Kamis, 15 Maret 2012

INI HIDUPMU NAK, JALANILAH SESUKAMU!

050111
Kalau hidup itu semudah di film2, di novel2 n cerita2 fiksi lainnya, enak kali y?
(sebenarnya cerita2 dalam film atau novel pun tidak mudah, hanya saja sebagai pembaca yang mengetahui akhir ceritanya happy ending, jadi menilai demikian)
Entahlah mengapa terkadang –kalau tak boleh dikatakan seringkali- keinginan orang tua tak sejalan dengan keinginan anak.

Misalnya saja orang tua sangat berharap anak2nya menjadi orang kantoran yang pergi kerja dengan baju rapi dan keren. Tapi anak2nya malah menginginkan hal lain, anak pertama ingin berwiraswasta –baca: jualan- karena ingin bebas, tak terikat dan tak diperintah. Tentu saja orang tua tak sepakat, selain pekerjaannya yang tak jelas prospeknya juga karena ilmu kuliahnya tak terpakai.

Anak kedua yang menjadi kebanggaan karena baru saja menjadi cpns, sebenarnya pun tak menyukai pekerjaannya, hanya saja ia ta mampu mengutarakan keinginannya. Kalau disuruh memilih dia lebih senang pekerjaannya sebelumnya, menjadi guru yang gajinya boleh dibilang memperihatinkan, tapi dia senang hingga baginya dia tak sedang bekerja melainkan sedang bermain. Walau keinginan terbesarnya setelah menikah adalah menjadi ibu rumah tangga, pekerjaan yang tentu sangat tidak keren menurut orang2.

Anak pertama setidaknya lebih beruntung, bisa menjalani hidupnya seperti kemauannya walau selalu ditentang, anak kedua bahkan tak mampu hanya sekedar menyuarakan isi hatinya. Tak bisa dibayangkan bagaimana reaksi ortunya jika dia benar2 memperjuangkan keinginannya. Ortunya begitu bangga dengan statusnya sekarang, terlebih dialah satu2nya yang menyandang status itu dari orang2 sekampungnya yang tinggal di kota kecil tempatnya merantau sekarang.

Dan wajar sebenarnya, karena memang keluarga ini adalah keluarga dari kalangan menengah kebawah, sehingga begitu membanggakan jika anak2nya menjadi lulusan kuliahan dan menjadi pegawai. Menjadi orang yang memiliki kedudukan terpandang, hidupnya mapan, berkecukupan, hingga tidak perlu bersusah payah hanya untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi.

Tapi, sekali lagi tapi, kemauan ortu tak sejalan dengan keinginan anak.
Kita beralih dulu ke adegan sebuah film (diadaptasi);

Latar tempat: kampus
Sahabat si anak berkata;
“jika kita menyukai suatu pekerjaan, maka bekerja akan terasa bermain.”
“bekerjalah sesuai keinginanmu”
“kamu hanya tinggal 1 langkah lagi, katakan pada orang tuamu tentang keinginanmu dan buat mereka yakin”

Latar tempat: rumah.
Dan ketika si anak mencoba meyakinkan ortunya, walau awalnya ditentang namun akhirnya disetujui, dan berkatalah si ayah:
“jadilah apa yang kau suka Nak”
“ini hidupmu, jalanilah sesukamu”
Dan film berakhir dengan happy ending, ortu dan anak bisa saling memahami.
Dan TAMAT.

Tapi, ini bukan film, ini kisah nyata, dan lagi2 –entah untuk keberapa kalinya- si anak harus menyerah dan menjadi sesuai keinginan ortunya.

Aah, mungkin karena si anak memang tak punya nyali, terlalu takut walau hanya sekedar berbicara. Hingga uneg2nya hanya menjadi bisul di pikirannya.

Ketakutannya bukan tanpa sebab sebenarnya, karena memang pernah beberapa kali dia “melawan” keinginan ortunya, pernah berhasil memang dan pernah juga gagal. Namun pertikaian itu sungguh sangat tidak mengenakkan baginya, terlebih jika dia mau

berulah lagi kali ini, sepertinya pertikaiannya akan lebih sengit dari sebelum2nya.
Biarlah -pikirnya- kali ini dia menjadi anak penurut untuk menyenangkan hati ortunya, nanti bila dia sudah tak lagi berada di bawah otoritas ortunya dia akan menjadi apa yang dia inginkan, tentunya setelah bertemu seseorang yang bisa memahaminya.
Hmm, semoga saja tak lama lagi.

Kamis, 01 Desember 2011

Harus bahagia ataukah sedih?

291111


Entahlah sepertinya aku sedang gundah, aku bingung harus bahagia ataukah harus bersedih. Bagi sebagian orang –atau bahkan kebanyakan- mungkin ini menjadi kabar yang menggembirakan, namun entahlah. Ketika mulai beredar kabar bahwa sebentar lagi aku akan menyandang status, yang menurut orang2 begitu menjanjikan.

