Kamis, 01 Desember 2011

CURHAT YANG TERTUNDA

oleh Lif Syifa pada 15 November 2011 jam 19:26

Pernah tidak kamu merasakan ketika sedang bahagia meluap2, sedih hingga air mata berderai2 atau kesal meledak2 dan ingin sekali berbagi pada seorang kawan (baca: curhat), namun karena satu dan lain hal kamu tak dapat langsung bertemu dan curhat padanya, baru beberapa hari kemudian kamu bisa bertemu dan curhat. Ibarat masakan dah ga “panas” lagi, dah ga dapet feelnya. Wajar aja, meluap2nya kemarin curhatnya baru hari ini ketika kita sudah “dingin”.


Begitupun, ketika suatu saat aku ingin sekali berceloteh (lewat tulisan) tentang apa saja yang sedang hangat2nya ketika itu, namun karena tak sempat (tak ada waktulah, ada waktu tapi tak ada saranalah (netbi), atau ada waktu dan sarana tapi keadaannya tak memungkinkan) hingga akhirnya hanya bisa tersimpan beberapa keyword sebagai note di hp atau di netbi dan beberapa hari kemudian baru tersalurkan, tetap bisa tertulis memang, tapi udah ga dapet feelnya, ibarat makan bakso yang sudah dingin, kurang siip. Hmm, apalagi inspirasi itu sering datang di saat2 tak terduga. Dan kalau aku diberi waktu libur seminggu saja, dari pekerjaan sekolah n pekerjaan rumah (PR kalee, jadi berasa anak sekolahan) ,mungkin enak kali ya, bisa dengan tenang menyalurkan uneg2ku semuanya pada waktunya.



Jadi pengen punya iPhone atau iPad yang bisa dibawa kemana-mana, bahasa kerennya apa ya? aku lupa (o iya, portable) dan bisa digunakan kapan pun, praktis en ga ribet. Ada yang bersedia memberikanya sebagai hadiah? Kalau ada aku pasti senang sekali. he3, ngarep.com. ^^

SEKALI (LAGI) TENTANG BAU

oleh Lif Syifa pada 12 Oktober 2011 jam 19:46

Kali ini saya ingin berbicara (baca: menulis) lagi2 tentang bau, tapi bukan lagi “bau” dalam arti kiasan, melainkan bau yang sebenarnya.



Hmm, ketika kita sedang sakit entah mengapa (mungkin ada yang bisa menjelaskan?) bau badan kita tidak seperti biasanya (sebenarnya ini pengalaman pribadi). Mungkin biasanya bau kecut (bagi yang merasa,he3) tapi ketika sakit baunya benar2 beda, apa mungkin pengaruh reaksi metabolisme tubuh kita yang tak normal seperti biasa ya? atau karena efek obat2an yang kita minum, yang menguap lewat keringat? Entahlah. Atau ku tanyakan saja jawabnya pada rumput yang bergoyang? Ah ku rasa dia tak akan mau menjawab (mulai eror deh).



Ngomong2 soal sakit, mungkin sebagian dari kita kalau sakit ada yang suka ngomel2 dan menggerutu ga jelas, padahal kalau kita tau keutamaan sakit mestinya kita bersyukur udah sakit.



Diantara keutamaan sakit adalah:

1. Sebagai pelebur dosa2
2. Mengingatkan akan dosa2
3. Meninggikan derajat
4. Menambah pahala
5. Saatnya Ibadah hati berupa sabar, de el el

Tentunya semua keutamaan itu berlaku dengan syarat kita sabar menghadapi sakit itu.



Meskipun demikian kita tetap dianjurkan untuk berobat (hmm, sebenarnya saya pribadi paling malas berhubungan dengan yang namaya “dokter”), “tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obat untuk penyakit itu” (HR. Bukhari). Lalu apa saja ya doa2 (ruqyah syar’iyah, sebagian kita mungkin menyangka ruqyah hanya untuk orang kesurupan, padahal tidak demikian) untuk orang sakit? Bagaimana kiat2 supaya sabar? N apa lagi kabar gembira bagi orang sakit dan tertimpa musibah? Terus apa lagi ya? de el el deh Temukan jawabannya di:

http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Kado%20Istimewa%20untuk%20Orang%20Sakit%20dan%20Tertimpa%20Musibah




O ya, ada juga buku bagus nih, judulnya “KEDOKTERAN NABI shalallahu ‘alaihi wasallam, Antara Realitas dan Kebohongan” terbitan shafa publika, karya Ustadz Abu Umar Basyier, penulis terkenal itu (penulis favoritku juga, he3)



Allahu a’lam, semoga bermanfaat

SIFAT SHALAT DAN WUDHU NABI shallallahu ‘alaihi wasallam (LAGI)

oleh Lif Syifa pada 12 Oktober 2011 jam 8:48

WORO2:
Alhamdulillah, silakan download penjelasan dari dua buah buku kecil dengan judul:




1. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin
2. Sifat Wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin



Kajian ini disampaikan oleh Al Ustadz Abdullah Hadrami hafizhahullah. Semoga kajian yang beliau sampaikan bermanfaat. Silakan download pada link berikut:



http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Kajian%20Buku%20Sifat%20Sholat%20dan%20Wudhu%20Nabi



