Kamis, 23 Juni 2011
MESIR VAN PAPUA JILID V: TIMIKA KINI BERSIH
Kalau flash back mengingat 5-6 tahun lalu –masa2 muda saya dulu, SMA- kota ini sangat kotor, sampah2 berserakan dimana2, terutama di tempat2 vital seperti pasar. Tapi jangan ditanya kalau sekarang, tak ada lagi sampah2 menumpuk di pinggir jalan. Lalu apa rahasianya?
Ya, bagaimana tidak bersih kini kebersihan kota sudah dimanage sedemikian rupa. Petugas yang membersihkan saja ada dua shift, pagi dan petang. Mereka mengangkut sampah2 dengan truck, dan juga ada lagi sepeda motor –diengkapi bak sampah- berkeliling membersihkan sisa2 sampah yang masih tersisa. Jumlah personilnya pun cukup banyak: 70 sekian/harinya, cukup banyak untuk kota yang terbilang kecil ini, itupun tidak ada hari libur, hari raya dan hari minggu tetap kerja. Juga ada pengawasnya yang berpatroli mengawasi hasil kerja bawahannya.
Petugas2 kebersihan itu diberi imbalan yang lumayan, untuk bekerja yang hanya setengah hari mereka diberi upah 90.000/hari, kalau dikalikan 30 = 2.700.000/bulannya, mengalahkan gaji mereka2 yang berpakaian rapi ketika bekerja. Hmm, pantas saja.
Jadi, teringat Fizi dalam Upin & Ipin yang bercita-cita menjadi petugas pengangkut sampah.
Saya kira, di timika ini kalau mau bekerja –apa saja yang penting halal- tidak ada ceritanya orang kelaparan. Makanya disini tidak ditemui pengemis atau anak2 jalanan yang berkeliaran di lampu merah.
Mari jaga kebersihan kota kita!!
HUKUM ALLAH PASTI ADIL
210611
Rasa2nya darah saya mendidih melihat berita2 di televisi beserta opini2nya yang lebih sering mencitrakan buruk tentang Islam.
Misalnya saja ketika sedang heboh2nya teroris, seakan2 cadar, jenggot dan celana cingkrang menjadi ikon teroris. Padahal semua itu adalah termasuk ajaran Islam.
Dan yang masih sangat hangat, bahkan masih panas adalah mengenai qishash (yang dilakukan pemerintah yang berwenang tentunya, bukan sembarang orang), yakni hukuman bunuh bagi seorang pembunuh (terlepas dari apa sebab orang melakukan pembunuhan, diplomasi pemerintah kita de es be, saya tidak sedang membicarakan itu).
Media seakan2 mencitrakan bahwa hukuman bunuh bagi seorang pembunuh adalah tidak manusiawi, kejam de es be. Orang2 juga ikut2an latah berkomentar sembarangan tentang ini, dan tidak sedikit yang mencela dan mengecam hukuman itu.
Satu yang perlu kita INGAT, hukuman qishash bukan sekedar hukum Arab, tapi hukum Islam, hukum Allah, dan tidak ada satupun hukum di muka bumi ini yang lebih adil dari hukum Allah. Hati2 jangan sampai lisan kita ikut-ikutan latah mencela dan mengecam hukum qishash tersebut.
“Tidaklah halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan satu di antara tiga perkara: orang yang sudah menikah berzina, orang yang membunuh orang lain maka dibunuh (qishash), dan orang yang meninggalkan agama dan memisahkan diri dari jamaah (murtad).” (HR. Al-Bukhari, Kitabud Diyat 6; Muslim, Kitabul Qasamah, 25; Abu Dawud, Kitabul Hudud 1; At-Tirmidzi, Kitabul Hudud 15; An-Nasa`i, Bab At-Tahrim 5, 11, 14; Ad-Darimi, Kitab As-Siyar 11; Ahmad bin Hanbal 1/61,63,65,70, 163,382,428,444,465; 6/181, 214)
Bahkan membenci -meski HANYA- sebagian ajaran islam adalah termasuk kemunafikan, yaitu kemunafikan I’tiqodi/keyakinan –jika sampai mati tidak tobat, menyebabkan kekalnya seseorang di neraka- naudzubillah
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Definisi%20Kemunafikan%20%2526%20Macam2nya
Jadi jangan sampai kita membenci ajaran-ajaran Islam, bahkan yang masih belum bisa kita nalar apa hikmah dibalik syariat itu, termasuk juga poligami –he3,biasanya wanita sangat sensitif soal ini-, perbedaan antara laki2 n wanita dalam beberapa hukum –karena ini sering dijadikan senjata bagi kaum feiminis- de el el. Kita yakini saja bahwa Allah yang telah menetapkan syariat Islam pasti adil dan tidak mungkin mendzolimi hambaNya.
