pada orang kafir? Apakah bisa dibenarkan jika aku diam saja melihat seorang ibu yang mengenakan baju yang sedemikian kedodoran pada anak bungsunya yang ceking dan di sisi lain mengenakan baju yang begitu kekecilan pada si sulung yang tambun? Tentu tidak bukan.
Tapi memang tak semua orang suka mendengarkan, kebanyakan lebih suka berbicara. Padahal kita diciptakan dengan 2 telinga dan 1 mulut, yang kalau mau dipikir dengan akal-akalan yang dangkal sekalipun kita akan bisa menyimpulkan bahwa semestinya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Ketika aku berusaha mengingatkan dengan bahasa yang sehalus mungkin, dia malah berkomentar “menurut bapaknya; baju si bungsu tidak kedodoran dan baju si sulung juga tidak kekecilan kok”. Hingga aku hanya bisa bergumam “itu kan kata bapaknya, jelas aja matanya bermasalah”. Dan ketika aku baru berucap sepatah dua patah kata, dia langsung menceramahiku panjang lebar, dan mencercaku dengan menyebutkan kesalahan2ku (menurut versi dia tentunya) dan membeberkan semua citra buruk tentangku (yang entah dia kumpulkan dari mana). Hingga seakan2 akulah yang menjadi si bersalah. Akulah yang menjadi si terdakwa yang duduk di kursi pesakitan.
Dan memang katanya seperti yang pernah kudengar; mereka yang masih “bersih” lebih mudah untuk menerima kebenaran jika kebenaran itu disampaikan padanya, bahkan mereka akan berterima kasih sudah ditunjukkan. Berbeda halnya dengan mereka yang sudah terkontaminasi dengan “ideologi” tertentu, mereka akan merasa tahu pdahal salah paham, sehingga ketika disampaikan kebenaran padanya pun mereka akan kekeuh dengan pendiriannya. Dan berdasarkan penelitian kecil-kecilanku itu terbukti!! Yah seperti kisah si ibu tadi yang lebih percaya pada pendapat suaminya, padahal jelas2 suaminya rabun.
Yah begitulah, setidaknya aku sudah menyampaikan apa yang seharusnya kita sampaikan. Karena hanya itu yang bisa ku lakukan, karena aku tak mampu menukar baju si bungsu dengan si sulung, sebab mereka tak berada dalam “kekuasaan”ku, melainkan dalam “kekuasaan” ibunya.
Dan cukup lega sudah bisa mengungkapkan apa yang sudah beberapa bulan ini kupendam, yah daripada jadi bisul (kata orang kalau terlalu lama memendam “rasa” bisa jadi bisul, tapi sepertinya perlu pembuktian lebih lanjut deh, kalau bisul di pikiran mungkin iya sampai mengakar malah), dan walaupun hasilnya tidak memuaskan. Rasanya seperti berhasil mengeluarkan sebongkah batu yang sudah lama mencekat kerongkongan –lebay.com-
Semoga saja si ibu dibuka hatinya untuk bisa segera mengganti kacamatanya yang sudah rusak itu dengan kacamata yang pas agar bisa melihat dengan jelas bahwa baju yang dikenakan pada kedua anaknya tidaklah pas. Dan tak begitu saja percaya pada “pandangan” si bapak yang memang penglihatannya sudah rabun.
Allahu a’lam
NB: kisah tentang si ibu dan aku diatas hanya sekedar ilustrasi, entahlah sepertinya ilustrasi itupun masih belum benar2 mengena.
(Sebenarnya ini nulis ulang, yang harusnya sudah selesai sejak sebelum maghrib (cape’ deh “-_- ) setelah tadi entah bagaimana ceritanya note yang kutulis di ms word langsung ku cut dan ku paste ke catatan di FB en karena loadingnya yang lambat ga ke posting2, di simpan di draft pun tak tersimpan)
Jumat, 30 September 2011
ISLAMI YANG TAK ISLAMI??
Dalam strategi pemasaran, packaging atau pengemasan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap laris tidaknya suatu produk. Dan begitupun halnya dalam pemasaran produk maksiat dan bid’ah, seringkali packagingnya dibuat semenarik mungkin hingga berhasil mengelabui pelanggan, atau mantan pelanggan yang tadinya sudah tak mengkonsumsi produk maksiat itu, agar kembali menjadi pelanggan.