NB: alangkah lebih baiknya jika bukunya dimiliki terlebih dahulu

Tentang ULTAH dan LOLAnya si processor

oleh Lif Syifa pada 10 Oktober 2011 jam 22:59

Berkoar-koar berteori memang mudah, namun prakteknya tak selalu semudah teorinya. Beberapa jam lalu aku ditelpon ortu siswa, beliau mengatakan besok akan membawa kue ke sekolah sekitar jam 11, dan bertanya apakah tidak mengganggu, karena besok anaknya berusia tepat 7 tahun. Karena begitu cepat dan mendadak –tanpa ada jeda waktu bagiku untuk berpikir- aku mengiyakan saja permohonannya. Beliau juga sempat sms bertanya jumlah siswa kelas 2, yang terdiri dari 2 kelas.




-Dan memang biasanya jika aku ditohok tiba2 dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang memojokkan aku akan refleks mengelak, padahal setelah dipikir2 kadang pernyataan itu memang benar, begitupun sebaliknya (seperti contoh diatas), sepertinya ini yang dalam bahasa psikologinya disebut reaktif. Dan biasanya hasil dari respon yang refleks itu selalu tidak memuaskan hingga geram aku dibuatnya, tapi kalau kupikir2 dulu secara mendalam biasanya dah keburu telat, au’ ah gelap. Hmm Kayaknya processor otakku perlu kecepatan lebih deh, biar loadingnya ga lambat (kalau diibaratkan komputer entah pentium berapa ya? mengenaskan sekali), biar cepat memproses pesan dan memberi reaksi yang tepat, dan sepertinya –lagi- inilah yang disebut proaktif-




Namun setelah percakapan itu ditutup, akupun berpikir bagaimana caranya aku mencegah acara ultah besok. Akhirnya kukirimkan saja sms, “maaf bu merayakan ultah itu bukan budaya Islam. Sepertinya berasal dari barat, dan kita dilarang menyerupai suatu kaum. Tapi kalau ibu sudah terlanjur pesan kue, ya diniatkan berbagi rizki aja, insya Allah semoga ga pa2”



Kalau aku di posisi siswa, mudah saja, aku tidak usah masuk sekolah agar aku tak menyaksikan acara ultah itu. Tapi karena aku di posisi yang berbeda –guru- tentu aku aku harus bertindak untuk mencegah hal itu terjadi.



Hmm, semoga aku bisa mencegah apa yang harus aku cegah, mendakwahkan apa yang harus aku dakwahkan dan memperbaiki apa yang harus aku perbaiki , mudahkanlah ya Allah, amin.



Tapi BTW, smsku kok ga dibales2 y?? Dah terkirim belum sih? -_-?



091011

About TEACHER and CHILDREN WORLD (LASKAR LEBAH PART 2)

oleh Lif Syifa pada 6 November 2011 jam 21:03

Frase "children world" ini sebenarnya nyontek dari seorang teman, karena keren aja menurutku, he3. Boleh ya?



-Children-

Hmm, ingin kembali menceritakan mereka.



Mukhlis si pemaluMukhlis yang sebelumnya tak pernah mau memimpin doa bahkan suatu ketika dia sampai mau menangis ketika terus kudesak, ketika kuterapkan metode bergilir hingga semua siswa kebagian maju, ketika tiba gilirannya dia mau maju dengan suka rela, tanpa perlu dibujuk atau dipaksa. Namun dia masih belum bersedia menjadi imam sholat, sepertinya perlu juga diterapkan metode ini. (Ternyata setelah digilir pun, dia tetap tak mau menjadi imam, sampai menangis bahkan)



Wahyu cukup pandai pelajaran berhitung, namun ketika kusuruh mengerjakan soal non hitungan, dia terus mendatangiku minta dibacakan soalnya, dia beralasan kalau membaca sendiri akan lama. Ketika kutanyakan jangan2 dia belum bisa membaca, kemudian ku tes ternyata dia bisa tapi memang lama seperti katanya.



wahyu si muka bayiO ya waktu itu aku sudah pernah bercerita bahwa wajah si wahyu lucu bukan? Dan hari itu (261011) ada seorang anak yang meledeknya dengan menyebut wajahnya seperti bayi, -he3 benar juga ya- dia pun kesal dengan ledekan itu, kukatakan untuk membelanya “bagus to baby face”, namun nampaknya dia tak paham maknanya.



AjiAji, hmm entah dia tertarik sekali mempertanyakan statusku, seingatku sudah 3 kali. Suatu ketika, Aji bertanya “ustadzah sudah ada suaminya?” ku jawab dengan menahan tawa, “belum”. Yang lain menimpali ”berarti ustadzah masih muda”. He3, sederhana sekali cara mereka menarik kesimpulan.



Si Mauas; entahlah, tak pernah terlihat senang jika kupanggil dengan nama aslinya entah itu Abu Bakar, Umar ataupun Usman. Dia lebih ridho jika dipanggil dengan singkatan namanya; mauas.



