PART I
Hmm daftar koreksi2ku yang berakhir tragis, namun setidaknya daripada berakhir begitu saja di t4 sampah, kurasa tak ada salahnya jika kugoreskan saja di ms word ini –he3, mekso-, agar tak berakhir terlalu tragis dan bisa sedikit diambil manfaatnya.
Adalah sebuah omong kosong jika berkoar2 berdakwah namun di sisi lain sebagian cara yang digunakan haram, hendak meneladadni Robin hood kah? Mencuri untuk kemudian diberikan pada orang2 miskin, menyuapi mulut mereka dengan makanan haram hasil curian? Begitukah?
Ketika ada yang mengingatkan akan kesalahan itu pun tak diterima. Kemudian berdalil dengan pendapat si ini si itu, yang kalau mau jujur pendapat itu tak sesuai dengan al qur’an dan sunnah. Apakah kita lupa bahwa semua perkataan bisa diterima (bila sesuai dengan al qur’an dan sunnah) dan bisa ditolak (bila tidak sesuai dengan al qur’an dan sunnah), kecuali perkatan Rasul yang ma’shum?
Bahkan imam syafii –seorang ulama kenamaan- sendiri pernah mengatakan untuk mengambil pendapatnya jika sesuai dengan al qur’an dan sunnah dan membuangnya jika tidak. Lalu masih pantaskah kita taklid –fanatisme membabi buta- pada seseorang yang “ditokohkan”, dan menelan mentah2 semua perkataannya?? Terlebih jika mengaku sebagai orang yang “cerdas”, paham agama atau bahkan pengemban dakwah/da’i ?
Kalau mau berdalil dengan sekedar pendapat, pendapat itu pun sangat banyak, dari yang mendekati kebenaran sampai yang paling nyeleneh. Dan kalau kita mengumpulkan pendapat2 yang ganjil dari para ulama –yang benar2 ulama tentu-, maka terkumpullah semua keburukan pada diri kita, begitukah yang kita mau? Ataukah kita ingin menjadi “golongan moderat” yang tidak terlalu rusak seperti manusia kebanyakan dan tidak terlalu taat pada syariat? Setengah2 dunk, tapi memang “golongan” itulah yang banyak digemari orang2, mungkin karena lebih fleksibel dan terkesan lebih toleran.
Hmm, moderat di satu sisi namun fanatik di sisi lain, sebuah inkonsistensi alias ga konsisten.
(sebenarnya pengertian moderat yang benar adalah yang beragama sesuai qur’an dan sunnah, tidak ekstrim keras dan ekstrim meremehkan, tapi memang kata moderat sering diselewengkan artinya )
Tak cukup dengan menolak kebenaran, masih ditambah dengan menghujat sebuah manhaj (perlu diingat; MANHAJ bukan harakah) yang biasa saja sebenarnya, hanya manhaj berislam dengan al qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salafus sholeh, tak ada yang aneh. Dan memang begitulah seharusnya kita berIslam, bukannya bermanhaj dengan taklid pada tokoh, organisasi/kelompok/pergerakan/harakah, dan kemudian membuat lingkaran2 kecil dalam lingkaran besar Islam, masih dibumbui dengan fanatik dan loyalitas membabi buta (saya masih belum mengerti mengapa ada frase “membabi buta”, sudah babi, buta lagi, parah banget ya?) diatasnya. Padahal seharusnya, loyalitas itu diatas Islam, bukan diatas organisasi de es be.
Dan kemudian menggunakan kata “khilaf” sebagai senjata atau hujjah, hingga kita harus berlapang dada, tak boleh tuding-menuding, tak boleh menyalahkan, tak boleh merasa benar sendiri de es be. Kalimat ini benar sebenarnya jika ditempatkan pada tempatnya, pada masalah fiqih yang memang ulama2 ahlu sunnah berikhtilaf didalamnya. Namun jika masalahnya tidak menjadi khilaf dikalangan ulama ahlu sunnah, apalagi memang ada dalil yang gamblang tentang hal itu, apa kalimat diatas masih relevan?
Dan menuding mereka2 yang mencoba istiqomah diatasnya dengan dengan predikat; kaku, suka memvonis, tak berakhlak, de es be. “Tak kenal maka tak sayang” mungkin penggalan kalimat ini bisa mewakilinya. Sepertinya perlu membaca ini: http://konsultasisyariah.com/apa-makna-salaf-salafi-atau-salafiyun.