Di satu sisi aku senang, karena aku akan bebas dari sebuah sistem yang “memaksa”ku berubah warna, juga banyak hal dalam sistem itu yang tak kusepakati. Namun di sisi lain aku sedih karena harus berpisah dengan mereka2 yang kusayangi dan tak lagi bisa menjalankan fungsi yang menurutku mulia itu.

Juga kekhawatiran jika di tempat baruku nanti aku akan mendapati atmosfer yang lebih buruk dari sekarang, karena bukan hanya sekedar beda paradigma lagi yang akan kutemui tapi juga perbedaan keyakinan, yang otomatis membutuhkan kata “toleransi” yang lebih. Belum lagi pergaulannya (yang sesama akidahpun belum tentu paham, apalagi yang berbeda), perbincangan2 di antara mereka, akses ibadahnya (belum tentu ada mushola lengkap degan tempat wudhu yang tertutup), dan tak lupa campur baurnya.
Sebenarnya –entahlah, aku juga bingung- aku sendiri tidak begitu berharap akan menyandang status baru itu. Dan kurasa status baru itu juga bukanlah jalan keluar bagi masalahku sekarang. Sederhana saja sebenarnya, aku hanya ingin bisa menjadi seorang wanita yang bisa menjalankan tugas dan fungsinya semaksimal mungkin.

Semoga saja ada jalan keluar bagi semua ini, segera.

LEBAH LAGI

Afi yang suka meledekku dengan mengatakan “ustadzah jelek”, ketika Dewi mendengarnya dia mencoba membela dengan mengatakan “ustadzah cantik kok, nanti kalau begitu (membelaku) dapat cium, tapi ustadzah tidak suka sama kita, ustadzah sukanya cuma sama Teguh” ha3, ada2 saja, jadi Dewi rupanya yang menyebarkan isu bahwa aku suka Teguh.

Memang si Teguh itu suka banget nggelibet, nggandoli (narik2), meluk2, juga suka memijitku. Sampai ada yang berkomentar “Teguh ini macam sama mamanya saja”. Hmm, sepertinya aku paham mengapa dia bersikap begitu padaku, sepertinya dia memang merindukan belaian seorang ibu. Dia tinggal bersama neneknya, sementara ibunya tinggal agak jauh darinya.

Hira yang masih kekanak2an dan manja itu, susah sekali disuruh wudhu, dia beralasan “airnya bau” katanya, memang sih air di school kami, kurang bagus, airnya berkarat dan rasa serta baunya tidak tawar. Ketika kusuruh menulis, dan dia salah menulisnya, kusuruh menulis ulang dan kuancam tak boleh istirahat dia malah merengek2. Dia juga suka mengataiku “ustadzah nakal”.
He3, sekarang dia sudah mulai mau wudhu, tapi dengan air yang dibawanya sendiri dari rumah, yang disimpan dalam botol air mineral.

Ihsan kalau di film doraemon dia cocok memerankan tokoh giant, si gendut yang suka memukul temannya. Dari hasil pengamatanku, teman2nya memang takut padanya. Dan ketika dia mulai berulah lagi, kukatakan bahwa namanya berarti baik, jadi anak baik tak boleh memukul teman, kalau memukul teman itu tidak baik. Mau namaya diganti, paijo misal? Dia malah balik bertanya artinya apa. Selidik punya selidik, katanya dia ikut bergabung dalam sebuah geng, hmm mungkin dari situlah dia mendapat ilmu “pukul memukul”.

Aji, ketika masing2 disuruh mengumpul biodata, ternyata dia bercita2 menjadi ustadz, hmm bagus2. Menurut pengakuannya dia ikut gabung dalam suatu geng (katanya sih cuma kumpulan main bola, tak lebih) yang namanya lucu: bocila yang kepanjangannya tak lain adalah bocah cilacap, he3. Pantas saja dia suka sekali mengatakan “kepriben”, meski sepertinya dia sendiri tak begitu paham maknanya.

Mukhlis yang ketika disuruh menjadi imam, setelah sebelumnya tak pernah mau, kali ini bukan hanya tak mau tapi didramatisir dengan tangisnya yang tak kunjung reda dari awal sholat sampai akhir. Jadi sholat yang seharusnya ada berdiri, rukuk, sujud dan duduknya, hanya dihabiskannya dengan berdiri sambil menangis. Dan katanya ketika drama menangisnya itu si mauas mengelus pundaknya untuk menenangkannya, juga selepas sholat –kalau ini kulihat sendiri- si ian mengelus2 punggungnya untuk mendiamkannya, hmm anak2 begitu kepedulian mereka pada temannya yang sedang sedih.

