Kamis, 01 Desember 2011

CATATAN HARIAN SEORANG PRAMUSAJI

211111

(Sebuah Catatan tentang jenis2 pelanggan, dilihat dari sudut pandang seorang pramusaji)

Ada jenis2 pelanggan warung makan/ rumah makan/ warteg (emang warteg itu yang punya musti orang tegal ya?) de es be deh yang disukai dan tidak disukai.
Jenis2 pembeli yang tak disukai antara lain:

1. Pembeli cerewet
Yaitu pembeli yang kalau pesan menu ga cukup hanya dengan menyebutkan menu apa saja yang dipesan, tapi selalu ditambah2i dengan minta ini minta itu, tambah ini tambah itu. Ga nriman lah istilah jawanya. Mending kalau cerewet gitu menu yang dipesan yang mahal, sebanding lah, tapi kalau dah cerewet menunya milih yang murah lagi, huuh sebel BGT deh.

2. Pembeli angkrem
Tipe kedua ini, adalah pembeli yang kalau dah duduk di RM, pantatnya dah kayak dilem, mengeram aja ga pergi2. Lebih parah lagi kalau ditambah dengan mengoceh ngalor ngidul, mending kalau topik pembicaraannya berbobot. Dan yang paling menyebalkan lagi, jika mengeramnya itu karena pembeli itu lagi pacaran (baca: berduaan), huft ini menyebabkan sebel stadium 4. Apalagi jika ditambah lagi dengan menu yang dipilih yang murah, atau bahkan sepiring berdua (ini sih bukan romantis lagi, tapi miskin).

Untuk “mengusir” pembeli2 model gini, tak jarang pramusaji dan empunya RM melakukan gerakan2 tambahan yang membuat mereka merasa tak nyaman dan segera cabut dari RM, semisal: berteriak2 memanggil2 rekannya, mondar-mandir di depan pembeli de es be lah.

(ini untuk warung makan biasa lo, kalau untuk t4 makan yang memang di desain untuk hang out sih sah2 saja kalau berlama2 disana)

3. Pembeli yang sok penting
ada juga pembeli yang sok penting, ngerasa berjasa banget dah menjadi perantara datangnya uang ke tangan empunya RM.


Pembeli2 yang disukai:
1. Pembeli yang nriman
Yaitu pembeli yang ga cerewet kalau beli, kalau pesan menu ya cukup gitu aja, ga minta ini itu.

2. Pembeli yang sering membeli dalam jumlah besar atau yang membeli menu yang mahal
Yaitu pembeli yang kalau pesan menu yang harganya mahal atau kalau beli dalam jumlah banyak.

3. Pembeli yang cepat
Yaitu pembeli yang SMP (selesai makan pulang), ga banyak cingcong

Dari tipe-tipe diatas, termasuk yang manakah anda? (sorry ya kalau coretan ini subjektif sekali, he3)

"KEBETULAN" YANG TERENCANA

oleh Lif Syifa pada 15 November 2011 jam 20:00

Seperti sebuah kebetulan, namun aku tak percaya kata “kebetulan”, karena segala yang terjadi di dunia ini sudah terencana dan tertulis dengan rapi di lauhul mahfudz, tanpa meleset sedikitpun.


Menjelang subuh telingaku sudah dimanjakan dengan lantunan surat ar rahman dari speaker masjid (memang biasanya menjelang adzan, masjid2 sering menyetel murottal kan? namun aku tidak sedang membicarakan mengenai tepat atau tidaknya hal itu, setahuku memang tak ada tuntunannya).



Pagi harinya ketika hendak tilawah, saat kubuka al qur’an, subhanallah ternyata bacaanku sudah sampai surat ar rahman juga, akhirnya aku pun membaca surat itu.



Siang harinya, menjelang adzan dhuhur, kembali aku diperdengarkan surat itu.



Subhanallah, aku seperti diingatkan dengan surat ini ketika sedang galau (ah mungkin aku memang terlalu lebay).

Mungkin ini sebuah teguran halus agar aku tak kufur nikmat, agar aku mensyukuri segala yang sudah Allah beri padaku dan tak terlalu merasa susah dengan cobaan yang diberikanNya padaku.