----------------------------
Dari sini aku mengambil pelajaran, untuk mendakwahi seseorang –terutama jika dia adalah orang yang pintar, atau hanya sekedar merasa pintar- kita harus pandai2 berargumen dan bersilat lidah. Jika tidak, bisa2 kita yang akan balik “didakwahi”, dan kita hanya bisa terbengong2 dibuatnya, jadi berasa bego banget. Hingga lidah tak mampu lagi meneruskan membaca draft kesalahan2 yang harus dikoreksi. Ibarat menjual produk, agar laku tak cukup hanya dengan membuat produk yang bagus, tapi juga perlu dikemas semenarik mungkin, dan tak lupa promosi yang gencar dan persuasif tentunya.
hmm, pantaslah jika kemudian Nabi Musa alaihissalam memohon pada Allah agar menjadikan Nabi Harun alaihissalam –yang lebih cakap berbicara darinya- agar dijadikan “juru bicara”nya.
Berbicara pun butuh kecerdasan ternyata, tadinya kupikir orang2 yang pintar bicara itu seringkali hanya membual. Bersyukurlah mereka yang diberi kefasihan lisan.
Astaghfirullah, ampuni hamba Ya Allah jika marahnya hamba hanya karena nafsu, dan jika karenanya terucap apa yang seharusnya tak terucap.
(SAMPAI DI BAGIAN INI KUTULIS DENGAN MELEDAK2, WALAUPUN SUDAH AGAK DINGIN SEBENARNYA KARENA MOMENTNYA SUDAH LEWAT CUKUP LAMA)
-------------------------------------------------------------------------
PART II
Melanjutkan kalimat “tak kenal maka tak sayang” diatas
Seperti cerita seorang guru yang melarang muridnya membaca kitab karangan seorang ulama, -entah, mungkin karena dia mendapat info yang salah tentang ulama itu-. Namun ketika dia diberi kitab itu, dengan cover depannya dirobek lebih dulu, sehingga nama pengarangnya terbuang. Ia mengatakan bahwa itu adalah kitab yang bagus.
Hmm, nampaknya kita memang perlu “membaca” –apapun itu: paham maupun seseorang- dengan cara seperti itu, tanpa melihat covernya lebih dulu, dan dimulai dari 0, tanpa mendengarkan stigma2 negatif dan sebaliknya citra2 baik. Barulah kemudian kita bisa menilai dengan objektif. Dan penilaian itu akan lebih objektif lagi jika sebagai “pengamat” pernah benar2 terjun pada objek itu, atau bahkan menjadi bagian dari objek itu, jadi benar2 bisa merasakan secara langsung, bukan hanya “katanya” dan “katanya”.
Karena penilaian yang tidak diawali dari nol, yang belum apa2 sudah ada dilabeli dengan stigma2 seringkali hasilnya tak objektif.
Seorang kawan, pernah tertarik untuk “menyelidiki” sesuatu yang diberi image buruk oleh orang2, hal itu membuatnya penasaran untuk tahu apakah benar yang dituduhkan itu. Daripada hanya percaya dengan “katanya” lebih baik dia terjun langsung ke objek itu pikirnya, dan akhirnya dia dapati bahwa semua tuduhan itu tak benar.
Seperti peristiwa bom WTC yang heboh kala itu, media menggembar-gemborkan bahwa islam itu teroris, dan ternyata image buruk itu menjadi “promosi” tersendiri. Orang2 pun berbondong2 mempelajari Islam untuk menyelidiki apa benar tuduhan itu. Ketika mereka dapati semua kabar itu dusta dan ternyata islam itu indah, akhirnya berbondong2lah mereka masuk Islam. Alhamdulillah, jadi teringat surat an nashr.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr: 1-3)
Jadi, terkadang image yang buruk tentang sesuatu membuat orang antipati dan enggan untuk bersinggungan dengan hal itu. Namun ada kalanya, image yang buruk justru membuat orang penasaran untuk mengetahui kebenaran isu itu.
Untuk orang jenis pertama, jika mulanya dia meyakini sesuatu yang sebenarnya “salah”, maka dia tidak akan pernah keluar dari keyakinannya karena tak pernah mau membuka cakrawala. Namun sebaliknya, jika apa yang diyakininya itu “benar”, maka dia akan terus berada dijalurnya.
Untuk orang jenis kedua, sikap ini cukup berbahaya jika diterapkan pada semua objek yang dilabeli dengan image buruk. Jika memang objek itu diberi label buruk oleh orang2 yang kompeten di bidangnya, maka percayalah dan tak usah penasaran untuk menyelidiki. Karena dari rasa penasaran ini juga banyak orang yang akhirnya tersesat, karena setelah terjun pada objek, otaknya ikut tercuci.