hmm, kalau di indonesia diterapkan hukum potong tangan- bagi pencuri yang kadar curiannya sudah mencapai nishab- mungkin tidak ada lagi yang berani korupsi.
Dan satu hal yang ingin saya kritisi, mencari nafkah adalah kewajiban suami, bukannya istri. Apalagi sampai melepaskan istri melakukan safar sampai keluar negeri tanpa mahram, tentu tidak dapat dibenarkan, bahkan untuk beribadah saja –haji- perempuan tetap harus disertai mahram. Wahai para lelaki jika tak mau bersusah2 menafkahi istri dan anak, berpikir2lah lagi sebelum memutuskan untuk menikah.
Allahua’lam
Rasa2nya darah saya mendidih melihat berita2 di televisi beserta opini2nya yang lebih sering mencitrakan buruk tentang Islam.
Misalnya saja ketika sedang heboh2nya teroris, seakan2 cadar, jenggot dan celana cingkrang menjadi ikon teroris. Padahal semua itu adalah termasuk ajaran Islam.
Dan yang masih sangat hangat, bahkan masih panas adalah mengenai qishash (yang dilakukan pemerintah yang berwenang tentunya, bukan sembarang orang), yakni hukuman bunuh bagi seorang pembunuh (terlepas dari apa sebab orang melakukan pembunuhan, diplomasi pemerintah kita de es be, saya tidak sedang membicarakan itu).
Media seakan2 mencitrakan bahwa hukuman bunuh bagi seorang pembunuh adalah tidak manusiawi, kejam de es be. Orang2 juga ikut2an latah berkomentar sembarangan tentang ini, dan tidak sedikit yang mencela dan mengecam hukuman itu.
Satu yang perlu kita INGAT, hukuman qishash bukan sekedar hukum Arab, tapi hukum Islam, hukum Allah, dan tidak ada satupun hukum di muka bumi ini yang lebih adil dari hukum Allah. Hati2 jangan sampai lisan kita ikut-ikutan latah mencela dan mengecam hukum qishash tersebut.
“Tidaklah halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan satu di antara tiga perkara: orang yang sudah menikah berzina, orang yang membunuh orang lain maka dibunuh (qishash), dan orang yang meninggalkan agama dan memisahkan diri dari jamaah (murtad).” (HR. Al-Bukhari, Kitabud Diyat 6; Muslim, Kitabul Qasamah, 25; Abu Dawud, Kitabul Hudud 1; At-Tirmidzi, Kitabul Hudud 15; An-Nasa`i, Bab At-Tahrim 5, 11, 14; Ad-Darimi, Kitab As-Siyar 11; Ahmad bin Hanbal 1/61,63,65,70, 163,382,428,444,465; 6/181, 214)
Bahkan membenci -meski HANYA- sebagian ajaran islam adalah termasuk kemunafikan, yaitu kemunafikan I’tiqodi/keyakinan –jika sampai mati tidak tobat, menyebabkan kekalnya seseorang di neraka- naudzubillah
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Definisi%20Kemunafikan%20%2526%20Macam2nya
Jadi jangan sampai kita membenci ajaran-ajaran Islam, bahkan yang masih belum bisa kita nalar apa hikmah dibalik syariat itu, termasuk juga poligami –he3,biasanya wanita sangat sensitif soal ini-, perbedaan antara laki2 n wanita dalam beberapa hukum –karena ini sering dijadikan senjata bagi kaum feiminis- de el el. Kita yakini saja bahwa Allah yang telah menetapkan syariat Islam pasti adil dan tidak mungkin mendzolimi hambaNya.
hmm, kalau di indonesia diterapkan hukum potong tangan- bagi pencuri yang kadar curiannya sudah mencapai nishab- mungkin tidak ada lagi yang berani korupsi.