Dan entahlah, surat itu begitu berkesan buatku dibanding surat2 lain, mungkin karena aku tak paham bahasa arab (tahunya paling2; akhi, ukhti, dkk. he3), dan mungkin karena susunan ayat2 dalam surat ini yang unik karena ada kalimat yang diulang2, sehingga aku sangat mengingat kalimat2 itu. Dan mendengarnya benar2 membuat hati ini terenyuh (entah apa kalimat yang tepat untuk menggambarkannya).



Ramadhan tahun lalu pun –di sepuluh malam terakhirnya lebih tepatnya, entah tanggal berapa- ketika aku sedang galau, aku juga diperdengarkan surat ini, melalui lisan imam masjid kampusku, imamnya sampai sesenggukan saking menghayatinya, dan aku pun serasa ikut hanyut dalam lantunan ayat2 itu, syahdu sekali.



Dan ramadhan tahun ini pun demikian, di sepuluh malam terakhir pula, ketika shalat tarawih imamnya juga melantunkan surat yang sama, sampai sesenggukan juga, dan aku kembali hanyut dalam lantunan surat itu. Dan kurasa malam itu adalah malam ramadhan terindah di tahun ini, malam lailatul qadarkah? Allahu a’lam



Jadi, jika ditanya surat cinta siapa yang paling berkesan bagimu? Kujawab “surat cinta dari Allah yang berjudul ar rahman”. Kalau kamu?



“Dan nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?”



NB: ternyata menjelang magrib pun murottalnya masih sama; ar rahman.



131111



posting yang tertunda,he3

CURHAT YANG TERTUNDA

oleh Lif Syifa pada 15 November 2011 jam 19:26

Pernah tidak kamu merasakan ketika sedang bahagia meluap2, sedih hingga air mata berderai2 atau kesal meledak2 dan ingin sekali berbagi pada seorang kawan (baca: curhat), namun karena satu dan lain hal kamu tak dapat langsung bertemu dan curhat padanya, baru beberapa hari kemudian kamu bisa bertemu dan curhat. Ibarat masakan dah ga “panas” lagi, dah ga dapet feelnya. Wajar aja, meluap2nya kemarin curhatnya baru hari ini ketika kita sudah “dingin”.


Begitupun, ketika suatu saat aku ingin sekali berceloteh (lewat tulisan) tentang apa saja yang sedang hangat2nya ketika itu, namun karena tak sempat (tak ada waktulah, ada waktu tapi tak ada saranalah (netbi), atau ada waktu dan sarana tapi keadaannya tak memungkinkan) hingga akhirnya hanya bisa tersimpan beberapa keyword sebagai note di hp atau di netbi dan beberapa hari kemudian baru tersalurkan, tetap bisa tertulis memang, tapi udah ga dapet feelnya, ibarat makan bakso yang sudah dingin, kurang siip. Hmm, apalagi inspirasi itu sering datang di saat2 tak terduga. Dan kalau aku diberi waktu libur seminggu saja, dari pekerjaan sekolah n pekerjaan rumah (PR kalee, jadi berasa anak sekolahan) ,mungkin enak kali ya, bisa dengan tenang menyalurkan uneg2ku semuanya pada waktunya.



Jadi pengen punya iPhone atau iPad yang bisa dibawa kemana-mana, bahasa kerennya apa ya? aku lupa (o iya, portable) dan bisa digunakan kapan pun, praktis en ga ribet. Ada yang bersedia memberikanya sebagai hadiah? Kalau ada aku pasti senang sekali. he3, ngarep.com. ^^

SEKALI (LAGI) TENTANG BAU

oleh Lif Syifa pada 12 Oktober 2011 jam 19:46

Kali ini saya ingin berbicara (baca: menulis) lagi2 tentang bau, tapi bukan lagi “bau” dalam arti kiasan, melainkan bau yang sebenarnya.