Ian, sosok yang bongsor karena memang sudah 2 kali tak naik kelas, memang lamban membaca saja masih sangat susah. Kasihan sebenarnya, apalagi ketika ihsan mengejeknya karena tak bisa membaca, atau di moment lain ketika kekurangannya itu tampak, dia akan mulai menundukkan wajahnya dan menggigit bibir bawahnya. Sepertinya kepercayaandirinya sudah benar2 down. Seharusnya dia perlu penanganan khusus dari seorang ahli, psikolog mungkin atau sejenisnya.

Si Mauas, sudah dua kali ini jari kakinya mengalami cidera. Awalnya rabu lalu –kalau tidak salah- entah karena kebanyakan tingkah ketika dikelas, jari telunjuknya ketimpa kursi hingga berdarah2 dan kukunya hampir lepas, dan hebatnya ketika menangis hanya air matanya yang berlinang tanpa meraung2. Dan esoknya –atau esoknya lagi- kakinya yang masih sakit tadi, terinjak oleh temannya. Dan hari jumat lalu, kali ini jari kelingkingnya kembali ketimpa kursi, tak sampai berdarah2 memang tapi sedikit bengkak. Dia pun menangis dan akhirnya minta pulang duluan, dijemputlah dia oleh Abinya. Mauas mauas sepertinya minggu ini kakimu benar2 sedang diuji.

Vikar, dia sangat kocak, ditambah lagi wajahnya yang juga kocak. Dia sangat terinspirasi ingin
menjadi berotot seperti nasdem katanya, ada2 saja.

Aji dan abid ketika kuingatkan tak boleh menggambar makhluk bernyawa, sebelumnya sudah sering kuingatkan. Mereka balik bertanya, truz kenapa ini ada gambarnya (mereka menunjuk buku agama yang full gambar), kujawab saja “mungkin mereka tidak tahu”, mereka balik menimpali: “iyo, karena waktu itu ustadzah belum disini, karena ustadzah tidak kasih tau mereka”, ha3, ada2 saja.

Lutfi, sosok yang ringkih dan pendiam itu, yang suaranya sangat lirih serta pemilik sorot mata yang membuat iba siapa saja yang melihatnya. Ternyata ketika sedang ngambek dia akan diam saja dan mengacuhkan orang yang membuatnya ngambek (he3, benar2 sepertiku). Seperti ketika jalan santai, yang entah kenapa dia ngambek pada ibunya dan tak mau diberi minum oleh ibunya. Akhirnya setelah kubujuk2 dan kuberi minum, dia mau meski hanya sedikit. Dari sorot matanya, sepertinya dia menyimpan rasa takut, seperti merasa terancam, tapi entahlah ini hanya teoriku yang tidak berdasar.
-----------------------------------------------------
Walau terkadang aku kesal oleh tingkah mereka, bahkan sampai marah2 hingga keluar tanduknya macam di film2 kartun (he3, emang banteng). Namun sepertinya aku akan sangat merindukan mereka jika harus meninggalkan mereka lebih cepat dari yang kukira. Merindukan wajah2 polos mereka, tawa mereka, tangis mereka, juga kekonyolan dan kenakalan mereka. Rasanya kebersamaan ini singkat sekali.

Dan sebenarnya (aku kurang suka memakai kata jujur, jujur kok bilang2, berarti selama ini ga jujur donk), ketika aku mengajar mereka, aku tidak merasa sedang bekerja, melainkan hanya sedang bermain2 dan mengisi waktu luang, lalu tiba2 di awal bulan aku pun mendapat upah.

Dan rasa2nya selama ini aku belum bisa menjadi sosok pendidik yang baik, belum bisa memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, belum bisa menjadi sosok “ibu” bagi mereka. Dengan bersama mereka, setidaknya bisa sedikit (hanya sedikit, he3) mengasah jiwa keibuanku.

Rasanya ingin kupeluk dan kuciumi mereka satu persatu. Hhm, mengapa perpisahan itu selalu menyisakan rasa nyeri?