Musik islami
Ambil contoh saja, musik yang –jika kita mau jujur- hukumnya adalah haram, namun jika musik itu dikemas dengan lagu-lagu yang syairnya islami, penyanyinya memakai baju koko (laki-laki) dan berjilbab (perempuan) –dengan jilbab ala kadarnya tentu- mereka2 yang tak tahu hukum musik akan menggandrunginya. Dan seakan-akan jadilah jenis hiburan yang satu ini menjadi halal.
Bukan hanya status haramnya musik ini yang menjadi masalah, tak jarang dalam “musik islami” ini syair2nya mengandung bidah, sebut saja contohnya lagu2 shalawatan –yang lafadz shalawatnya tidak pernah diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam-, atau bahkan yang isi syairnya menyimpang.
Adapun nasyid –syair saja tanpa diiringi musik- boleh2 saja sebenarnya jika memenuhi syarat2nya, yaitu:
- Tanpa musik
- Isinya tidak menyimpang
Isinya mengajak mengingat Allah, mencintai Islam de es be. Dan tidak mengajak kepada kemaksiatan dan penyimpangan.
- Dibawah Al quran
Tidak berlebihan, cukuplah sesekali ketika jenuh atau untuk penyemangat, serta jangan sampai kegemaran pada nasyid melebihi kegemaran pada Al Qur‘an
- Cara penyampaiannya tidak seperti orang2 fasiq, misalnya dengan joget2 ga jelas.
Para sahabat pun pernah menyenandungkan syair, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak melarangnya. Bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam pun menyenandungkan nasyid ketika sedang membangun masjid nabawi. Juga ketika menggali parit untuk perang khandaq, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu anhum saling bersahut-sahutan nasyid.
Produk riba -dan turunannya- beserta kawan2nya.
Kalu dulu produk2 riba dijual dengan menggunakan wajah dan nama aslinya, transparan tanpa ditutup2i. Namun seiring meningkatnya kesadaran umat akan agamanya, mereka pun semakin selektif, termasuk dalam hal2 yang berbau riba.
Dan kini marak beredar produk2 “ekonomi“ yang berlabel syariah, tapi apa benar label itu mewakili substansi
sesungguhnya? Kalau kita mau menelusuri produk2 (berlabel) syariah tersebut, ternyata banyak sekali yang hanya merubah nama menjadi nama2 islami, sedangkan secara esensi akadnya tak beda dengan sebelumnya, tanaman uang yang berbunga riba.
Sebut saja diantaranya adalah produk2 perbankan berlabel syariah, yang secara nama akadnya (mudharabah, musyarakah, murabahah) adalah benar ada dalam sistem ekonomi islam, dibahas panjang lebar oleh para ulama, dan ada tuntunannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun yang jadi masalah adalah jika nama itu hanya sekedar nama, tanpa penerapan yang benar. Begitupun halnya dengan KPR, asuransi, de el el yang seringkali hanya memasang label syariah.
Perayaan2 islami
Umat islam sekarang punya banyak sekali perayaan2 yang diabadikan dalam kalender dan dijadikan hari libur nasional, padahal hari raya kita sebenarnya hanya ada dua; idul fitri dan idul adha.
Sebut saja diantaranya; tahun baru hijriyah, maulid nabi, isra’mi’raj, nuzulul qur’an, de el el. Yang oleh para penggemarnya, mereka mengklaim seorang tokoh besar Islam sebagai pelopor salah satu perayaan itu. Tapi apakah benar demikian?? Kalau seandainya benar pun, bukankah semua perkataan manusia bisa diterima dan ditolak, kecuali perkataan Rasulullah shalallahu ‚alaihi wasallam??
_____
Thus, kita benar2 harus jeli dalam memilih, nama yang isami saja tak cukup, perlu kita telusuri hakikat “produk“ itu sesungguhnya. Apakah benar islami ataukah islami bohongan. Untuk itu kita perlu ilmu dan kacamata yang jernih agar tidak mudah dikelabui.
Namun jangan juga apatis terhadap segala yang berlabel syariah, jika memang benar2 syariah ya kita konsumsi, jika tidak ya buang saja.
Jangan sampai kita mengikuti jejak yahudi yang mencoba mengelabui Allah dengan mengutak-atik syariat, sehingga seakan2 yang haram tampak menjadi haram.