Dan satu hal yang ingin saya kritisi, mencari nafkah adalah kewajiban suami, bukannya istri. Apalagi sampai melepaskan istri melakukan safar sampai keluar negeri tanpa mahram, tentu tidak dapat dibenarkan, bahkan untuk beribadah saja –haji- perempuan tetap harus disertai mahram. Wahai para lelaki jika tak mau bersusah2 menafkahi istri dan anak, berpikir2lah lagi sebelum memutuskan untuk menikah.
Allahua’lam
Jumat, 17 Juni 2011
MARAH
140611
Hari ini melihat 2 fenomena yang membuatku ingin marah.
Orang tua yang kasar pada anaknya,
Rasanya aku benci sekali melihatnya sampai2 ingin menangis, dan entahlah aku selalu merasa sakit ketika ada orang marah2 dengan kasar, walaupun bukan aku yang dimarahi. Padahal anak adalah amanah yang harus dijaga dan diperlakukan dengan baik. Sadar atau tidak, anak yang selalu dimarahi, diperlakukan dengan kasar, disalahkan, dan tidak dihargai prestasi sekecil apapun yang dia raih akan tumbuh menjadi manusia yang kerdil, minder, tidak percaya diri, karena sejak kecil selalu dkerdilkan jiwanya. Apalagi jika tiap hari diperlakukan demikian, semua perlakuan dan kata2 itu akan mengkristal diotaknya.
Dan dua orang yang pacaran sebelum halal,
Padahal segala yang dinikmati pada waktunya akan lebih nikmat, plus berpahala lagi. Tapi memang begitulah kebanyakan pemuda jaman sekarang. Entah apa karena mereka tak tahu atau memang tak mau tahu, itu urusan mereka. Memang sih tidak bisa dipungkiri, seperti kata sebuah syair segala yang terlarang selalu menarik.
Aku hanya beharap semoga aku dan anak2ku tak mengalami dua hal diatas. Melihat banyaknya orang2 tua tidak bijak, ingin sekali rasanya menjadi ibu yang baik bagi anak2ku, mengajari mereka tentang Din ini -termasuk tentang interaksi dengan pasangan jenisnya (karena laki2 dan perempuan diciptakan untuk berpasangan bukannya menjadi lawan)- dan menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Jadi ingin belajar lebih banyak tentang parenting.
Hari ini melihat 2 fenomena yang membuatku ingin marah.
Orang tua yang kasar pada anaknya,
Rasanya aku benci sekali melihatnya sampai2 ingin menangis, dan entahlah aku selalu merasa sakit ketika ada orang marah2 dengan kasar, walaupun bukan aku yang dimarahi. Padahal anak adalah amanah yang harus dijaga dan diperlakukan dengan baik. Sadar atau tidak, anak yang selalu dimarahi, diperlakukan dengan kasar, disalahkan, dan tidak dihargai prestasi sekecil apapun yang dia raih akan tumbuh menjadi manusia yang kerdil, minder, tidak percaya diri, karena sejak kecil selalu dkerdilkan jiwanya. Apalagi jika tiap hari diperlakukan demikian, semua perlakuan dan kata2 itu akan mengkristal diotaknya.
Dan dua orang yang pacaran sebelum halal,
Padahal segala yang dinikmati pada waktunya akan lebih nikmat, plus berpahala lagi. Tapi memang begitulah kebanyakan pemuda jaman sekarang. Entah apa karena mereka tak tahu atau memang tak mau tahu, itu urusan mereka. Memang sih tidak bisa dipungkiri, seperti kata sebuah syair segala yang terlarang selalu menarik.