Hmm, ketika kita sedang sakit entah mengapa (mungkin ada yang bisa menjelaskan?) bau badan kita tidak seperti biasanya (sebenarnya ini pengalaman pribadi). Mungkin biasanya bau kecut (bagi yang merasa,he3) tapi ketika sakit baunya benar2 beda, apa mungkin pengaruh reaksi metabolisme tubuh kita yang tak normal seperti biasa ya? atau karena efek obat2an yang kita minum, yang menguap lewat keringat? Entahlah. Atau ku tanyakan saja jawabnya pada rumput yang bergoyang? Ah ku rasa dia tak akan mau menjawab (mulai eror deh).



Ngomong2 soal sakit, mungkin sebagian dari kita kalau sakit ada yang suka ngomel2 dan menggerutu ga jelas, padahal kalau kita tau keutamaan sakit mestinya kita bersyukur udah sakit.



Diantara keutamaan sakit adalah:

1. Sebagai pelebur dosa2
2. Mengingatkan akan dosa2
3. Meninggikan derajat
4. Menambah pahala
5. Saatnya Ibadah hati berupa sabar, de el el

Tentunya semua keutamaan itu berlaku dengan syarat kita sabar menghadapi sakit itu.



Meskipun demikian kita tetap dianjurkan untuk berobat (hmm, sebenarnya saya pribadi paling malas berhubungan dengan yang namaya “dokter”), “tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obat untuk penyakit itu” (HR. Bukhari). Lalu apa saja ya doa2 (ruqyah syar’iyah, sebagian kita mungkin menyangka ruqyah hanya untuk orang kesurupan, padahal tidak demikian) untuk orang sakit? Bagaimana kiat2 supaya sabar? N apa lagi kabar gembira bagi orang sakit dan tertimpa musibah? Terus apa lagi ya? de el el deh Temukan jawabannya di:

http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Kado%20Istimewa%20untuk%20Orang%20Sakit%20dan%20Tertimpa%20Musibah




O ya, ada juga buku bagus nih, judulnya “KEDOKTERAN NABI shalallahu ‘alaihi wasallam, Antara Realitas dan Kebohongan” terbitan shafa publika, karya Ustadz Abu Umar Basyier, penulis terkenal itu (penulis favoritku juga, he3)



Allahu a’lam, semoga bermanfaat

SIFAT SHALAT DAN WUDHU NABI shallallahu ‘alaihi wasallam (LAGI)

oleh Lif Syifa pada 12 Oktober 2011 jam 8:48

WORO2:
Alhamdulillah, silakan download penjelasan dari dua buah buku kecil dengan judul:




1. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin
2. Sifat Wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin



Kajian ini disampaikan oleh Al Ustadz Abdullah Hadrami hafizhahullah. Semoga kajian yang beliau sampaikan bermanfaat. Silakan download pada link berikut:



http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Kajian%20Buku%20Sifat%20Sholat%20dan%20Wudhu%20Nabi



NB: alangkah lebih baiknya jika bukunya dimiliki terlebih dahulu

Tentang ULTAH dan LOLAnya si processor

oleh Lif Syifa pada 10 Oktober 2011 jam 22:59

Berkoar-koar berteori memang mudah, namun prakteknya tak selalu semudah teorinya. Beberapa jam lalu aku ditelpon ortu siswa, beliau mengatakan besok akan membawa kue ke sekolah sekitar jam 11, dan bertanya apakah tidak mengganggu, karena besok anaknya berusia tepat 7 tahun. Karena begitu cepat dan mendadak –tanpa ada jeda waktu bagiku untuk berpikir- aku mengiyakan saja permohonannya. Beliau juga sempat sms bertanya jumlah siswa kelas 2, yang terdiri dari 2 kelas.