Mauas dengan jidat kanannya yang hitam karena penghapusMauas yang emang dari sononya udah berkulit gelap, eh oleh seorang guru –yang mungkin karena ribut- mukanya malah dilap pakai penghapus (di sekolah kami memakai white board) alhasil mukanya yang sudah gelap ditambahi lagi dengan goresan hitam, black and black deh. Maksud hati mau memfotonya, apa daya hp yang kualitas kameranya sudah tak bagus pake ditambah2i eror lagi, yah ga dapet gambarnya deh.



BTW, ngomong2, hari ini (311011) banyak anak yang mukanya di make up pakai penghapus, macam2lah rupa mereka lucu2, tapi menurutku mauas lah yang paling lucu.



Hmm, faiz juga cukup lucu udah rambutnya potongan TNI, wajahnya coreng moreng pula, siip deh.



Ihsan si ndut yang temperamenIhsan yang berkulit putih, kontras sekali ketika wajahnya ada coreng moreng hitamnya.



Faiz dengan rambut ala TNInyaOh iya, hari ini ada yang rambutnya baru lo, faiz rambutnya dipotong bak potongan seorang TNI, lain lagi dengan vickar rambutnya dipotong sih tapi cuma bagian bawahnya sementara atasnya tetap panjang jadi mirip batok kelapa.



Kamis lalu (201011) kelasku menang lomba membuat sarapan dengan bahan dasar roti tawar. Perlombaannya dibagi dua; kelas 1-3 membuat sarapan dari roti, kelas 4-6 membuat nasgor. Dan dari total peserta untuk kategori roti tawar sebanyak 7 kelas, kelasku berhasil mendapat juara 2, padahal mereka menghias roti dengan kreasinya sendiri –aku hanya membantu tetek bengeknya -. Roti yang ku pilih untuk dinilai adalah kreasi Shinta dan Deva, Deva membuat roti berbentuk wajah dengan sosis sebagai pelengkap utama. Sedang Shinta menghias roti dengan keju yang dibentuk menyerupai love. Dan hari ini (241011) hadiahnya dibagikan, isinya sosis dan wafer, senang sekali mereka mendapatkannya.



Imron yang gemar dan pandai mengaji, tak hanya senang membaca al quran dari mushafnya, diapun gemar melantunkan surat2 dari al quran, hmm kebiasaan yang sangat baik dan perlu dibudayakan daripada sibuk melantunkan lagu2 “ga nggenah”. Dan kudengar dia adalah salah satu siswa yang mendapat bantuan dari yayasan untuk sekolah gratis di sekolah tempatku mengajar ini, dia berasal dari keluarga kurang mampu (kebanyakan yang bersekolah disini memang dari kalangan menengah ke atas, orang sekelas imron tentu tak mampu membayar sppnya yang lumayan). Ketika ada hal2 yang perlu diberitahukan pada ortu yang kadangkala disampaikan melalui sms, ortunya seringkali tak mendapatkan info itu, bagaimana tidak hp saja beliau tak punya, sebuah benda yang saat ini sudah menjadi barang lumrah. Kala itu ketika dia tak membawa buku cetak karena memang dia tak punya, dan kusuruh membeli, diapun menjawab bahwa dia tak ada uang untuk membeli. Mungkin karena semua hal itu rasanya aku sayang sekali padanya –atau mungkin lebih tepatnya kasihan-. Diapun kerap mengatakan dia selalu bangun sejak dini hari. Dan sebelum ku tau semua itu, sejak kejadian dia dicurigai kesurupan aku mulai “tertarik” padanya.





Fajri yang mata n mulutnya seringkali membulat





Fajri, sosok yang mungil dan raut wajahnya yang innocent dan lucu karena seringkali mata dan mulutnya membulat membentuk huruf O, ditambah lagi caranya memakai tas ransel yang kepanjangan hingga lututnya, tidak tampak seperti anak yang “jago”, tapi ketika dia berkelahi dengan fidhal –aku cukup kaget juga melihat mereka berkelahi, brutal sekali- fidhal sampai menangis dan tampak babak belur dibuatnya, sementara dia tidak tampak terluka sedikitpun dan tampak sangat kuat dan sangar. (hmm, memang seseorang yang tampak ringkih, lemah dan tak meyakinkan belum tentu dia tak jago, begitupun sebaliknya orang yang tampak sangar dan berbadan besar belum tentu jago. Bukankah biasanya yang menjadi superhero, di kehidupan normalnya seringkali tampak lemah, culun, konyol de se be bukan? hingga wajar sosoknya tak pernah dilirik pasangan jenisnya, namun ketika berubah menjadi superhero akan banyak yang tertarik padanya)



Aril anak kelas 1 yang mengaji padaku, ketika mengaji kuperhatikan tangannya seringkali menarik2 kaos kakinya.



Althof, tak bergeming meski teman2nya dah pada kaburAlthof yang masih sangat TK itu ketika mengaji, -biasanya selain membaca mereka juga menulis apa yang mereka baca hari itu- ketika yang lain sibuk berebut agar bisa membaca lebih dulu, dia malah asyik menulis lebih dulu, dan tidak akan mau disuruh membaca sebelum selesai menulis. Dan pernah suatu ketika, sampai semua teman2nya pada kabur dia masih tetap menulis dan tak mau membaca dulu.