Terobsesi pada angka

Mungkin dunia ini memang dipenuhi dengan orang2 aneh, hmm salah satunya orang ini. Dia selalu terobsesi pada angka, dalam keseharian bahkan dalam lamunannya pun tak luput dari angka. Dalam melakukan aktifitas2 harian tak lupa dia melihat jam awal dia memulai sampai selesainya, hingga dia dapat menghitung berapa lama waktu yang dihabiskannya. Ketika berbelanja di swalayan tak lupa dikalkulatorinya satu per satu barang yang akan dibelinya, sebelum memutuskan membeli barang ukuran besar atau kecil, yang akan dipilih tentu yang satuan rupiahnya terkecil. Bahkan dalam lamunannya dia suka menghitung jumlah huruf dalam tiap kata, hingga ketika ada yang mengucap sebuah kata, otaknya akan otomatis memunculkan angka yang merupakan jumlah dari huruf2 dari kata itu. Misalnya ketika ada yang mengucap kata “daripada” maka dalam imajinasinya akan muncul angka 8, yang diawali dengan setengah lingkaran di bagian atas “(“ yang berisi suku kata “da”, kemudian “)” di bagian bawah yang berisi kata “ri”, dst hingga terbentuk kata “daripada”. Dan tak lupa, angka2 itu seringkali bergelantungan di garis bilangan yang berisi 4 kuadran itu, dan melekat kuat di memorinya, itupun masih dihitung posisi angka itu berada di kuadran positif ataukah negatif beserta nilai angkanya. Misal kata makan yang terdiri dari 5 huruf, maka angka 5 itu akan terletak di kuadran negatif negatif di posisi (-1, -2) yang jumlahnya adalah -3, atau bisa terletak di kuadran positif positif di posisi (1, 2) yang jumlahnya adalah 3. Begitupun dalam hal hitung menghitung -karena memang tak semua perkalian dihafalnya- seringkali dia menghitung dengan cara2 yang berbeda.

Seakan2 angka adalah bagian yang tak terpisah dari dirinya.

Pernahkah kau merasa?

Pernahkah kau merasa dirimu selalu dimata-matai, dan diawasi semua gerak-gerikmu? Jika aku ditanya demikian, akan kujawab dengan mantap: “iya”. Dan menurut feelingku, kegiatan memata2i ala detektif itu dilakukan hanya karena aku disinyalir berbeda dari mereka2 di tempatku berkecimpung. Sampai2 aku merasa seolah2 banyak kamera pengintai di tiap sudut ruangan yang memonitor setiap sepak terjangku, bahkan telepon selulerku pun disadap, hingga setiap kata yang keluar dari mulutku atau tiap pesan singkat yang kukirim lewat hpku akan diketahui. Entahlah, sepertinya semua ini sudah membuatku jadi senewen tingkat tinggi. Bahkan (kalau ini bukan lagi seolah2, tapi nyata) sengaja disewa seorang detektif untuk menyelidikiku, hanya saja caranya bekerja benar2 tak cerdas, menggunakan media yang tak canggih pula. Bagaimana tidak, mengorek2 keterangan tentang seseorang langsung ditanyakan pada orang itu, to the point lagi. Dan mungkin karena disinyalir berbeda itu pula, sepertinya selalu saja ada yang salah padaku. Bahkan ketika hendak memberi buku pada beberapa orang disana yang ku sayangi pun, harus diverifikasi lebih dulu lebih2 jika berkaitan dengan agama. Segitunya, seperti hendak menyebarkan virus menyesatkan saja, rasa2nya hati ini benar2 terenyuh (entah apa kata yang tepat untuk membahasakannya) dibuatnya.

Hmm entahlah, mungkin semua itu tak lain hanyalah paranoidku yang sedikit berlebihan.

Pekerjaan dengan tingkat stres tertinggi?

Jika diadakan survei mengenai jenis profesi dengan tingkat stres tinggi mungkin orang2 akan mengajukan jawaban profesi2 yang membutuhkan kecerdasan dan ketelitian tingkat tingkat tinggi plus yang menyita banyak waktu yang biasanya juga bergaji tinggi, seperti; eksekutif, akuntan, broker, de el el lah.

Namun kalau aku yang ditanya, akan kujawab: guru. Mengapa? Jawabannya panjang.
Kalau profesi lain mungkin hanya berhadapan dengan pekerjaan yang njelimet, yang kalau pekerjaannya buruk paling2 membuat rugi perusahaan beberapa rupiah. Namun bagi guru, jika dia gagal mendidik, maka beban moral yang ditanggung cukup berat. Mulai dari beban moral karena siswanya tak pandai2 meski sudah berbusa2 mengajarnya sampai beban moral karena akhlak siswanya yang masih belum islami2 juga, meski selalu dijejali dengan nilai2 islam.

Bagi seorang guru, jika siswa2nya tak kunjung paham apa yang diajarkannya, cukup untuk membuatnya merasa bersalah dan gagal. Dan mungkin semua guru, selalu ingin agar semua siswanya bisa memahami semua materi yang diajarkannya, walau memang kemampuan masing2 siswa berbeda2. Jadi sangat manusiawi jika guru lebih senang pada siswanya yang pandai.

Walaupun demikian guru juga manusia, kemampuannya pun terbatas, jadi ada kalanya ada hal yang tidak terlalu dipahaminya atau dipahaminya namun tak mampu ditransfernya dengan baik.