Contohnya saja sebuah paham yang sudah dinyatakan sesat oleh MUI bahkan para ulama dunia; paham liberal. Maka tak perlulah kita bersusah payah terjun langsung menyelidiki ke objek tersebut, semisal membaca buku2 mereka, apalagi jika kita adalah orang2 yang kapasitas ilmunya pas2an, bukan ulama. Karena hati kita lemah, sementara subhat yang datang menyambar bagaikan petir. Jangan jadikan hati kita seperti tong sampah yang menampung semua benda kotor, tapi selektilah untuk memasukkan hanya yang baik2, begitupun halnya dengan bacaan (ini bukan kata saya lo, kata ustadz). Karena dari rasa penasaran ini, bukan tak mungkin seseorang akan terseret oleh arus dan akhirnya tenggelam dalam kesesatan.
Saya pribadi, pernah mencoba membaca bukunya “orang liberal” dan subhanallah baru beberapa lembar saya sudah bergidik dibuatnya, bagaimana tidak argumen yang mereka utarakan seakan2 sangat bisa diterima oleh akal, seakan2 tampak benar. Langsung saja kuhempaskan buku itu dan kukembalikan pada yang punya.
hmm, hati2 memilih bacaan maupun audio etc, terutama tentang din ini, ambillah dari mereka yang memang kompeten di bidangnya dan dari sumber2 yang benar terpercaya. Untuk buku2 carilah penerbit yang betul2 komitmen, penulis yang berkapasitas. Untuk web2 di internetpun demikian, jangan asal comot aja, asal judulnya islami. Begitupun audio, dengarkan ceramah dari sumber2 yang terpercaya.
Bukannya apatis, tapi berhati2. Karena mereka2 yang menyebarkan bidah, ada kalanya diantara perkataannya ada yang benar namun perlahan2 disisipkan bidahnya (sangat parah jika bidahnya dalam hal aqidah). Terlebih sebagai orang awam, yang baru belajar, tentu kita takkan mampu membedakan mana dari perkataannya yang benar dan yang salah. So, cari yang pasti2 aja.
Ibarat madu, tentu kita hanya mau mengkonsumsi madu murni, bukan madu yang aspal (asli tapi palsu) yang sudah tercampur dan terkontaminasi oleh zat lain. Maka, demikian halnya dalam masalah agama, ambillah hanya yang benar2 murni, bukan yang aspal atau bahkan palsu.
(SEDANGKAN BAGIAN KEDUA INI, KUTULIS KETIKA BENAR2 SUDAH DINGIN, JADI MAKLUM SAJA KALAU RASANYA BEDA)
NB: pren, ingatkan aku jika tulisanku mulai liar, ;)
Kamis, 01 Desember 2011
CATATAN HARIAN SEORANG PRAMUSAJI
211111
(Sebuah Catatan tentang jenis2 pelanggan, dilihat dari sudut pandang seorang pramusaji)
Ada jenis2 pelanggan warung makan/ rumah makan/ warteg (emang warteg itu yang punya musti orang tegal ya?) de es be deh yang disukai dan tidak disukai.
Jenis2 pembeli yang tak disukai antara lain:
1. Pembeli cerewet
Yaitu pembeli yang kalau pesan menu ga cukup hanya dengan menyebutkan menu apa saja yang dipesan, tapi selalu ditambah2i dengan minta ini minta itu, tambah ini tambah itu. Ga nriman lah istilah jawanya. Mending kalau cerewet gitu menu yang dipesan yang mahal, sebanding lah, tapi kalau dah cerewet menunya milih yang murah lagi, huuh sebel BGT deh.
2. Pembeli angkrem
Tipe kedua ini, adalah pembeli yang kalau dah duduk di RM, pantatnya dah kayak dilem, mengeram aja ga pergi2. Lebih parah lagi kalau ditambah dengan mengoceh ngalor ngidul, mending kalau topik pembicaraannya berbobot. Dan yang paling menyebalkan lagi, jika mengeramnya itu karena pembeli itu lagi pacaran (baca: berduaan), huft ini menyebabkan sebel stadium 4. Apalagi jika ditambah lagi dengan menu yang dipilih yang murah, atau bahkan sepiring berdua (ini sih bukan romantis lagi, tapi miskin).
Untuk “mengusir” pembeli2 model gini, tak jarang pramusaji dan empunya RM melakukan gerakan2 tambahan yang membuat mereka merasa tak nyaman dan segera cabut dari RM, semisal: berteriak2 memanggil2 rekannya, mondar-mandir di depan pembeli de es be lah.
(ini untuk warung makan biasa lo, kalau untuk t4 makan yang memang di desain untuk hang out sih sah2 saja kalau berlama2 disana)
3. Pembeli yang sok penting
ada juga pembeli yang sok penting, ngerasa berjasa banget dah menjadi perantara datangnya uang ke tangan empunya RM.