-Dan memang biasanya jika aku ditohok tiba2 dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang memojokkan aku akan refleks mengelak, padahal setelah dipikir2 kadang pernyataan itu memang benar, begitupun sebaliknya (seperti contoh diatas), sepertinya ini yang dalam bahasa psikologinya disebut reaktif. Dan biasanya hasil dari respon yang refleks itu selalu tidak memuaskan hingga geram aku dibuatnya, tapi kalau kupikir2 dulu secara mendalam biasanya dah keburu telat, au’ ah gelap. Hmm Kayaknya processor otakku perlu kecepatan lebih deh, biar loadingnya ga lambat (kalau diibaratkan komputer entah pentium berapa ya? mengenaskan sekali), biar cepat memproses pesan dan memberi reaksi yang tepat, dan sepertinya –lagi- inilah yang disebut proaktif-




Namun setelah percakapan itu ditutup, akupun berpikir bagaimana caranya aku mencegah acara ultah besok. Akhirnya kukirimkan saja sms, “maaf bu merayakan ultah itu bukan budaya Islam. Sepertinya berasal dari barat, dan kita dilarang menyerupai suatu kaum. Tapi kalau ibu sudah terlanjur pesan kue, ya diniatkan berbagi rizki aja, insya Allah semoga ga pa2”



Kalau aku di posisi siswa, mudah saja, aku tidak usah masuk sekolah agar aku tak menyaksikan acara ultah itu. Tapi karena aku di posisi yang berbeda –guru- tentu aku aku harus bertindak untuk mencegah hal itu terjadi.



Hmm, semoga aku bisa mencegah apa yang harus aku cegah, mendakwahkan apa yang harus aku dakwahkan dan memperbaiki apa yang harus aku perbaiki , mudahkanlah ya Allah, amin.



Tapi BTW, smsku kok ga dibales2 y?? Dah terkirim belum sih? -_-?



091011

About TEACHER and CHILDREN WORLD (LASKAR LEBAH PART 2)

oleh Lif Syifa pada 6 November 2011 jam 21:03

Frase "children world" ini sebenarnya nyontek dari seorang teman, karena keren aja menurutku, he3. Boleh ya?



-Children-

Hmm, ingin kembali menceritakan mereka.



Mukhlis si pemaluMukhlis yang sebelumnya tak pernah mau memimpin doa bahkan suatu ketika dia sampai mau menangis ketika terus kudesak, ketika kuterapkan metode bergilir hingga semua siswa kebagian maju, ketika tiba gilirannya dia mau maju dengan suka rela, tanpa perlu dibujuk atau dipaksa. Namun dia masih belum bersedia menjadi imam sholat, sepertinya perlu juga diterapkan metode ini. (Ternyata setelah digilir pun, dia tetap tak mau menjadi imam, sampai menangis bahkan)



Wahyu cukup pandai pelajaran berhitung, namun ketika kusuruh mengerjakan soal non hitungan, dia terus mendatangiku minta dibacakan soalnya, dia beralasan kalau membaca sendiri akan lama. Ketika kutanyakan jangan2 dia belum bisa membaca, kemudian ku tes ternyata dia bisa tapi memang lama seperti katanya.



wahyu si muka bayiO ya waktu itu aku sudah pernah bercerita bahwa wajah si wahyu lucu bukan? Dan hari itu (261011) ada seorang anak yang meledeknya dengan menyebut wajahnya seperti bayi, -he3 benar juga ya- dia pun kesal dengan ledekan itu, kukatakan untuk membelanya “bagus to baby face”, namun nampaknya dia tak paham maknanya.



AjiAji, hmm entah dia tertarik sekali mempertanyakan statusku, seingatku sudah 3 kali. Suatu ketika, Aji bertanya “ustadzah sudah ada suaminya?” ku jawab dengan menahan tawa, “belum”. Yang lain menimpali ”berarti ustadzah masih muda”. He3, sederhana sekali cara mereka menarik kesimpulan.



Si Mauas; entahlah, tak pernah terlihat senang jika kupanggil dengan nama aslinya entah itu Abu Bakar, Umar ataupun Usman. Dia lebih ridho jika dipanggil dengan singkatan namanya; mauas.



Mauas dengan jidat kanannya yang hitam karena penghapusMauas yang emang dari sononya udah berkulit gelap, eh oleh seorang guru –yang mungkin karena ribut- mukanya malah dilap pakai penghapus (di sekolah kami memakai white board) alhasil mukanya yang sudah gelap ditambahi lagi dengan goresan hitam, black and black deh. Maksud hati mau memfotonya, apa daya hp yang kualitas kameranya sudah tak bagus pake ditambah2i eror lagi, yah ga dapet gambarnya deh.