Putra si mbemSi putra yang waktu itu kukatakan pinggir bibirnya selalu tampak seperti “berengen”, ternyata memang itu gangguan, entah mungkin sejenis sariawan, dan beberapa kali kulihat pinggir bibirnya berwarna biru semacam tinta yang dipakai untuk stempel, ketika kutanya ternyata itu adalah obat untuk mengobati gangguan di bibirnya itu. Hmm, kalau menurut hipotesisku mungkin itu sejenis kutu air yang biasanya menyerang kaki yang selalu basah, mungkin karena pinggir bibirnya selalu basah kali ya? –kesimpulan yang konyol sekali-



Ada-ada saja tingkah mereka.

Putra, karena sudah naik ke qiroati 2 maka dia harus pindah kelas, namun awalnya dia tak mau pindah, karena malu mungkin. Meski dibujuk, dia tetap tak bergeming.

Lain lagi dengan Sabil, ketika dia sudah harus tashih (tes untuk naik ke qiroati yang lebih tinggi) dia malah menangis, hari berikutnya baru dia mau tashih dengan sukarela.

Akhirnya si Putra mau pindah dengan sukarela ketika ada temannya, si Sabil.

Si Iman yang rajin n pintar, lancar2 saja ketika disuruh tashih dan pindah kelas, tanpa acara merajuk atau menangis.

Hmm, tapi aku jadi tak bisa sering berinteraksi dengan mereka lagi, terutama Putra yang sering kucubiti pipi tembemnya.



-Teacher-

Dari perjalananku beberapa bulan terakhir mencoba menjadi pendidik, aku mulai paham mengapa guru2 –sejak tingkat SD sampai PT- selalu suka pada murid yang pintar. Bagaimana tidak kalau bahasa jawanya “ulang-ulangane ra ngentekno kapur”, terjemahan bebasnya “untuk mengajarinya tidak menghabiskan kapur” hingga tak perlu menghabiskan banyak waktu dan pikiran. Dengan menjelaskan sedikit saja dia akan mengerti, berbeda dengan mereka yang “agak lamban”, harus dijelaskan beberapa kali, dengan beberapa cara, itupun syukur2 kalau akhirnya benar2 bisa paham, kalau masih tetap tak bisa? Hmm, kalau aku harus banyak2 bersabar dan berusaha tetap bertampang “manis” karena yang kuajar adalah orang lain, jika adikku sendiri –seperti dulu ketika sering mengajarinya- mungkin sudah ku omel-omeli habis2an.



Hmm, susah juga jadi guru, tapi yang aku tak habis pikir mengapa ya gaji guru sangat rendah jika dibandingkan dengan profesi lain? mengenaskan sekali pikirku. Padahal objek yang dia garap bukan sekedar benda mati yang jika salah garap masih bisa diulang lagi, tapi manusia yang kalau salah garap bisa2 rusak dan merusak. Dan cerdas saja tak cukup sebagai modal untuk menjadi guru -bahkan menurutku untuk menjadi guru tak perlu sosok yang sangat cerdas, jenius, yang berIQ sangat tinggi- tapi harus bisa mencerdaskan (karena banyak orang cerdas yang tak mampu menularkan kecerdasannya, akibat ketidakmampuannya mentransfer pemahamannya dengan bahasa dan cara yang mudah dipahami orang2 yang tak secerdas dirinya) dan mampu menjadi teladan serta menanamkan nilai2 pada anak didiknya.



Terlebih anak2 sekarang sangat kritis, mereka tidak begitu saja mau menerima ketika kita mulai nyerocos mereka harus begini begitu, tak boleh begini begitu, mereka akan terus bertanya mengapa dan mengapa hingga mereka puas dengan argumen yang kita sodorkan. Mereka pun tak segan2 menyanggah pendapat kita jika dirasa tak sesuai dengan jalan pikiran mereka. -jaman saya dulu seingatku sepertinya murid2 tak seperti ini, jika guru mengatakan A maka murid2 akan taklid begitu saja tanpa berani menyanggah atau bertanya mengapa, mungkin pada jamanku anak2 masih sangat lugu dan bodoh kali ya?-. Mereka tak canggung2 menanggapi dan mengomentari apa2 yang disampaikan gurunya. Bahkan jika suatu ketika gurunya “khilaf” mengucapkan atau berbuat sesuatu yang kurang pas, mereka akan spontan menegur, langsung tanpa basa basi atau ewuh pakewuh (istilah jawa yang juga baru belakangan ini kudapat, yang artinya kurang lebih sungkan).

Hmm, jamannya memang sudah berbeda ya?



(Aku pribadi lebih senang mengajarnya mengalir saja tanpa terikat aturan baku; standar ini itu, program ini itu dan segala aturan administrasi yang tak praktis. Seenaknya sendiri ya? he3)



-School and home-

Ngomong2 tentang guru dan murid, sekalian aja sama tempatnya; sekolah. Dari apa yang kulihat dan kubaca, sekolah2 bernafas Islam juga termasuk pesantren, terkadang –aku tak ingin menggunakan kata “seringkali”- dijadikan semacam tempat karantina bagi anak2 bermasalah dan dijadikan tempat penitipan bagi anak2 yang kurang perhatian. Contoh saja, ketika ada anak yang sangat “nakal”, biasanya orang2 akan berkomentar “masukkan saja ke pesantren”. Begitupun halnya dengan anak2 yang kekurangan perhatian karena kedua ortunya terlalu sibuk, anaknya akan dimasukkan ke sekolah2 islam yang favorit. -Walau tak semua ortu seperti itu-