Pembeli2 yang disukai:
1. Pembeli yang nriman
Yaitu pembeli yang ga cerewet kalau beli, kalau pesan menu ya cukup gitu aja, ga minta ini itu.
2. Pembeli yang sering membeli dalam jumlah besar atau yang membeli menu yang mahal
Yaitu pembeli yang kalau pesan menu yang harganya mahal atau kalau beli dalam jumlah banyak.
3. Pembeli yang cepat
Yaitu pembeli yang SMP (selesai makan pulang), ga banyak cingcong
Dari tipe-tipe diatas, termasuk yang manakah anda? (sorry ya kalau coretan ini subjektif sekali, he3)
(Sebuah Catatan tentang jenis2 pelanggan, dilihat dari sudut pandang seorang pramusaji)
Ada jenis2 pelanggan warung makan/ rumah makan/ warteg (emang warteg itu yang punya musti orang tegal ya?) de es be deh yang disukai dan tidak disukai.
Jenis2 pembeli yang tak disukai antara lain:
1. Pembeli cerewet
Yaitu pembeli yang kalau pesan menu ga cukup hanya dengan menyebutkan menu apa saja yang dipesan, tapi selalu ditambah2i dengan minta ini minta itu, tambah ini tambah itu. Ga nriman lah istilah jawanya. Mending kalau cerewet gitu menu yang dipesan yang mahal, sebanding lah, tapi kalau dah cerewet menunya milih yang murah lagi, huuh sebel BGT deh.
2. Pembeli angkrem
Tipe kedua ini, adalah pembeli yang kalau dah duduk di RM, pantatnya dah kayak dilem, mengeram aja ga pergi2. Lebih parah lagi kalau ditambah dengan mengoceh ngalor ngidul, mending kalau topik pembicaraannya berbobot. Dan yang paling menyebalkan lagi, jika mengeramnya itu karena pembeli itu lagi pacaran (baca: berduaan), huft ini menyebabkan sebel stadium 4. Apalagi jika ditambah lagi dengan menu yang dipilih yang murah, atau bahkan sepiring berdua (ini sih bukan romantis lagi, tapi miskin).
Untuk “mengusir” pembeli2 model gini, tak jarang pramusaji dan empunya RM melakukan gerakan2 tambahan yang membuat mereka merasa tak nyaman dan segera cabut dari RM, semisal: berteriak2 memanggil2 rekannya, mondar-mandir di depan pembeli de es be lah.
(ini untuk warung makan biasa lo, kalau untuk t4 makan yang memang di desain untuk hang out sih sah2 saja kalau berlama2 disana)
3. Pembeli yang sok penting
ada juga pembeli yang sok penting, ngerasa berjasa banget dah menjadi perantara datangnya uang ke tangan empunya RM.
Pembeli2 yang disukai:
1. Pembeli yang nriman
Yaitu pembeli yang ga cerewet kalau beli, kalau pesan menu ya cukup gitu aja, ga minta ini itu.
2. Pembeli yang sering membeli dalam jumlah besar atau yang membeli menu yang mahal
Yaitu pembeli yang kalau pesan menu yang harganya mahal atau kalau beli dalam jumlah banyak.
3. Pembeli yang cepat
Yaitu pembeli yang SMP (selesai makan pulang), ga banyak cingcong
Dari tipe-tipe diatas, termasuk yang manakah anda? (sorry ya kalau coretan ini subjektif sekali, he3)
"KEBETULAN" YANG TERENCANA
oleh Lif Syifa pada 15 November 2011 jam 20:00
Seperti sebuah kebetulan, namun aku tak percaya kata “kebetulan”, karena segala yang terjadi di dunia ini sudah terencana dan tertulis dengan rapi di lauhul mahfudz, tanpa meleset sedikitpun.
Menjelang subuh telingaku sudah dimanjakan dengan lantunan surat ar rahman dari speaker masjid (memang biasanya menjelang adzan, masjid2 sering menyetel murottal kan? namun aku tidak sedang membicarakan mengenai tepat atau tidaknya hal itu, setahuku memang tak ada tuntunannya).
Pagi harinya ketika hendak tilawah, saat kubuka al qur’an, subhanallah ternyata bacaanku sudah sampai surat ar rahman juga, akhirnya aku pun membaca surat itu.
Siang harinya, menjelang adzan dhuhur, kembali aku diperdengarkan surat itu.
Subhanallah, aku seperti diingatkan dengan surat ini ketika sedang galau (ah mungkin aku memang terlalu lebay).