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, sehingga kalian menghalalkan hal;-hal yang diharamkan Allah dengan sedikit tipu muslihat." (Riwayat Ibnu Batthah dan dihasankan oleh Ibnu Katsir serta disetujui oleh al-Albani)
Segala yang marak dan ladzim di masyarakat bukanlah dalil bahwa sesuatu itu benar menurut syariat, karena dalil benar tidaknya sesuatu adalah sesuai atau tidaknya dengan Al Qur’an dan sunnah. Sehingga ketika kebenaran sesungguhnya terungkap dihadapan kita, walaupun terasa aneh dan asing (karena kedangkalan ilmu kita) kita harus menerimanya dengan lapang dada.
Bukankah jika kita berselisih, harus dikembalikan pada Al Qur‘an dan sunnah?? Dan jika kita mengaku beriman harus menjadikan rasul sebagai pemutus perkara?? Jadi, seharusnya ada lagi alasan untuk ngeyel.
Allahu a’lam, semoga bermanfaat
Musik islami
Ambil contoh saja, musik yang –jika kita mau jujur- hukumnya adalah haram, namun jika musik itu dikemas dengan lagu-lagu yang syairnya islami, penyanyinya memakai baju koko (laki-laki) dan berjilbab (perempuan) –dengan jilbab ala kadarnya tentu- mereka2 yang tak tahu hukum musik akan menggandrunginya. Dan seakan-akan jadilah jenis hiburan yang satu ini menjadi halal.
Bukan hanya status haramnya musik ini yang menjadi masalah, tak jarang dalam “musik islami” ini syair2nya mengandung bidah, sebut saja contohnya lagu2 shalawatan –yang lafadz shalawatnya tidak pernah diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam-, atau bahkan yang isi syairnya menyimpang.
Adapun nasyid –syair saja tanpa diiringi musik- boleh2 saja sebenarnya jika memenuhi syarat2nya, yaitu:
- Tanpa musik
- Isinya tidak menyimpang
Isinya mengajak mengingat Allah, mencintai Islam de es be. Dan tidak mengajak kepada kemaksiatan dan penyimpangan.
- Dibawah Al quran
Tidak berlebihan, cukuplah sesekali ketika jenuh atau untuk penyemangat, serta jangan sampai kegemaran pada nasyid melebihi kegemaran pada Al Qur‘an
- Cara penyampaiannya tidak seperti orang2 fasiq, misalnya dengan joget2 ga jelas.
Para sahabat pun pernah menyenandungkan syair, dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak melarangnya. Bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam pun menyenandungkan nasyid ketika sedang membangun masjid nabawi. Juga ketika menggali parit untuk perang khandaq, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu anhum saling bersahut-sahutan nasyid.
Produk riba -dan turunannya- beserta kawan2nya.
Kalu dulu produk2 riba dijual dengan menggunakan wajah dan nama aslinya, transparan tanpa ditutup2i. Namun seiring meningkatnya kesadaran umat akan agamanya, mereka pun semakin selektif, termasuk dalam hal2 yang berbau riba.
Dan kini marak beredar produk2 “ekonomi“ yang berlabel syariah, tapi apa benar label itu mewakili substansi
sesungguhnya? Kalau kita mau menelusuri produk2 (berlabel) syariah tersebut, ternyata banyak sekali yang hanya merubah nama menjadi nama2 islami, sedangkan secara esensi akadnya tak beda dengan sebelumnya, tanaman uang yang berbunga riba.
Sebut saja diantaranya adalah produk2 perbankan berlabel syariah, yang secara nama akadnya (mudharabah, musyarakah, murabahah) adalah benar ada dalam sistem ekonomi islam, dibahas panjang lebar oleh para ulama, dan ada tuntunannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun yang jadi masalah adalah jika nama itu hanya sekedar nama, tanpa penerapan yang benar. Begitupun halnya dengan KPR, asuransi, de el el yang seringkali hanya memasang label syariah.
Perayaan2 islami
Umat islam sekarang punya banyak sekali perayaan2 yang diabadikan dalam kalender dan dijadikan hari libur nasional, padahal hari raya kita sebenarnya hanya ada dua; idul fitri dan idul adha.
Sebut saja diantaranya; tahun baru hijriyah, maulid nabi, isra’mi’raj, nuzulul qur’an, de el el. Yang oleh para penggemarnya, mereka mengklaim seorang tokoh besar Islam sebagai pelopor salah satu perayaan itu. Tapi apakah benar demikian?? Kalau seandainya benar pun, bukankah semua perkataan manusia bisa diterima dan ditolak, kecuali perkataan Rasulullah shalallahu ‚alaihi wasallam??