Dengan begitu mereka berharap anak2nya akan disulap “bim salabim” menjadi anak2 yang manis dan sholeh/ah. Dan seakan2 tanggung jawab ortu untuk mendidik sudah selesai dengan memasukkan mereka ke sekolah2 itu. Hmm, padahal sekolah saja tak cukup, sangat tak cukup bahkan. Seharusnya rumahlah tempat mereka mendapat pendidikan pertama kali, seharusnya ibulah pendidik pertama, yang tak hanya mengenalkan mereka bagaimana cara berjalan namun juga mengenalkan mereka pada agamanya. Rasanya, sudah saatnya kita kembali menjalankan peran kita masing2.



Apalagi jika atmosfer sekolah dan rumah sangat kontras, ketika di sekolah mereka melihat bagaimana guru2 mereka berjilbab rapi lalu dirumah melihat ibunya memakai baju dan celana mini, tentu si anak akan bingung, yang mana yang harus diikutinya. Di satu sisi ortu memilihkan sekolah yang islami, namun di sisi lain tak menciptakan atmosfer rumah dan teladan yang islami, sebuah anomali, bagai berjalan ke dua arah berlawanan secara bersamaan, bisa dipastikan akan jatuh terjengkang.



Sungguh benar bahwa kewajiban ortu pada anak pertama kali adalah memilihkan ibu yang baik. Dari ibu yang baiklah akan mungkin lahir generasi2 yang baik pula, begitupun sebaliknya. Walau tetap hidayah itu dari Allah, sementara kita –sebagai ortu- sekedar berusaha untuk menjadi sebab datangnya hidayah itu.



Allahu a’lam.

Rabu, 30 November 2011

TEMBOK PUN DAPAT BERBICARA

oleh Lif Syifa pada 2 November 2011 jam 8:29

“Tembok pun dapat berbicara”, ku rasa penggalan peribahasa itu tidaklah berlebihan. Dari pengamatanku memang demikianlah adanya –tentu yang kumaksud bukan temboknya bisa bicara beneran-.




Misalnya saja dari pengalamanmu atau orang lain, ketika kau berkeluh kesah pada seorang temanmu, mengghibah atau sekedar celetukan2 tanpa makna, bukan tidak mungkin suatu saat –bahkan segera setelah kau berlalu dari hadapannya- temanmu akan membeberkannya pada orang lain, dengan atau tanpa disadarinya. Terlebih jika temanmu adalah orang yang gemar “bersiul”. Dan ketika pembicaraan itu sampai pada orang ke3 pun, masih sangat mungkin “kabar” itu akan berlanjut ke orang ke 4, 5, 6 dst, hingga jadilah ia “kabar berantai”.



Apalagi jika sudah berantai dari orang ke 2 ke orang ke 3 dst, sangat mungkin ada tambahan “bumbu2 penguat rasa” dengan ataupun tanpa disengaja. Contoh mudahnya saja jika kau pernah melakukan permainan bisik2 berantai, dari orang pertama sampai ke2 mungkin kalimatnya masih sama, tapi jika sudah berlanjut sampai orang ke 4 dst biasanya akan berbeda bukan?



Dan tiba2 kau mendapati dirimu terkaget2 ketika rahasiamu akhirnya menjadi rahasia umum.



Apalagi jika “curhatmu” menyangkut orang lain, maka akan menjadikan keadaaan yang tak nyaman antara kau dan dia, bisa jadi menimbulkan salah paham, atau jika sebelumnya hubunganmu sudah tak baik bisa2 tambah runyam.



Itu jika curhatmu kau dilakukan pada 1 orang, maka bagaiman pula jika keluh kesah atau ghibah itu dilakukan dalam bentuk forum curhat bebas di forum umum dan terbuka semacam FB?



Kegemaran berkeluh kesah pada manusia pun bukanlah suatu hal yang baik, karena seringkali didalamnya kita mengadukan takdir Allah pada kita, yang secara tidak langsung menunjukkan ketidak-ridho-an kita akan takdir itu. Saya jadi teringat sebuah kalimat bijak dari seorang salafus sholeh –saya lupa orangnyna-, yang begini kurang lebih bunyinya: “orang bodoh adalah orang yang mengadukan Allah pada manusia, sedangkan orang bijak adalah orang yang mengadukan manusia pada Allah”



Yuk curhat pada Allah!! Sebab manusia ada kalanya bosan jika terus menerus kita curhati (curhat yang tidak mengandung unsur2 buruk tentu), kalaupun perlu curhat mari selektif memilih objek yang kita jadikan “tempat sampah” (baca: tempat curhat).



Jika kita dalam posisi “tempat sampah”, kita pun harus benar2 bisa menjaga rahasia si “klien”, bahkan pun tanpa ada instruksi darinya untuk menjaganya, sebab memang tidak semua hal yang kita tahu atau dengar perlu untuk diceritakan. Seperti sebuah perkataan bahwa orang yang tak bisa menjaga rahasia adalah budak, sebaliknya yang bisa menjaga rahasia adalah orang merdeka.