Jadi merasa bersalah sekali jika ingat dulu pernah meremehkan guru, karena kurang cerdas atau tak mampu membahasakan dengan baik. Bagaimanapun mereka adalah orang2 yang sudah mendidik kita, mengajari kita apa2 yang tadinya tidak kita tahu. Maka apakah pantas setelah menjadi pandai kita meremehkan mereka?

Merasa kasihan pada seorang rekan yang sempat dicomplain siswa2nya karena cara mengajarnya yang njelimet dan ga asyik. Hmm, beruntung yang kuajar masih kelas 2, kalau kelas atas mungkin mereka bakalan banyak complain tentangku.

Jadi, bagi kamu2 yang masih duduk di bangku sekolah or kampus, jangan melawan sama guru ya, ga pantes! Kalaupun ada yang tak benar, sampaikan dengan cara yang baik.

Balik lagi ke beban moral, terkadang aku heran pada siswa2 yang sangat lamban. Entah merekanya yang kurang cerdas ataukah gurunya yang tak komunikatif.

Memang ada jenis2 pelajaran yang bisa diterima jika gurunya menyenangkan dan tidak jika gurunya killer. Sepertiku dulu ketika SMA, ketika kelas 1 aku merasa lumayan bisa dalam pelajaran bahasa inggris karena gurunya menyenangkan, namun ketika kelas 3 berjumpa dengan guru killer -yang matanya suka melotot, kalau dia menjelaskan kita harus diam mematung bahkan sekedar menggerakkan tanganpun tak boleh, dan akan marah besar jika argumennya dibantah- rasanya aku tiba2 menjadi benar2 bodoh dalam pelajaran ini, susah sekali menjejalkannya di otakku.

Namun ada juga pelajaran yang tetap saja sulit, meski gurunya menyenangkan. Contoh aja pelajaran matematika –yang memang menjadi momok bagi kebanyakan siswa-, ketika aku kelas 3, sang guru sudah menampilkan performance yang sangat bagus, namun tetap saja banyak yang tetap susah mencerna pelajarannya. Di jaman aku SMA dulu, ketika kebanyakan guru masih mengajar dengan cara konvensional, beliau sudah menggunakan cara2 yang keren.
Untuk soal2 latihan atau ulangan seringkali soalnya diketikkan di kertas2 berukuran mini (dari ukuran kertasnya yang mini, paling tidak seharusnya otak kita sudah tersugesti bahwa soalnya sedikit dan kecil) , tidak seperti guru lain yang selalu ditulis di papan. Untuk memperjelas penjelasannya pun terkadang menggunakan LCD (barang langka ketika itu) yang disiapkannya sendiri beserta laptopnya. Seperti ketika membahas tentang bangun ruang (yang memang agak susah dipahami jika hanya dengan membaca buku, karena bentuk bangunnya hanya bisa dibayangkan), beliau menampilkannya bangun2 ruang itu dalam bentuk slide yang gambarnya bergerak, sehingga bisa dilihat dari berbagai sisi. Itu pun masih ditambah dengan membawa alat peraga berupa bangun2 ruang yang dibuatnya dari karton, yang dibuat sedemikian rapi dan dengan warna-warni yang menarik.
Ditambah lagi dengan sikapnya yang humoris, dan suka membagi2 oleh2 makanan jika beliau pulang dari melancong, juga suka memberi coklat terutama kepada mereka2 yang berbadan ceking sepertiku, supaya gemuk katanya. Yah, mungkin ketidakmampuan kami mencerna dengan baik pelajarannya semata2 karena IQ kami yang standar.

Saya juga mulai mengerti mengapa guru fisikaku dulu terkadang perlu membawa sapu untuk memukul mereka2 yang tak bisa2 juga mengerjakan soal di papan meski sudah dijelaskan berkali2. Mungkin itu cara yang terkadang efektif, karena ketika kita merasa terancam atau minimal terdesak, biasanya otak yang tadinya beku mendadak jadi encer bukan?
------------------------------------

Dan yang tak kalah berat, adalah beban moral karena akhlak siswa yang tak kunjung islami. Entahlah sepertinya medialah pihak yang perlu dituding pertama kali, selanjutnya lingkungan. Bagaimana tidak, dari kotak ajaib bernama TV, mereka akan menyaksikan bagaimana cara artis2 berpakaian (dari yang paling seksi sampai yang mengenakan penutup kepala yang juga seksi), musik2 dan lagu2 yang sedang in, mulai versi dangdut sampai versi boyband girlband. Jadi jangan heran jika ada remaja yang baru menginjak masa puber atau bahkan yang masih anak2, gemar memakai pakaian ketat atau berjilbab seksi dengan model yang lagi in sekarang. Atau dari bibir2 mungil mereka terlantun berbagai macam lagu yang sepertinya tersave rapi di memori mereka, bahkan tak lupa dengan koreonya. Atau yang menggandrungi dance2. Atau yang suka gabung sama anak2 geng, yang kata seorang anak pimpinannya berotot.