_____
Thus, kita benar2 harus jeli dalam memilih, nama yang isami saja tak cukup, perlu kita telusuri hakikat “produk“ itu sesungguhnya. Apakah benar islami ataukah islami bohongan. Untuk itu kita perlu ilmu dan kacamata yang jernih agar tidak mudah dikelabui.
Namun jangan juga apatis terhadap segala yang berlabel syariah, jika memang benar2 syariah ya kita konsumsi, jika tidak ya buang saja.
Jangan sampai kita mengikuti jejak yahudi yang mencoba mengelabui Allah dengan mengutak-atik syariat, sehingga seakan2 yang haram tampak menjadi haram.
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, sehingga kalian menghalalkan hal;-hal yang diharamkan Allah dengan sedikit tipu muslihat." (Riwayat Ibnu Batthah dan dihasankan oleh Ibnu Katsir serta disetujui oleh al-Albani)
Segala yang marak dan ladzim di masyarakat bukanlah dalil bahwa sesuatu itu benar menurut syariat, karena dalil benar tidaknya sesuatu adalah sesuai atau tidaknya dengan Al Qur’an dan sunnah. Sehingga ketika kebenaran sesungguhnya terungkap dihadapan kita, walaupun terasa aneh dan asing (karena kedangkalan ilmu kita) kita harus menerimanya dengan lapang dada.
Bukankah jika kita berselisih, harus dikembalikan pada Al Qur‘an dan sunnah?? Dan jika kita mengaku beriman harus menjadikan rasul sebagai pemutus perkara?? Jadi, seharusnya ada lagi alasan untuk ngeyel.
Allahu a’lam, semoga bermanfaat
MEMERAM RASA
“memeram rasa yang menyesakkan dada” kata seorang kawan. “ha3, sejak kapan kau jadi melankolis begitu kawan??” jawabku
Dari mana ya saya memulainya. Susah memang jika sudah menyangkut perasaan. Tak perlulah kita “menggangu” orang yang mungkin kita suka atau sekedar “enjoy” jika dekat dengannya, bukannya apa2, bisa jadi niat kita yang hanya sekedar iseng menjadikan dia GR, dan mengakibatkan runtuhnya pertahanan hati seseorang yang mungkin berusaha dengan keras ia jaga.
Tak perlulah kita merecoki hati dan pikirannya, yang mungkin sudah sangat sibuk dengan banyak hal.
Tak perlulah kita memberi harapan2 kosong padanya, karena tak ada seorangpun yang tau siapa yang ditakdirkan untuknya.
Dan belum lagi rentetan2nya yang mungkin terjadi, bukankah terjadinya zina itu -na’udzubillah- mulanya berasal dari hal2 yang dianggap sepele. Kalaupun tidak sampai separah itu, siapa yang bisa menjamin tidak akan timbul “zina2 kecil” lainnya –zina mata misalnya-.
Dan dosa2 lain yang mungkin timbul karenanya, -khalwat terselubung misalnya-.
Dan yang pasti, segala yang dinikmati sebelum waktunya tidak akan terasa nikmat.
Yang diganggupun harus tegas. Waspadai pria2 penebar pesona -bagaimanapun bentuknya- pembuat GeeR kaum hawa. Kalau perlu kampanyekan program GOMBAL WARNING!!!, biar saingan sama slogan global warming sekalian.
Kalaupun terselip “rasa” untuknya, cukuplah cintai ia dalam diam –meminjam istilah seorang kawan-. Seperti Fatimah radhiyallahu anha yang mengagumi sosok Ali radhiyallahu anhu, namun tak pernah ditampakkan dengan ucapan, perbuatan de el el. Yang di kemudian hari, Fatimah radhiyallahu anha menyatakan bahwa di masa lajangnya dia pernah mengagumi seseorang yang tak lain adalah suaminya sendiri. Hmm, so sweet ^^.
Lagipula, apa yang ditulis untuk kita pasti akan sampai pada kita, begitupun sebaliknya apa yang tidak ditulis untuk kita tak akan nyasar ke kita, bagaimanapun besarnya usaha kita.