Mungkin ini sebuah teguran halus agar aku tak kufur nikmat, agar aku mensyukuri segala yang sudah Allah beri padaku dan tak terlalu merasa susah dengan cobaan yang diberikanNya padaku.
Dan entahlah, surat itu begitu berkesan buatku dibanding surat2 lain, mungkin karena aku tak paham bahasa arab (tahunya paling2; akhi, ukhti, dkk. he3), dan mungkin karena susunan ayat2 dalam surat ini yang unik karena ada kalimat yang diulang2, sehingga aku sangat mengingat kalimat2 itu. Dan mendengarnya benar2 membuat hati ini terenyuh (entah apa kalimat yang tepat untuk menggambarkannya).
Ramadhan tahun lalu pun –di sepuluh malam terakhirnya lebih tepatnya, entah tanggal berapa- ketika aku sedang galau, aku juga diperdengarkan surat ini, melalui lisan imam masjid kampusku, imamnya sampai sesenggukan saking menghayatinya, dan aku pun serasa ikut hanyut dalam lantunan ayat2 itu, syahdu sekali.
Dan ramadhan tahun ini pun demikian, di sepuluh malam terakhir pula, ketika shalat tarawih imamnya juga melantunkan surat yang sama, sampai sesenggukan juga, dan aku kembali hanyut dalam lantunan surat itu. Dan kurasa malam itu adalah malam ramadhan terindah di tahun ini, malam lailatul qadarkah? Allahu a’lam
Jadi, jika ditanya surat cinta siapa yang paling berkesan bagimu? Kujawab “surat cinta dari Allah yang berjudul ar rahman”. Kalau kamu?
“Dan nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?”
NB: ternyata menjelang magrib pun murottalnya masih sama; ar rahman.
131111
posting yang tertunda,he3
Seperti sebuah kebetulan, namun aku tak percaya kata “kebetulan”, karena segala yang terjadi di dunia ini sudah terencana dan tertulis dengan rapi di lauhul mahfudz, tanpa meleset sedikitpun.
Menjelang subuh telingaku sudah dimanjakan dengan lantunan surat ar rahman dari speaker masjid (memang biasanya menjelang adzan, masjid2 sering menyetel murottal kan? namun aku tidak sedang membicarakan mengenai tepat atau tidaknya hal itu, setahuku memang tak ada tuntunannya).
Pagi harinya ketika hendak tilawah, saat kubuka al qur’an, subhanallah ternyata bacaanku sudah sampai surat ar rahman juga, akhirnya aku pun membaca surat itu.
Siang harinya, menjelang adzan dhuhur, kembali aku diperdengarkan surat itu.
Subhanallah, aku seperti diingatkan dengan surat ini ketika sedang galau (ah mungkin aku memang terlalu lebay).
Mungkin ini sebuah teguran halus agar aku tak kufur nikmat, agar aku mensyukuri segala yang sudah Allah beri padaku dan tak terlalu merasa susah dengan cobaan yang diberikanNya padaku.
Dan entahlah, surat itu begitu berkesan buatku dibanding surat2 lain, mungkin karena aku tak paham bahasa arab (tahunya paling2; akhi, ukhti, dkk. he3), dan mungkin karena susunan ayat2 dalam surat ini yang unik karena ada kalimat yang diulang2, sehingga aku sangat mengingat kalimat2 itu. Dan mendengarnya benar2 membuat hati ini terenyuh (entah apa kalimat yang tepat untuk menggambarkannya).
Ramadhan tahun lalu pun –di sepuluh malam terakhirnya lebih tepatnya, entah tanggal berapa- ketika aku sedang galau, aku juga diperdengarkan surat ini, melalui lisan imam masjid kampusku, imamnya sampai sesenggukan saking menghayatinya, dan aku pun serasa ikut hanyut dalam lantunan ayat2 itu, syahdu sekali.
Dan ramadhan tahun ini pun demikian, di sepuluh malam terakhir pula, ketika shalat tarawih imamnya juga melantunkan surat yang sama, sampai sesenggukan juga, dan aku kembali hanyut dalam lantunan surat itu. Dan kurasa malam itu adalah malam ramadhan terindah di tahun ini, malam lailatul qadarkah? Allahu a’lam
Jadi, jika ditanya surat cinta siapa yang paling berkesan bagimu? Kujawab “surat cinta dari Allah yang berjudul ar rahman”. Kalau kamu?
“Dan nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?”
NB: ternyata menjelang magrib pun murottalnya masih sama; ar rahman.