Memang benar bahwa perkataan seseorang itu mencerminkan siapa dirinya. Seperti filosofi sebuah teko dia hanya akan menuangkan apa yang ada di dalamnya, jika dia berisi susu maka diapun hanya akan menuangkan susu, tidak mungkin teh.



Hingga untuk bisa mengenali seseorang, tak perlu kau bersusah payah mencari tahu kesana kemari, cukuplah kau kumpulkan tiap serpihan kata2nya, dengan begitu tampaklah wujudnya secara utuh, siapa dia, orang macam apa dia de el el.



Karena itu kita harus menjaga lisan kita dari mengucapkan hal2 tak berguna apalagi perkataan buruk. Apalagi ada 2 makhluk yang selalu mencatat setiap perbuatan, termasuk perkataan kita. Coba kita bayangkan jika ada yang merekam semua perkataan kita, tentu kita akan berusaha sebisa mungkin untuk berkata hanya yang baik2, apalagi jika rekaman itu akan diputar ulang di kemudian hari dimana hari itu seluruh orang akan turut menyaksikannya.



Allahu a’lam. Semoga saya menjadi orang yang pandai menasehati diri sendiri.

LASKAR LEBAH

oleh Lif Syifa pada 10 Oktober 2011 jam 22:12



Sekedar ingin berbagi tentang “warna-warni” anak-anak didikku, para laskar lebah. Mengapa lebah? karena lebah adalah makhluk yang mengajarkan filosofi hidup yang indah, memakan hanya yang baik2 –sari bunga, itupun tidak asal bunga- dan mengeluarkan yang baik pula –madu-, tahu balas budi –menyerbukkan bunga2 yang dia ambil sarinya-, juga menebarkan manfaat bagi makhluk2 disekitarnya –manusia salah satunya-. Dan aku berharap anak-anakku bisa mengambil filosofi itu.



Anak-anak yang polos, apa adanya dan masih bersih. Merekalah aset berharga jika disepuh dengan benar, oleh orang yag tepat. Aku seperti melihat serpihan2 diriku ada pada mereka.



Anak-anak kelas 2 Habasyah, inilah mereka:



Ihsan si si gendut n temperamen; lantang suaranya sangat cocok disuruh menertibkan teman2nya untuk memimpin doa dan baris berbaris, cocok menjadi pemimpin walaupun sepertinya ia akan memimpin secara otoriter dan dengan cara militer, emosional memang jika marah suka berteriak dan memukul. Namun suatu ketika aku bertanya tentang cita2, rupanya ia ingin menjadi ustadz, karena itu ketika ia mulai temperamen ku katakan padanya “katanya mau jadi ustadz, ga boleh pukul temannya”. (dari sisi emosionalnya dia seperti aku, walaupun caraku mengekspresikan tak sama)



Nabila si cerewet dan hiperaktif; cerewetnya minta ampun, kalau sudah bicara ga ada titik koma dan sangat panjang. Sangat hiperaktif kayak cacing kepanasan, sukanya nggelibet dan sangat suka tampil. Juga cengeng; gampang menangis tapi cepat redanya, walaupun juga cerdas terutama masalah mengaji en hafalan surat serta doa2. Nakal tapi manja. (tadinya aku berpikir anak yang nakal itu tidak manja dan suka menangis, ternyata sebaliknya, justru anak2 yang pendiam atau standar2 malah yang jarang atau bahkan tak pernah menangis di sekolah)



Mukhlis si pemalu; disuruh memimpin doa saja tidak pernah mau, padahal teman-temannya seringkali berebut jika tak ditunjuk. Jika diibaratkan pria dewasa, dia adalah pria tampan yang pemalu namun cerdas. Tapi juga masih cengeng, kalau sudah nangis bisa seharian –lebih tepatnya setengah hari- ga berhenti.



Aji si proporsional; cerdas (baik akademik maupun agama), kritis; suka bertanya dan rasa ingin tahunya tinggi terutama masalah2 agama, berani tampil, juga cakap berbicara.



Abid si mr R; tak bisa melafalkan huruf R dengan jelas, ditambah suaranya yang pelan hingga ketika berbicara suaranya terdengar lucu. (he3, akupun tak bisa melafalkan huruf itu dengan jelas). Melihat sorot matanya pun membuatku merasa iba, dan memang dia sering dijadikan kalah2an oleh ihsan.



Shinta; si cerdas yang tak terlalu menonjolkan diri, lucu rambutnya seringkali menyembul dari balik jilbabnya dan suka memakai gelang warna-warni, ditambah lagi kalau tersenyum –karena memang dia murah senyum- gigi2nya yang tak lagi utuh karena karies gigi berebut menampakkan diri.



Devina si pendiam; tak banyak bicara dan tak banyak tingkah.



Lutfia si lamban; suaranya sangat pelan, tubuhnya juga ringkih tidak seenerjik teman-temannya, juga lamban. Menatap matanya membuat ku merasa iba. (dari sisi ketidak energikannya, aku seperti melihat sepotong diriku padanya)



Afi si cerewet; 11 12 lah dengan nabila, kalau bicara medok banget dan mimik wajahnya lucu ketika bercerita karena bibirnya sampai monyong-monyong kalau bercerita. Juga cukup cengeng, jika bertengkar dengan temannya ujung-ujungnya nangis.