Dan anak jaman sekarang cepat sekali puber, kasihan sebenarnya di usia sehijau itu mereka sudah harus menanggung perbuatannya sendiri, sudah harus memikul beban dosanya sendiri. Apalagi ditambah dengan media dan lingkungan yang tak mendukung, terkadang masih ditambah ortu yang tak peduli, hingga tak sedikit remaja yang bingung mencari jati dirinya.

Kurasa remaja jaman sekarang jauh sekali bedanya dengan jamanku dulu, sepertinya remaja sekarang lebih centil (entah bagaimana membahasakannya). Bahkan kata seorang teman, aku baru puber ketika kuliah, ha3 aja2 ada, eh ada2 aja ding
-------------------------------------
Beban moral berikutnya yang tak kalah berat adalah “keluhan pelanggan” (kayak penggalan kalimat di produk2 makanan aja). Yupz, tak cukup di tempat kerja, di rumahpun terkadang –kalau tak boleh dikatakan sering- para orang tua masih merecoki pikiran para “pahlawan tanpa tanda jasa” dengan bertanya mengenai perkembangan anak2nya di sekolah de el el. Atau bahkan complain atas ketidakbecusan si guru mendidik anak2nya, yang disampaikan langsung kepada pimpinan. Hingga sebagai bawahan, si guru harus siap jika kemudian “diceramahi” akibat ketidakbecusan itu.
-------------------------------------------------------------
Juga tak lupa masalah “birokrasi” (sepertinya kata ini kurang tepat) sekolah yang menuntut para guru agar tidak lagi menggunakan cara2 konvensional dalam mengajar, tapi harus produktif, kreatif, dan tif2 lainnya. Harus tertib administrasi ini dan itu, juga harus sesuai standar baku (yang entah sudah dirubah berapa kali, seiring bergantinya menteri pendidikan) yang sudah dibuat oleh orang2 pintar di kemendiknas (atau dinas lain ya?) sana, namun tak kunjung membuat para siswa menjadi pintar.

Juga masalah background sekolah, yang mungkin tak sama dengan background si guru. Dan sadar atau tidak perlahan2 si guru digiring untuk menjadi sewarna dengan mereka, memiliki “paradigma” yang sama dengan mereka, dengan diwajibkan mengikuti kegiatan ini dan itu. Juga hal2 lain yang mengiringi proses belajar yang kalau mau jujur kurang benar . Dan hal ini sungguh sangat berat.

MY CORRECTION LIST: PART I dan II (PROLOG)

PART I

Hmm daftar koreksi2ku yang berakhir tragis, namun setidaknya daripada berakhir begitu saja di t4 sampah, kurasa tak ada salahnya jika kugoreskan saja di ms word ini –he3, mekso-, agar tak berakhir terlalu tragis dan bisa sedikit diambil manfaatnya.

Adalah sebuah omong kosong jika berkoar2 berdakwah namun di sisi lain sebagian cara yang digunakan haram, hendak meneladadni Robin hood kah? Mencuri untuk kemudian diberikan pada orang2 miskin, menyuapi mulut mereka dengan makanan haram hasil curian? Begitukah?

Ketika ada yang mengingatkan akan kesalahan itu pun tak diterima. Kemudian berdalil dengan pendapat si ini si itu, yang kalau mau jujur pendapat itu tak sesuai dengan al qur’an dan sunnah. Apakah kita lupa bahwa semua perkataan bisa diterima (bila sesuai dengan al qur’an dan sunnah) dan bisa ditolak (bila tidak sesuai dengan al qur’an dan sunnah), kecuali perkatan Rasul yang ma’shum?

Bahkan imam syafii –seorang ulama kenamaan- sendiri pernah mengatakan untuk mengambil pendapatnya jika sesuai dengan al qur’an dan sunnah dan membuangnya jika tidak. Lalu masih pantaskah kita taklid –fanatisme membabi buta- pada seseorang yang “ditokohkan”, dan menelan mentah2 semua perkataannya?? Terlebih jika mengaku sebagai orang yang “cerdas”, paham agama atau bahkan pengemban dakwah/da’i ?