131111
posting yang tertunda,he3
CURHAT YANG TERTUNDA
oleh Lif Syifa pada 15 November 2011 jam 19:26
Pernah tidak kamu merasakan ketika sedang bahagia meluap2, sedih hingga air mata berderai2 atau kesal meledak2 dan ingin sekali berbagi pada seorang kawan (baca: curhat), namun karena satu dan lain hal kamu tak dapat langsung bertemu dan curhat padanya, baru beberapa hari kemudian kamu bisa bertemu dan curhat. Ibarat masakan dah ga “panas” lagi, dah ga dapet feelnya. Wajar aja, meluap2nya kemarin curhatnya baru hari ini ketika kita sudah “dingin”.
Pernah tidak kamu merasakan ketika sedang bahagia meluap2, sedih hingga air mata berderai2 atau kesal meledak2 dan ingin sekali berbagi pada seorang kawan (baca: curhat), namun karena satu dan lain hal kamu tak dapat langsung bertemu dan curhat padanya, baru beberapa hari kemudian kamu bisa bertemu dan curhat. Ibarat masakan dah ga “panas” lagi, dah ga dapet feelnya. Wajar aja, meluap2nya kemarin curhatnya baru hari ini ketika kita sudah “dingin”.
Begitupun, ketika suatu saat aku ingin sekali berceloteh (lewat tulisan) tentang apa saja yang sedang hangat2nya ketika itu, namun karena tak sempat (tak ada waktulah, ada waktu tapi tak ada saranalah (netbi), atau ada waktu dan sarana tapi keadaannya tak memungkinkan) hingga akhirnya hanya bisa tersimpan beberapa keyword sebagai note di hp atau di netbi dan beberapa hari kemudian baru tersalurkan, tetap bisa tertulis memang, tapi udah ga dapet feelnya, ibarat makan bakso yang sudah dingin, kurang siip. Hmm, apalagi inspirasi itu sering datang di saat2 tak terduga. Dan kalau aku diberi waktu libur seminggu saja, dari pekerjaan sekolah n pekerjaan rumah (PR kalee, jadi berasa anak sekolahan) ,mungkin enak kali ya, bisa dengan tenang menyalurkan uneg2ku semuanya pada waktunya.

Jadi pengen punya iPhone atau iPad yang bisa dibawa kemana-mana, bahasa kerennya apa ya? aku lupa (o iya, portable) dan bisa digunakan kapan pun, praktis en ga ribet. Ada yang bersedia memberikanya sebagai hadiah? Kalau ada aku pasti senang sekali. he3, ngarep.com. ^^
SEKALI (LAGI) TENTANG BAU
oleh Lif Syifa pada 12 Oktober 2011 jam 19:46
Kali ini saya ingin berbicara (baca: menulis) lagi2 tentang bau, tapi bukan lagi “bau” dalam arti kiasan, melainkan bau yang sebenarnya.
Hmm, ketika kita sedang sakit entah mengapa (mungkin ada yang bisa menjelaskan?) bau badan kita tidak seperti biasanya (sebenarnya ini pengalaman pribadi). Mungkin biasanya bau kecut (bagi yang merasa,he3) tapi ketika sakit baunya benar2 beda, apa mungkin pengaruh reaksi metabolisme tubuh kita yang tak normal seperti biasa ya? atau karena efek obat2an yang kita minum, yang menguap lewat keringat? Entahlah. Atau ku tanyakan saja jawabnya pada rumput yang bergoyang? Ah ku rasa dia tak akan mau menjawab (mulai eror deh).
Ngomong2 soal sakit, mungkin sebagian dari kita kalau sakit ada yang suka ngomel2 dan menggerutu ga jelas, padahal kalau kita tau keutamaan sakit mestinya kita bersyukur udah sakit.
Diantara keutamaan sakit adalah:
1. Sebagai pelebur dosa2
2. Mengingatkan akan dosa2
3. Meninggikan derajat
4. Menambah pahala
5. Saatnya Ibadah hati berupa sabar, de el el
Tentunya semua keutamaan itu berlaku dengan syarat kita sabar menghadapi sakit itu.
Meskipun demikian kita tetap dianjurkan untuk berobat (hmm, sebenarnya saya pribadi paling malas berhubungan dengan yang namaya “dokter”), “tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obat untuk penyakit itu” (HR. Bukhari). Lalu apa saja ya doa2 (ruqyah syar’iyah, sebagian kita mungkin menyangka ruqyah hanya untuk orang kesurupan, padahal tidak demikian) untuk orang sakit? Bagaimana kiat2 supaya sabar? N apa lagi kabar gembira bagi orang sakit dan tertimpa musibah? Terus apa lagi ya? de el el deh Temukan jawabannya di:
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Kado%20Istimewa%20untuk%20Orang%20Sakit%20dan%20Tertimpa%20Musibah
O ya, ada juga buku bagus nih, judulnya “KEDOKTERAN NABI shalallahu ‘alaihi wasallam, Antara Realitas dan Kebohongan” terbitan shafa publika, karya Ustadz Abu Umar Basyier, penulis terkenal itu (penulis favoritku juga, he3)
Allahu a’lam, semoga bermanfaat
Kali ini saya ingin berbicara (baca: menulis) lagi2 tentang bau, tapi bukan lagi “bau” dalam arti kiasan, melainkan bau yang sebenarnya.