Wahyu si lucu, wajahnya benar2 polos khas anak2, pipinya tembem, kalau berbicara mimiknya lucu, dan masih sering ingusan. (pertama melihatnya saya pikir dia agak “kurang cerdas”, ternyata tidak). Kalau sudah menangis –misalnya ketika diejek temannya saat dia BAB di celana- maka dia akan ngambek dan susah sekali didiamkan.



Mauas, jika sudah dibuat jengkel temannya muncul sifat ngambeknya, hingga dia akan memunculkan aksi manyunnyaj sambil matanya memicing melihat orang yang membuatnya jengkel. Sebenarnya mauas itu adalah singkatan dari namanya yang panjang bak kereta api, nama panjangnya adalah Muhammad Abu Bakar Umar Usman Ali Abdus Salam.



Faiz sosok yang sedang2 saja menurutku, tidak terlalu nakal dan tidak terlalu pendiam.



Ian sosok yang paling bongsor di kelas, karena memang dia sempat tidak naik kelas, kalau lagi ga mood bisa2 dia hanya akan menulis sebaris dua baris.



Deva anak baru pindahan dari sekolah negeri; dalam hal kecepatan menerima pelajaran dia setali tiga uang dengan ian. Mungkin karena background sekolah asalnya, dia tidak begitu familiar dengan doa2 de es be. Dia bahkan belum hafal bacaan sholat sebagaimana teman lainnya, begitu pula dengan mengaji dan hafalan surat pendeknya.



Vickar si medok, asli jawa banget. Dia baru 2 minggu ini masuk, setelah 2 bulan cuti ke jawa. Wajahnya juga lucu apalagi jika dia memulai aksi mangapnya, mulutnya membulat dan tampangnya polos banget. Entah wajahnya seperti tokoh kartun yang mana, atau kalau wajahnya dijadikan kartun pasti lucu. (jika melihat wajah anak2 seringkali aku merasa beberapa dari mereka mirip tokoh2 kartun, ha3 mungkin ini sedikit kesintinganku)



Hikma si kalem, tidak cerewet dan juga tidak pendiam, jika sedang menulis atau mengerjakan tugas mimik mukanya sangat serius sampai berkerut jidatnya (ha3, dari sisi ini dia sepertiku, bahkan salah seorang temanku sampai heran melihat ekspresiku ketika sedang serius mengerjakan sesuatu. Bahkan ketika itu ada yang berceloteh “lihat! Ustadzah serius!!”, ketika aku sedang asyik bernetbookria).



Bagaimanapun adanya mereka, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kurasa mereka semua berpotensi, berpotensi untuk menjadi baik. Dan bukankah memang kita diciptakan berwarna-warni untuk kemudian memanfaatkan potensi masing2 untuk kebaikan? Dan bukankah sejarah mereka belum berakhir? Hingga tak boleh dan tak perlu kita memvonis mereka yang saat ini tampak tak berbakat suatu saat tak akan menjadi sukses, mereka yang saat ini tampak nakal suatu saat tak akan menjadi baik, begitupun sebaliknya. Akupun dulu ketika masih kelas 2 SD –seingatku- aku bahkan belum pandai membaca dan menulis, hingga ketika guruku mencatat di papan tulis, ditambah lagi tulisannya yang bersambung, kuikuti saja tulisan itu dan kuukir di buku tulisku, setiba dirumah ketika ditanya itu tulisan apa dan bagaimana bacanya, aku akan menjawab tak tahu, bodoh sekali ya? Ho3



Melihat dan berkumpul dengan mereka adalah hiburan tersendiri, semoga aku bisa mendidik mereka dengan baik, menjadikan mereka anak-anak yang shaleh-shalehah dan cerdas. Walau terkadang cukup geram juga dibuatnya, apalagi jika mereka mulai berulah; ribut, bertengkar, berkelahi, “baku pukul”, menangis de el el. Butuh kesabaran ekstra memang untuk mendidik mereka.



Namun bahagia sekali rasanya ketika melihat mereka bisa melafalkan doa, bisa berwudhu dengan benar dan sangat antusias jika dijelaskan tentang din ini. Seringkali harus menyamakan frekuensi dengan cara berpikir mereka jika ingin memahamkan mereka, seringkali harus menjadi anak-anak agar bisa menyatu dengan mereka. Walau masih perlu banyak belajar agar bisa benar-benar memahami mereka dan bisa



Aku juga malu pada mereka yang masih kelas 2 tapi hafalan surat pendeknya sudah banyak, mungkin karena mereka masih bersih, untuk membuat mereka hafal satu surat pun tak butuh waktu lama. Berbeda sekali dengan gurunya yang tumpul sekali kalau disuruh menghafal dan mungkin juga faktor banyaknya dosa.



Juga satu hal yang kupelajari dari mereka; bagaimanapun tadinya mereka berkelahi, memukul, atau saling mengejek, tapi setelah itu mereka akan kembali akur seperti tak pernah terjadi apa-apa, tidak ada dendam. Tidak seperti orang dewasa yang sangat suka memendam kesumat, indah sekali jika kita bisa menjadi anak kecil dalam beberapa hal, termasuk dalam hal memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain.