Kalau mau berdalil dengan sekedar pendapat, pendapat itu pun sangat banyak, dari yang mendekati kebenaran sampai yang paling nyeleneh. Dan kalau kita mengumpulkan pendapat2 yang ganjil dari para ulama –yang benar2 ulama tentu-, maka terkumpullah semua keburukan pada diri kita, begitukah yang kita mau? Ataukah kita ingin menjadi “golongan moderat” yang tidak terlalu rusak seperti manusia kebanyakan dan tidak terlalu taat pada syariat? Setengah2 dunk, tapi memang “golongan” itulah yang banyak digemari orang2, mungkin karena lebih fleksibel dan terkesan lebih toleran.
Hmm, moderat di satu sisi namun fanatik di sisi lain, sebuah inkonsistensi alias ga konsisten.
(sebenarnya pengertian moderat yang benar adalah yang beragama sesuai qur’an dan sunnah, tidak ekstrim keras dan ekstrim meremehkan, tapi memang kata moderat sering diselewengkan artinya )

Tak cukup dengan menolak kebenaran, masih ditambah dengan menghujat sebuah manhaj (perlu diingat; MANHAJ bukan harakah) yang biasa saja sebenarnya, hanya manhaj berislam dengan al qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salafus sholeh, tak ada yang aneh. Dan memang begitulah seharusnya kita berIslam, bukannya bermanhaj dengan taklid pada tokoh, organisasi/kelompok/pergerakan/harakah, dan kemudian membuat lingkaran2 kecil dalam lingkaran besar Islam, masih dibumbui dengan fanatik dan loyalitas membabi buta (saya masih belum mengerti mengapa ada frase “membabi buta”, sudah babi, buta lagi, parah banget ya?) diatasnya. Padahal seharusnya, loyalitas itu diatas Islam, bukan diatas organisasi de es be.

Dan kemudian menggunakan kata “khilaf” sebagai senjata atau hujjah, hingga kita harus berlapang dada, tak boleh tuding-menuding, tak boleh menyalahkan, tak boleh merasa benar sendiri de es be. Kalimat ini benar sebenarnya jika ditempatkan pada tempatnya, pada masalah fiqih yang memang ulama2 ahlu sunnah berikhtilaf didalamnya. Namun jika masalahnya tidak menjadi khilaf dikalangan ulama ahlu sunnah, apalagi memang ada dalil yang gamblang tentang hal itu, apa kalimat diatas masih relevan?

Dan menuding mereka2 yang mencoba istiqomah diatasnya dengan dengan predikat; kaku, suka memvonis, tak berakhlak, de es be. “Tak kenal maka tak sayang” mungkin penggalan kalimat ini bisa mewakilinya. Sepertinya perlu membaca ini: http://konsultasisyariah.com/apa-makna-salaf-salafi-atau-salafiyun.
----------------------------
Dari sini aku mengambil pelajaran, untuk mendakwahi seseorang –terutama jika dia adalah orang yang pintar, atau hanya sekedar merasa pintar- kita harus pandai2 berargumen dan bersilat lidah. Jika tidak, bisa2 kita yang akan balik “didakwahi”, dan kita hanya bisa terbengong2 dibuatnya, jadi berasa bego banget. Hingga lidah tak mampu lagi meneruskan membaca draft kesalahan2 yang harus dikoreksi. Ibarat menjual produk, agar laku tak cukup hanya dengan membuat produk yang bagus, tapi juga perlu dikemas semenarik mungkin, dan tak lupa promosi yang gencar dan persuasif tentunya.

hmm, pantaslah jika kemudian Nabi Musa alaihissalam memohon pada Allah agar menjadikan Nabi Harun alaihissalam –yang lebih cakap berbicara darinya- agar dijadikan “juru bicara”nya.

Berbicara pun butuh kecerdasan ternyata, tadinya kupikir orang2 yang pintar bicara itu seringkali hanya membual. Bersyukurlah mereka yang diberi kefasihan lisan.

Astaghfirullah, ampuni hamba Ya Allah jika marahnya hamba hanya karena nafsu, dan jika karenanya terucap apa yang seharusnya tak terucap.

(SAMPAI DI BAGIAN INI KUTULIS DENGAN MELEDAK2, WALAUPUN SUDAH AGAK DINGIN SEBENARNYA KARENA MOMENTNYA SUDAH LEWAT CUKUP LAMA)
-------------------------------------------------------------------------

PART II

Melanjutkan kalimat “tak kenal maka tak sayang” diatas

Seperti cerita seorang guru yang melarang muridnya membaca kitab karangan seorang ulama, -entah, mungkin karena dia mendapat info yang salah tentang ulama itu-. Namun ketika dia diberi kitab itu, dengan cover depannya dirobek lebih dulu, sehingga nama pengarangnya terbuang. Ia mengatakan bahwa itu adalah kitab yang bagus.

Hmm, nampaknya kita memang perlu “membaca” –apapun itu: paham maupun seseorang- dengan cara seperti itu, tanpa melihat covernya lebih dulu, dan dimulai dari 0, tanpa mendengarkan stigma2 negatif dan sebaliknya citra2 baik. Barulah kemudian kita bisa menilai dengan objektif. Dan penilaian itu akan lebih objektif lagi jika sebagai “pengamat” pernah benar2 terjun pada objek itu, atau bahkan menjadi bagian dari objek itu, jadi benar2 bisa merasakan secara langsung, bukan hanya “katanya” dan “katanya”.