Aku hanya beharap semoga aku dan anak2ku tak mengalami dua hal diatas. Melihat banyaknya orang2 tua tidak bijak, ingin sekali rasanya menjadi ibu yang baik bagi anak2ku, mengajari mereka tentang Din ini -termasuk tentang interaksi dengan pasangan jenisnya (karena laki2 dan perempuan diciptakan untuk berpasangan bukannya menjadi lawan)- dan menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Jadi ingin belajar lebih banyak tentang parenting.
MENUNGGU YANG HALAL
100611
Setelah hampir seperempat abad perjalanan hidupku, dan dengan banyaknya peristiwa yang kualami, aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa: terkadang aku harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan sesuatu, tapi aku selalu mendapatkan yang hasil yang rata2 lebih baik dari orang kebanyakan.
Misalnya saja dalam hal pekerjaan, cukup lama aku menunggu, dan pada akhirnya aku diterima sebagai CPNS , sebuah pekerjaan yang diimpikan banyak orang, bahkan tidak sedikit yang rela menyuap demi posisi ini. Padahal Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap , dan dilaknat Allah bukanlah perkara kecil, dilaknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah n otomatis dijauhkan dari surga. Masih menunggu SK memang, dan cukup menguras tenaga dan pikiran untuk mengurus pemberkasannya. Walaupun sebenarnya aku sendiri tidak terlalu berminat dengan profesi ini, bukan apa2 sebenarnya, siapa yang bisa menjamin ketika ngantor nanti tidak ada ikhtilath -campur baur antara laki2 dan perempuan-, belum lagi atmosfernya yang tidak kondusif, orang dari berbagai latar belakang agama ada, yang seakidahpun tidak bisa dijamin orang2nya sepaham denganku. Berbeda halnya jika bekerja di tempat yang kondusif, tidak ada ikhtilath, orang2nya seakidah dan bagus atmosfernya.
Sambil menunggu SK yang masih lama, aku mencoba melamar ke 2 sekolah Islam –yang 1 sudah jauh2 hari sebelum itu sih-, dan aku lebih cenderung ke sekolah pertama, tapi sampai saat ini belum ada kelanjutannya. Dan aku diterima di sekolah kedua, atmosfernya bagus memang, hanya saja ada hal berbenturan denganku. Tapi its ok lah, alhamdulilah aku bisa menjadi guru, sebuah profesi yang belakang ini sangat kuidamkan, -padahal dulu aku benar2 tidak ingin menjadi guru, sampai2 aku rela tidak mengambil jurusan yang sangat aku suka (matematika) karena tak ingin berprofesi tersebut-. Aku benar2 ingin menjadi seorang pendidik, yang tidak hanya mencerdaskan, tapi juga mampu mendidik serta mentransfer prinsip2 yang kuyakini pada anak didikku.
Dan 1 hal lagi yang tak kalah pentingnya, bekerja di sektor ini relatif aman dari penghasilan2 yang syubhat atau bahkan haram.
Sebelumnya aku juga pernah melamar di sebuah bank berlabel syariah yang tadinya aku yakin disana aman (baca: halal) tapi ternyata setelah aku telusuri lebih lanjut, bank2 berlabel syariahpun pada hakikatnya masih menggunakan riba. Ketika aku tahu tentang hal itu, aku sudah melalui beberapa tahapan tes dan hanya tinggal satu tahap lagi, dan aku yakin aku akan diterima. Tapi akhirnya aku bulatkan tekad untuk tidak melanjutkannya.
Alhamdulillah aku bisa diterima bekerja di sektor yang aman, bebas dari riba dan teman2nya. karena tidak sedikit teman2 kuliahku yang bergelut di sektor yang bergelimang dengan riba, karena memang jurusanku (ekonomi akuntansi) rawan bergelut di sektor yang sarat riba. Dan tidak bisa dipungkiri, hari2 ini sektor2 ekonomi sangat banyak yang bersinggungan dengan riba, yang jelas2 tampak bank misalnya. Belum lagi perusahaan properti yang biasanya menggiunakan sistem riba, finance, pegadaian, asuransi de el el.