______________________



Kalau ini anak-anak 2 Thoif, kelas sebelah yang juga ku ajar dalam beberapa pelajaran;



Imron; kalau sudah ngambek dia akan diam mematung tak berkedip dan tak mau beranjak dari tempat dia berdiri, aku dan rekanku sempat bingung ketika pertama kali menghadapi aksinya, kami pikir dia kesurupan sampai diruqyah segala dan ga mempan –karena memang dia ga kesurupan, ha3-. Dia juga cerdas dalam hal mengaji dan hafalan doa serta surat2 pendek. Di sela2 waktu senggangnya, ketika teman2nya asyik bermain, beberapa kali aku memergokinya –emangnya maling? He3- sedang membaca Al Qur’an. Dan ketika kudekati dan kukatakan aku ingin mendengarnya mengaji, dia malah berhenti.



Teguh; wajahnya lucu khas anak2 banget, sangat suka melihatnya, kadang masih ingusan dan sangat suka nggelibet –mungkin karena itu pernah temannya berceloteh kalau aku suka padanya, ha3 ada-ada saja- . Dia juga yang pernah menegurku saat kakiku terlihat.



Ariel si bongsor; hingga tadinya ku sempat berfikir dia lebih tua dari teman-temannya.



Abel si cantik dan kalem, juga cerdas.



Fajri wajahnya polos sekali dan ketika dewasa nanti ku pikir dia akan menjadi pria yang tampan, sangat suka ekspresinya ketika sedang serius sampai mangap dan membulat mulutnya dan membulat matanya.





Fidhal sosok yang cerdas juga cakap.



Hira si tembem; pipinya sangat tembem dan wajahnya sangat lucu, cara bicaranya pun masih sangat anak-anak, sifatnya pun lebih kekanakkanakan dibanding teman-temannya. Dia juga seringkali bertengkar dengan teman-temannya. Kalau menulis sangat lamban, tapi ternyata dia cukup cerdas dalam hal hitung2an –asal ga usah nulis soalnya dulu- (hmm, orang yang lamban dalam satu hal, memang tak selalu lamban dalam hal lain)





Dewi si vokal; sangat suka bercerita atau menanggapi hal-hal yang berhubungan dengan apa yang sedang aku jelaskan. Dia tak bisa menyebutkan huruf “s” dengan jelas, dan akan terdengar seperti “ts” atau ﺚ

Andini si kalem, tidak banyak bicara dan tak banyak tingkah, namun juga cukup cerdas.



Nashwa n nashita si kembar yang tidak identik sebenarnya, namun aku masih sering salah membedakan keduanya.



Ola, cukup besar dibanding teman2nya, namun rada lamban.



Dzikra, ekspresinya lucu ketika mengerjakan tugas.



Farid, diwajahnya ada bekas luka –sepertinya- yang tampak seperti tompel (ternyata setelah kuklarifikasi lebih lanjut, itu adalah bekas terkena obat nyamuk bakar, hmm waktu kecil aku juga pernah terkena obat nyamuk bakar), lucu, sosok yang tampak biasa2 saja namun cukup cerdas ternyata.



Kifli sosok yang sedang2 saja.



Akmal si bengal, tak pernah mau disuruh maju memimpin doa.

__________________

Kisah anak2ku yang lain, yang rata2 masih kelas 1;



Meskipun setingkat, namun mereka berbeda2 tingkat kedewasaannya (dan ternyata orang dewasa pun demikian, orang yang lebih tua belum tentu lebih dewasa, seperti kata orang: menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa belum tentu) ada yang sudah “ngerti” bisa disuruh mengerjakan tugas de es be, ada yang masih “sangat anak2” hingga perlu perhatian lebih agar mereka tidak kabur ketika sibuk mengurusi yang lain.





Ada yang ketika mengaji saat dia sedang berusaha mengingat2 huruf yang dibaca atau lupa, dia akan berekspresi sangat lucu, tangannya akan bergerak2 ga jelas atau memukul2 bukunya.



Ada yang sangat kesusahan mengucapkan suatu huruf, dan ekspresinya jadi lucu ketika sedang bersusah payah berusaha mengucapkan huruf itu.



Ada yang suaranya sangat pelan, hingga aku harus memasang telingaku baik2 ketika giliran dia membaca. Juga masih berjiwa TK, kabarnya dia sering keluyuran pada jam pelajaran untuk menangkap kodok. Ketika aku “ngetes” bertanya tentang perburuan kodoknya, dia tampak sangat antusias.



Ada yang rada tulalit walau badannya sangat bongsor.



Ada yang wajahnya lucu, pipinya tembem dan di pinggir bibirnya selalu nampak seperti orang “berengen” walaupun tidak sebenarnya. Namun juga cukup cerdas dan dewasa.



Ada yang ketika mengaji lancar2 saja, bisa mengucapkan huruf dengan benar tanpa bersusah payah.



Ada yang wajahnya lucu sekaligus melas.

_________________

De el el deh, udah puanjang banget, hmm mungkin lain kali ku sambung lagi.

Love U all deh ^^b

Moga jadi anak sholeh sholehah

Belum nikah aja udah punya anak segini banyak, he3

Allahu a’lam