Karena penilaian yang tidak diawali dari nol, yang belum apa2 sudah ada dilabeli dengan stigma2 seringkali hasilnya tak objektif.

Seorang kawan, pernah tertarik untuk “menyelidiki” sesuatu yang diberi image buruk oleh orang2, hal itu membuatnya penasaran untuk tahu apakah benar yang dituduhkan itu. Daripada hanya percaya dengan “katanya” lebih baik dia terjun langsung ke objek itu pikirnya, dan akhirnya dia dapati bahwa semua tuduhan itu tak benar.

Seperti peristiwa bom WTC yang heboh kala itu, media menggembar-gemborkan bahwa islam itu teroris, dan ternyata image buruk itu menjadi “promosi” tersendiri. Orang2 pun berbondong2 mempelajari Islam untuk menyelidiki apa benar tuduhan itu. Ketika mereka dapati semua kabar itu dusta dan ternyata islam itu indah, akhirnya berbondong2lah mereka masuk Islam. Alhamdulillah, jadi teringat surat an nashr.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr: 1-3)

Jadi, terkadang image yang buruk tentang sesuatu membuat orang antipati dan enggan untuk bersinggungan dengan hal itu. Namun ada kalanya, image yang buruk justru membuat orang penasaran untuk mengetahui kebenaran isu itu.

Untuk orang jenis pertama, jika mulanya dia meyakini sesuatu yang sebenarnya “salah”, maka dia tidak akan pernah keluar dari keyakinannya karena tak pernah mau membuka cakrawala. Namun sebaliknya, jika apa yang diyakininya itu “benar”, maka dia akan terus berada dijalurnya.

Untuk orang jenis kedua, sikap ini cukup berbahaya jika diterapkan pada semua objek yang dilabeli dengan image buruk. Jika memang objek itu diberi label buruk oleh orang2 yang kompeten di bidangnya, maka percayalah dan tak usah penasaran untuk menyelidiki. Karena dari rasa penasaran ini juga banyak orang yang akhirnya tersesat, karena setelah terjun pada objek, otaknya ikut tercuci.

Contohnya saja sebuah paham yang sudah dinyatakan sesat oleh MUI bahkan para ulama dunia; paham liberal. Maka tak perlulah kita bersusah payah terjun langsung menyelidiki ke objek tersebut, semisal membaca buku2 mereka, apalagi jika kita adalah orang2 yang kapasitas ilmunya pas2an, bukan ulama. Karena hati kita lemah, sementara subhat yang datang menyambar bagaikan petir. Jangan jadikan hati kita seperti tong sampah yang menampung semua benda kotor, tapi selektilah untuk memasukkan hanya yang baik2, begitupun halnya dengan bacaan (ini bukan kata saya lo, kata ustadz). Karena dari rasa penasaran ini, bukan tak mungkin seseorang akan terseret oleh arus dan akhirnya tenggelam dalam kesesatan.

Saya pribadi, pernah mencoba membaca bukunya “orang liberal” dan subhanallah baru beberapa lembar saya sudah bergidik dibuatnya, bagaimana tidak argumen yang mereka utarakan seakan2 sangat bisa diterima oleh akal, seakan2 tampak benar. Langsung saja kuhempaskan buku itu dan kukembalikan pada yang punya.

hmm, hati2 memilih bacaan maupun audio etc, terutama tentang din ini, ambillah dari mereka yang memang kompeten di bidangnya dan dari sumber2 yang benar terpercaya. Untuk buku2 carilah penerbit yang betul2 komitmen, penulis yang berkapasitas. Untuk web2 di internetpun demikian, jangan asal comot aja, asal judulnya islami. Begitupun audio, dengarkan ceramah dari sumber2 yang terpercaya.

Bukannya apatis, tapi berhati2. Karena mereka2 yang menyebarkan bidah, ada kalanya diantara perkataannya ada yang benar namun perlahan2 disisipkan bidahnya (sangat parah jika bidahnya dalam hal aqidah). Terlebih sebagai orang awam, yang baru belajar, tentu kita takkan mampu membedakan mana dari perkataannya yang benar dan yang salah. So, cari yang pasti2 aja.

Ibarat madu, tentu kita hanya mau mengkonsumsi madu murni, bukan madu yang aspal (asli tapi palsu) yang sudah tercampur dan terkontaminasi oleh zat lain. Maka, demikian halnya dalam masalah agama, ambillah hanya yang benar2 murni, bukan yang aspal atau bahkan palsu.

(SEDANGKAN BAGIAN KEDUA INI, KUTULIS KETIKA BENAR2 SUDAH DINGIN, JADI MAKLUM SAJA KALAU RASANYA BEDA)

NB: pren, ingatkan aku jika tulisanku mulai liar, ;)