BTW, ngomong2, hari ini (311011) banyak anak yang mukanya di make up pakai penghapus, macam2lah rupa mereka lucu2, tapi menurutku mauas lah yang paling lucu.



Hmm, faiz juga cukup lucu udah rambutnya potongan TNI, wajahnya coreng moreng pula, siip deh.



Ihsan si ndut yang temperamenIhsan yang berkulit putih, kontras sekali ketika wajahnya ada coreng moreng hitamnya.



Faiz dengan rambut ala TNInyaOh iya, hari ini ada yang rambutnya baru lo, faiz rambutnya dipotong bak potongan seorang TNI, lain lagi dengan vickar rambutnya dipotong sih tapi cuma bagian bawahnya sementara atasnya tetap panjang jadi mirip batok kelapa.



Kamis lalu (201011) kelasku menang lomba membuat sarapan dengan bahan dasar roti tawar. Perlombaannya dibagi dua; kelas 1-3 membuat sarapan dari roti, kelas 4-6 membuat nasgor. Dan dari total peserta untuk kategori roti tawar sebanyak 7 kelas, kelasku berhasil mendapat juara 2, padahal mereka menghias roti dengan kreasinya sendiri –aku hanya membantu tetek bengeknya -. Roti yang ku pilih untuk dinilai adalah kreasi Shinta dan Deva, Deva membuat roti berbentuk wajah dengan sosis sebagai pelengkap utama. Sedang Shinta menghias roti dengan keju yang dibentuk menyerupai love. Dan hari ini (241011) hadiahnya dibagikan, isinya sosis dan wafer, senang sekali mereka mendapatkannya.



Imron yang gemar dan pandai mengaji, tak hanya senang membaca al quran dari mushafnya, diapun gemar melantunkan surat2 dari al quran, hmm kebiasaan yang sangat baik dan perlu dibudayakan daripada sibuk melantunkan lagu2 “ga nggenah”. Dan kudengar dia adalah salah satu siswa yang mendapat bantuan dari yayasan untuk sekolah gratis di sekolah tempatku mengajar ini, dia berasal dari keluarga kurang mampu (kebanyakan yang bersekolah disini memang dari kalangan menengah ke atas, orang sekelas imron tentu tak mampu membayar sppnya yang lumayan). Ketika ada hal2 yang perlu diberitahukan pada ortu yang kadangkala disampaikan melalui sms, ortunya seringkali tak mendapatkan info itu, bagaimana tidak hp saja beliau tak punya, sebuah benda yang saat ini sudah menjadi barang lumrah. Kala itu ketika dia tak membawa buku cetak karena memang dia tak punya, dan kusuruh membeli, diapun menjawab bahwa dia tak ada uang untuk membeli. Mungkin karena semua hal itu rasanya aku sayang sekali padanya –atau mungkin lebih tepatnya kasihan-. Diapun kerap mengatakan dia selalu bangun sejak dini hari. Dan sebelum ku tau semua itu, sejak kejadian dia dicurigai kesurupan aku mulai “tertarik” padanya.





Fajri yang mata n mulutnya seringkali membulat





Fajri, sosok yang mungil dan raut wajahnya yang innocent dan lucu karena seringkali mata dan mulutnya membulat membentuk huruf O, ditambah lagi caranya memakai tas ransel yang kepanjangan hingga lututnya, tidak tampak seperti anak yang “jago”, tapi ketika dia berkelahi dengan fidhal –aku cukup kaget juga melihat mereka berkelahi, brutal sekali- fidhal sampai menangis dan tampak babak belur dibuatnya, sementara dia tidak tampak terluka sedikitpun dan tampak sangat kuat dan sangar. (hmm, memang seseorang yang tampak ringkih, lemah dan tak meyakinkan belum tentu dia tak jago, begitupun sebaliknya orang yang tampak sangar dan berbadan besar belum tentu jago. Bukankah biasanya yang menjadi superhero, di kehidupan normalnya seringkali tampak lemah, culun, konyol de se be bukan? hingga wajar sosoknya tak pernah dilirik pasangan jenisnya, namun ketika berubah menjadi superhero akan banyak yang tertarik padanya)



Aril anak kelas 1 yang mengaji padaku, ketika mengaji kuperhatikan tangannya seringkali menarik2 kaos kakinya.