Hmm, ketika kita sedang sakit entah mengapa (mungkin ada yang bisa menjelaskan?) bau badan kita tidak seperti biasanya (sebenarnya ini pengalaman pribadi). Mungkin biasanya bau kecut (bagi yang merasa,he3) tapi ketika sakit baunya benar2 beda, apa mungkin pengaruh reaksi metabolisme tubuh kita yang tak normal seperti biasa ya? atau karena efek obat2an yang kita minum, yang menguap lewat keringat? Entahlah. Atau ku tanyakan saja jawabnya pada rumput yang bergoyang? Ah ku rasa dia tak akan mau menjawab (mulai eror deh).
Ngomong2 soal sakit, mungkin sebagian dari kita kalau sakit ada yang suka ngomel2 dan menggerutu ga jelas, padahal kalau kita tau keutamaan sakit mestinya kita bersyukur udah sakit.
Diantara keutamaan sakit adalah:
1. Sebagai pelebur dosa2
2. Mengingatkan akan dosa2
3. Meninggikan derajat
4. Menambah pahala
5. Saatnya Ibadah hati berupa sabar, de el el
Tentunya semua keutamaan itu berlaku dengan syarat kita sabar menghadapi sakit itu.
Meskipun demikian kita tetap dianjurkan untuk berobat (hmm, sebenarnya saya pribadi paling malas berhubungan dengan yang namaya “dokter”), “tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan obat untuk penyakit itu” (HR. Bukhari). Lalu apa saja ya doa2 (ruqyah syar’iyah, sebagian kita mungkin menyangka ruqyah hanya untuk orang kesurupan, padahal tidak demikian) untuk orang sakit? Bagaimana kiat2 supaya sabar? N apa lagi kabar gembira bagi orang sakit dan tertimpa musibah? Terus apa lagi ya? de el el deh Temukan jawabannya di:
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Kado%20Istimewa%20untuk%20Orang%20Sakit%20dan%20Tertimpa%20Musibah
O ya, ada juga buku bagus nih, judulnya “KEDOKTERAN NABI shalallahu ‘alaihi wasallam, Antara Realitas dan Kebohongan” terbitan shafa publika, karya Ustadz Abu Umar Basyier, penulis terkenal itu (penulis favoritku juga, he3)
Allahu a’lam, semoga bermanfaat
SIFAT SHALAT DAN WUDHU NABI shallallahu ‘alaihi wasallam (LAGI)
oleh Lif Syifa pada 12 Oktober 2011 jam 8:48
WORO2:
Alhamdulillah, silakan download penjelasan dari dua buah buku kecil dengan judul:
1. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin
2. Sifat Wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin
Kajian ini disampaikan oleh Al Ustadz Abdullah Hadrami hafizhahullah. Semoga kajian yang beliau sampaikan bermanfaat. Silakan download pada link berikut:
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Kajian%20Buku%20Sifat%20Sholat%20dan%20Wudhu%20Nabi
NB: alangkah lebih baiknya jika bukunya dimiliki terlebih dahulu
WORO2:
Alhamdulillah, silakan download penjelasan dari dua buah buku kecil dengan judul:
1. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin
2. Sifat Wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin
Kajian ini disampaikan oleh Al Ustadz Abdullah Hadrami hafizhahullah. Semoga kajian yang beliau sampaikan bermanfaat. Silakan download pada link berikut:
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Kajian%20Buku%20Sifat%20Sholat%20dan%20Wudhu%20Nabi
NB: alangkah lebih baiknya jika bukunya dimiliki terlebih dahulu
Tentang ULTAH dan LOLAnya si processor
oleh Lif Syifa pada 10 Oktober 2011 jam 22:59
Berkoar-koar berteori memang mudah, namun prakteknya tak selalu semudah teorinya. Beberapa jam lalu aku ditelpon ortu siswa, beliau mengatakan besok akan membawa kue ke sekolah sekitar jam 11, dan bertanya apakah tidak mengganggu, karena besok anaknya berusia tepat 7 tahun. Karena begitu cepat dan mendadak –tanpa ada jeda waktu bagiku untuk berpikir- aku mengiyakan saja permohonannya. Beliau juga sempat sms bertanya jumlah siswa kelas 2, yang terdiri dari 2 kelas.