Dan semestinya kita bersikap “jantan”, kalau memang benar suka dan yakin si dia baik untuk kita, lakukan saja hal yang bisa menghalalkan apa yang tadinya haram, lagi2 seperti kisah Ali radhiyallahu anhu yang memberanikan diri datang ”mengajukan diri” pada Rasulullah shalalllahu ‘alaihi wasallam, padahal sebelumnya sudah ada dua “orang besar” – Abu bakar dan Umar radhiyallahu anhum- datang dan ditolak. Surprise, ternyata Ali-lah pemenangnya.
Wanitapun tak ada salahnya “mengajukan diri” dengan cara2 yang benar tentu, tak ada cela dalam hal ini. Atau inisiatif wali sendiri yang mencarikan pasangan untuk anaknya, seperti Umar radhiyallahu anhu yang mencarikan suami untuk anaknya hafshah radhiyallahu anha yang menjanda ketika itu.
Hmm, saya tutup saja dengan kata2 dari seorang teman:
“Muhasabah cinta: Tak pernah dia Dia perbolehkan cinta kita bersemi sebelum waktunya. Maka, tak perlulah berharap dan memberi harapan pada dia yang belum tentu Dia takdirkan untuk kita. Allah bukan tak punya alasan mengapa hati kita harus terjaga dari cinta sebelum waktunya. Karena Dia tak ingin kita berdosa, kecewa dan terluka. Adakah kita menyadarinya?”
Allahu a’lam, semoga bermanfaat ^^
INDAHNYA MENDIDIK
Kalau kata pepatah, mendidik anak2 bagi mengukir diatas batu, memang sulit tapi hasilnya akan membekas dan terbawa sampai dia besar .
Meskipun susah, butuh kesabaran memang. Ada kalanya mereka trlihat malas atau tak mendengar perkataan kita, tapi ternyata apa yang kita ajarkan terekam dalam memori mereka.
Dan mendidik juga bermanfaat secara langsung bagi si pendidik, ada kalanya ketika dia khilaf, “anak didik”nya akan menjadi orang pertama yang menegurnya. Sehingga dia tidak terlena oleh kesalahannya akibat ketiadaan si penegur.
Seperti cerita seorang teman, -yah disini saya hanya menceritakan-
Ketika dia masuk kelas dan karena suatu hal dia tidak memakai kaos kaki, langsung ditegur murid2 (yang masih duduk di bangku kelas 2 SD) dengan hadits –kalau tidak salah- (bahasa arab plus artinya) yang kira2 artinya: “sesungguhnya kita dilarang menampakkan aurot kita”. Dan saya hanya bisa berucap subhanallah ^^
Juga kisah seorang kakak yang selalu mengajarkan adik sepupunya yang baru berusia 3 tahun untuk selalu mengucapkan “bismillah” sebelum makan dan mimun. Dan ketika si kakak menyeruput susunya tanpa terdengar olehnya ucapan “bismillah, langsung ditegurnya: “baca bismillah yang keras, baca yang baik”. He3, hanya bisa tersenyum.
Mari mendidik!!
Allahu a’lam, semoga bermanfaat
Meskipun susah, butuh kesabaran memang. Ada kalanya mereka trlihat malas atau tak mendengar perkataan kita, tapi ternyata apa yang kita ajarkan terekam dalam memori mereka.
Dan mendidik juga bermanfaat secara langsung bagi si pendidik, ada kalanya ketika dia khilaf, “anak didik”nya akan menjadi orang pertama yang menegurnya. Sehingga dia tidak terlena oleh kesalahannya akibat ketiadaan si penegur.
Seperti cerita seorang teman, -yah disini saya hanya menceritakan-
Ketika dia masuk kelas dan karena suatu hal dia tidak memakai kaos kaki, langsung ditegur murid2 (yang masih duduk di bangku kelas 2 SD) dengan hadits –kalau tidak salah- (bahasa arab plus artinya) yang kira2 artinya: “sesungguhnya kita dilarang menampakkan aurot kita”. Dan saya hanya bisa berucap subhanallah ^^
Juga kisah seorang kakak yang selalu mengajarkan adik sepupunya yang baru berusia 3 tahun untuk selalu mengucapkan “bismillah” sebelum makan dan mimun. Dan ketika si kakak menyeruput susunya tanpa terdengar olehnya ucapan “bismillah, langsung ditegurnya: “baca bismillah yang keras, baca yang baik”. He3, hanya bisa tersenyum.
Mari mendidik!!
Allahu a’lam, semoga bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)