Althof, tak bergeming meski teman2nya dah pada kaburAlthof yang masih sangat TK itu ketika mengaji, -biasanya selain membaca mereka juga menulis apa yang mereka baca hari itu- ketika yang lain sibuk berebut agar bisa membaca lebih dulu, dia malah asyik menulis lebih dulu, dan tidak akan mau disuruh membaca sebelum selesai menulis. Dan pernah suatu ketika, sampai semua teman2nya pada kabur dia masih tetap menulis dan tak mau membaca dulu.



Putra si mbemSi putra yang waktu itu kukatakan pinggir bibirnya selalu tampak seperti “berengen”, ternyata memang itu gangguan, entah mungkin sejenis sariawan, dan beberapa kali kulihat pinggir bibirnya berwarna biru semacam tinta yang dipakai untuk stempel, ketika kutanya ternyata itu adalah obat untuk mengobati gangguan di bibirnya itu. Hmm, kalau menurut hipotesisku mungkin itu sejenis kutu air yang biasanya menyerang kaki yang selalu basah, mungkin karena pinggir bibirnya selalu basah kali ya? –kesimpulan yang konyol sekali-



Ada-ada saja tingkah mereka.

Putra, karena sudah naik ke qiroati 2 maka dia harus pindah kelas, namun awalnya dia tak mau pindah, karena malu mungkin. Meski dibujuk, dia tetap tak bergeming.

Lain lagi dengan Sabil, ketika dia sudah harus tashih (tes untuk naik ke qiroati yang lebih tinggi) dia malah menangis, hari berikutnya baru dia mau tashih dengan sukarela.

Akhirnya si Putra mau pindah dengan sukarela ketika ada temannya, si Sabil.

Si Iman yang rajin n pintar, lancar2 saja ketika disuruh tashih dan pindah kelas, tanpa acara merajuk atau menangis.

Hmm, tapi aku jadi tak bisa sering berinteraksi dengan mereka lagi, terutama Putra yang sering kucubiti pipi tembemnya.



-Teacher-

Dari perjalananku beberapa bulan terakhir mencoba menjadi pendidik, aku mulai paham mengapa guru2 –sejak tingkat SD sampai PT- selalu suka pada murid yang pintar. Bagaimana tidak kalau bahasa jawanya “ulang-ulangane ra ngentekno kapur”, terjemahan bebasnya “untuk mengajarinya tidak menghabiskan kapur” hingga tak perlu menghabiskan banyak waktu dan pikiran. Dengan menjelaskan sedikit saja dia akan mengerti, berbeda dengan mereka yang “agak lamban”, harus dijelaskan beberapa kali, dengan beberapa cara, itupun syukur2 kalau akhirnya benar2 bisa paham, kalau masih tetap tak bisa? Hmm, kalau aku harus banyak2 bersabar dan berusaha tetap bertampang “manis” karena yang kuajar adalah orang lain, jika adikku sendiri –seperti dulu ketika sering mengajarinya- mungkin sudah ku omel-omeli habis2an.



Hmm, susah juga jadi guru, tapi yang aku tak habis pikir mengapa ya gaji guru sangat rendah jika dibandingkan dengan profesi lain? mengenaskan sekali pikirku. Padahal objek yang dia garap bukan sekedar benda mati yang jika salah garap masih bisa diulang lagi, tapi manusia yang kalau salah garap bisa2 rusak dan merusak. Dan cerdas saja tak cukup sebagai modal untuk menjadi guru -bahkan menurutku untuk menjadi guru tak perlu sosok yang sangat cerdas, jenius, yang berIQ sangat tinggi- tapi harus bisa mencerdaskan (karena banyak orang cerdas yang tak mampu menularkan kecerdasannya, akibat ketidakmampuannya mentransfer pemahamannya dengan bahasa dan cara yang mudah dipahami orang2 yang tak secerdas dirinya) dan mampu menjadi teladan serta menanamkan nilai2 pada anak didiknya.