Dan memang segala yang haram selalu menyisakan masalah, termasuk harta. Dari cerita teman2 maupun orang yang kukenal yang bekerja di bank –bergelimang riba pastinya- sering ku dengar mereka ditimpa masalah yang timbul dari pekerjaannya. Salah seorang temanku yang tadinya berjilbab –meskipun jilbabnya masih jilbab gaul- karena bekerja di bank diapun melepas jilbabnya. Sudah membuka jilbab, makan harta haram pula. Ada lagi yang mengalami “selisih kurang“, kas yang ada lebih sedikit dari yang dibuku, dan diapun harus diomel2in atasannya didepan teman2nya dan mengganti kekurangan tersebut. Ada juga yang entah bagaimana ceritanya dia terkena kasus, kabarnya karena mengambil uang nasabah –sepertinya modusnya mirip Malinda Dee- sampai2 beritanya masuk surat kabar.
Jadi intinya tak perlu merisaukan masalah rizki, karena bahkan sebelum kita lahir rizki kita sudah ditentukan jatahnya, tak akan berubah dan tak akan salah alamat. Tinggal ikhtiar kita mau mengambil dengan cara halal atau haram, pilihan ada di tangan kita. Dan kita pun tak akan mati sebelum dicukupkan rizki yang menjadi jatah kita.
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS: Al Ankabut: 60)
Setelah hampir seperempat abad perjalanan hidupku, dan dengan banyaknya peristiwa yang kualami, aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa: terkadang aku harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan sesuatu, tapi aku selalu mendapatkan yang hasil yang rata2 lebih baik dari orang kebanyakan.
Misalnya saja dalam hal pekerjaan, cukup lama aku menunggu, dan pada akhirnya aku diterima sebagai CPNS , sebuah pekerjaan yang diimpikan banyak orang, bahkan tidak sedikit yang rela menyuap demi posisi ini. Padahal Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap , dan dilaknat Allah bukanlah perkara kecil, dilaknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah n otomatis dijauhkan dari surga. Masih menunggu SK memang, dan cukup menguras tenaga dan pikiran untuk mengurus pemberkasannya. Walaupun sebenarnya aku sendiri tidak terlalu berminat dengan profesi ini, bukan apa2 sebenarnya, siapa yang bisa menjamin ketika ngantor nanti tidak ada ikhtilath -campur baur antara laki2 dan perempuan-, belum lagi atmosfernya yang tidak kondusif, orang dari berbagai latar belakang agama ada, yang seakidahpun tidak bisa dijamin orang2nya sepaham denganku. Berbeda halnya jika bekerja di tempat yang kondusif, tidak ada ikhtilath, orang2nya seakidah dan bagus atmosfernya.
Sambil menunggu SK yang masih lama, aku mencoba melamar ke 2 sekolah Islam –yang 1 sudah jauh2 hari sebelum itu sih-, dan aku lebih cenderung ke sekolah pertama, tapi sampai saat ini belum ada kelanjutannya. Dan aku diterima di sekolah kedua, atmosfernya bagus memang, hanya saja ada hal berbenturan denganku. Tapi its ok lah, alhamdulilah aku bisa menjadi guru, sebuah profesi yang belakang ini sangat kuidamkan, -padahal dulu aku benar2 tidak ingin menjadi guru, sampai2 aku rela tidak mengambil jurusan yang sangat aku suka (matematika) karena tak ingin berprofesi tersebut-. Aku benar2 ingin menjadi seorang pendidik, yang tidak hanya mencerdaskan, tapi juga mampu mendidik serta mentransfer prinsip2 yang kuyakini pada anak didikku.
Dan 1 hal lagi yang tak kalah pentingnya, bekerja di sektor ini relatif aman dari penghasilan2 yang syubhat atau bahkan haram.
Sebelumnya aku juga pernah melamar di sebuah bank berlabel syariah yang tadinya aku yakin disana aman (baca: halal) tapi ternyata setelah aku telusuri lebih lanjut, bank2 berlabel syariahpun pada hakikatnya masih menggunakan riba. Ketika aku tahu tentang hal itu, aku sudah melalui beberapa tahapan tes dan hanya tinggal satu tahap lagi, dan aku yakin aku akan diterima. Tapi akhirnya aku bulatkan tekad untuk tidak melanjutkannya.