-Dan memang biasanya jika aku ditohok tiba2 dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang memojokkan aku akan refleks mengelak, padahal setelah dipikir2 kadang pernyataan itu memang benar, begitupun sebaliknya (seperti contoh diatas), sepertinya ini yang dalam bahasa psikologinya disebut reaktif. Dan biasanya hasil dari respon yang refleks itu selalu tidak memuaskan hingga geram aku dibuatnya, tapi kalau kupikir2 dulu secara mendalam biasanya dah keburu telat, au’ ah gelap. Hmm Kayaknya processor otakku perlu kecepatan lebih deh, biar loadingnya ga lambat (kalau diibaratkan komputer entah pentium berapa ya? mengenaskan sekali), biar cepat memproses pesan dan memberi reaksi yang tepat, dan sepertinya –lagi- inilah yang disebut proaktif-
Namun setelah percakapan itu ditutup, akupun berpikir bagaimana caranya aku mencegah acara ultah besok. Akhirnya kukirimkan saja sms, “maaf bu merayakan ultah itu bukan budaya Islam. Sepertinya berasal dari barat, dan kita dilarang menyerupai suatu kaum. Tapi kalau ibu sudah terlanjur pesan kue, ya diniatkan berbagi rizki aja, insya Allah semoga ga pa2”
Kalau aku di posisi siswa, mudah saja, aku tidak usah masuk sekolah agar aku tak menyaksikan acara ultah itu. Tapi karena aku di posisi yang berbeda –guru- tentu aku aku harus bertindak untuk mencegah hal itu terjadi.
Hmm, semoga aku bisa mencegah apa yang harus aku cegah, mendakwahkan apa yang harus aku dakwahkan dan memperbaiki apa yang harus aku perbaiki , mudahkanlah ya Allah, amin.
Tapi BTW, smsku kok ga dibales2 y?? Dah terkirim belum sih? -_-?
091011
Berkoar-koar berteori memang mudah, namun prakteknya tak selalu semudah teorinya. Beberapa jam lalu aku ditelpon ortu siswa, beliau mengatakan besok akan membawa kue ke sekolah sekitar jam 11, dan bertanya apakah tidak mengganggu, karena besok anaknya berusia tepat 7 tahun. Karena begitu cepat dan mendadak –tanpa ada jeda waktu bagiku untuk berpikir- aku mengiyakan saja permohonannya. Beliau juga sempat sms bertanya jumlah siswa kelas 2, yang terdiri dari 2 kelas.
-Dan memang biasanya jika aku ditohok tiba2 dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang memojokkan aku akan refleks mengelak, padahal setelah dipikir2 kadang pernyataan itu memang benar, begitupun sebaliknya (seperti contoh diatas), sepertinya ini yang dalam bahasa psikologinya disebut reaktif. Dan biasanya hasil dari respon yang refleks itu selalu tidak memuaskan hingga geram aku dibuatnya, tapi kalau kupikir2 dulu secara mendalam biasanya dah keburu telat, au’ ah gelap. Hmm Kayaknya processor otakku perlu kecepatan lebih deh, biar loadingnya ga lambat (kalau diibaratkan komputer entah pentium berapa ya? mengenaskan sekali), biar cepat memproses pesan dan memberi reaksi yang tepat, dan sepertinya –lagi- inilah yang disebut proaktif-
Namun setelah percakapan itu ditutup, akupun berpikir bagaimana caranya aku mencegah acara ultah besok. Akhirnya kukirimkan saja sms, “maaf bu merayakan ultah itu bukan budaya Islam. Sepertinya berasal dari barat, dan kita dilarang menyerupai suatu kaum. Tapi kalau ibu sudah terlanjur pesan kue, ya diniatkan berbagi rizki aja, insya Allah semoga ga pa2”
Kalau aku di posisi siswa, mudah saja, aku tidak usah masuk sekolah agar aku tak menyaksikan acara ultah itu. Tapi karena aku di posisi yang berbeda –guru- tentu aku aku harus bertindak untuk mencegah hal itu terjadi.
Hmm, semoga aku bisa mencegah apa yang harus aku cegah, mendakwahkan apa yang harus aku dakwahkan dan memperbaiki apa yang harus aku perbaiki , mudahkanlah ya Allah, amin.
Tapi BTW, smsku kok ga dibales2 y?? Dah terkirim belum sih? -_-?
091011
Langganan:
Postingan (Atom)