Terlebih anak2 sekarang sangat kritis, mereka tidak begitu saja mau menerima ketika kita mulai nyerocos mereka harus begini begitu, tak boleh begini begitu, mereka akan terus bertanya mengapa dan mengapa hingga mereka puas dengan argumen yang kita sodorkan. Mereka pun tak segan2 menyanggah pendapat kita jika dirasa tak sesuai dengan jalan pikiran mereka. -jaman saya dulu seingatku sepertinya murid2 tak seperti ini, jika guru mengatakan A maka murid2 akan taklid begitu saja tanpa berani menyanggah atau bertanya mengapa, mungkin pada jamanku anak2 masih sangat lugu dan bodoh kali ya?-. Mereka tak canggung2 menanggapi dan mengomentari apa2 yang disampaikan gurunya. Bahkan jika suatu ketika gurunya “khilaf” mengucapkan atau berbuat sesuatu yang kurang pas, mereka akan spontan menegur, langsung tanpa basa basi atau ewuh pakewuh (istilah jawa yang juga baru belakangan ini kudapat, yang artinya kurang lebih sungkan).

Hmm, jamannya memang sudah berbeda ya?



(Aku pribadi lebih senang mengajarnya mengalir saja tanpa terikat aturan baku; standar ini itu, program ini itu dan segala aturan administrasi yang tak praktis. Seenaknya sendiri ya? he3)



-School and home-

Ngomong2 tentang guru dan murid, sekalian aja sama tempatnya; sekolah. Dari apa yang kulihat dan kubaca, sekolah2 bernafas Islam juga termasuk pesantren, terkadang –aku tak ingin menggunakan kata “seringkali”- dijadikan semacam tempat karantina bagi anak2 bermasalah dan dijadikan tempat penitipan bagi anak2 yang kurang perhatian. Contoh saja, ketika ada anak yang sangat “nakal”, biasanya orang2 akan berkomentar “masukkan saja ke pesantren”. Begitupun halnya dengan anak2 yang kekurangan perhatian karena kedua ortunya terlalu sibuk, anaknya akan dimasukkan ke sekolah2 islam yang favorit. -Walau tak semua ortu seperti itu-



Dengan begitu mereka berharap anak2nya akan disulap “bim salabim” menjadi anak2 yang manis dan sholeh/ah. Dan seakan2 tanggung jawab ortu untuk mendidik sudah selesai dengan memasukkan mereka ke sekolah2 itu. Hmm, padahal sekolah saja tak cukup, sangat tak cukup bahkan. Seharusnya rumahlah tempat mereka mendapat pendidikan pertama kali, seharusnya ibulah pendidik pertama, yang tak hanya mengenalkan mereka bagaimana cara berjalan namun juga mengenalkan mereka pada agamanya. Rasanya, sudah saatnya kita kembali menjalankan peran kita masing2.



Apalagi jika atmosfer sekolah dan rumah sangat kontras, ketika di sekolah mereka melihat bagaimana guru2 mereka berjilbab rapi lalu dirumah melihat ibunya memakai baju dan celana mini, tentu si anak akan bingung, yang mana yang harus diikutinya. Di satu sisi ortu memilihkan sekolah yang islami, namun di sisi lain tak menciptakan atmosfer rumah dan teladan yang islami, sebuah anomali, bagai berjalan ke dua arah berlawanan secara bersamaan, bisa dipastikan akan jatuh terjengkang.



Sungguh benar bahwa kewajiban ortu pada anak pertama kali adalah memilihkan ibu yang baik. Dari ibu yang baiklah akan mungkin lahir generasi2 yang baik pula, begitupun sebaliknya. Walau tetap hidayah itu dari Allah, sementara kita –sebagai ortu- sekedar berusaha untuk menjadi sebab datangnya hidayah itu.



Allahu a’lam.