Alhamdulillah aku bisa diterima bekerja di sektor yang aman, bebas dari riba dan teman2nya. karena tidak sedikit teman2 kuliahku yang bergelut di sektor yang bergelimang dengan riba, karena memang jurusanku (ekonomi akuntansi) rawan bergelut di sektor yang sarat riba. Dan tidak bisa dipungkiri, hari2 ini sektor2 ekonomi sangat banyak yang bersinggungan dengan riba, yang jelas2 tampak bank misalnya. Belum lagi perusahaan properti yang biasanya menggiunakan sistem riba, finance, pegadaian, asuransi de el el.
Dan memang segala yang haram selalu menyisakan masalah, termasuk harta. Dari cerita teman2 maupun orang yang kukenal yang bekerja di bank –bergelimang riba pastinya- sering ku dengar mereka ditimpa masalah yang timbul dari pekerjaannya. Salah seorang temanku yang tadinya berjilbab –meskipun jilbabnya masih jilbab gaul- karena bekerja di bank diapun melepas jilbabnya. Sudah membuka jilbab, makan harta haram pula. Ada lagi yang mengalami “selisih kurang“, kas yang ada lebih sedikit dari yang dibuku, dan diapun harus diomel2in atasannya didepan teman2nya dan mengganti kekurangan tersebut. Ada juga yang entah bagaimana ceritanya dia terkena kasus, kabarnya karena mengambil uang nasabah –sepertinya modusnya mirip Malinda Dee- sampai2 beritanya masuk surat kabar.
Jadi intinya tak perlu merisaukan masalah rizki, karena bahkan sebelum kita lahir rizki kita sudah ditentukan jatahnya, tak akan berubah dan tak akan salah alamat. Tinggal ikhtiar kita mau mengambil dengan cara halal atau haram, pilihan ada di tangan kita. Dan kita pun tak akan mati sebelum dicukupkan rizki yang menjadi jatah kita.
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS: Al Ankabut: 60)
SAKIT & DOKTER
090611
Saya selalu beranggapan seseorang dikatakan sakit itu jika dia “benar2“ sakit dan hanya bisa tergeletak di tempat tidur. Sementara jika hanya mengalami “sedikit masalah“ pada tubuhnya tapi masih bisa beraktifitas itu bukanlah sakit, hanya tidak enak badan.
Mungkin karena anggapan itulah saya tidak pernah menganggap gangguan2 kecil pada tubuh saya sebagai sakit, sehingga saya santai2 saja dan tidak terlalu merisaukannya, apalagi jika gangguan itu sudah lama membersamai saya.
Tapi belakangan ketika ada satu gangguan yang mulai ngelunjak dan saya sudah capek dengannya, dan juga kekhawatiran saya –mungkin lebih tepatnya paranoid- jika gangguan itu bisa berdampak pada rahim saya (padahal ga ada hubungannya, he3..... soalnya saya kan pengen punya rahim yang subur dan bisa melahirkan banyak anak) saya mengazzamkan diri untuk berkunjung ke dokter. Setelah diidagnosa ternyata bukan penyakit yang serius dan juga bukan penyakit yang bisa berdampak buruk pada rahim dan kesuburan.
Tapi sekarang, saya ingin lebih menyayangi tubuh saya. Gangguan2 sekecil apapun ingin segera saya atasi. Termasuk gangguan yang sebenarnya sudah saya ketahui sebabnya, tapi saya lebih suka menurutkan nafsu saya untuk tidak berpola hidup yang bersahabat terhadap gangguan tersebut.
Bicara sakit tentu tidak jauh dari profesi satu ini. Dokter, merupakan profesi yang membuat saya enggan untuk menemuinya. Entah sejak kapan saya mulai enggan menemui jenis profesi ini, padahal dulunya saya biasa2 saja, mungkin sejak kuliah.
Ketika bertemu dokter biasanya selalu bertemu wajah2 yang serius, mugkin kebanyakan mikir kali ya. Udah gitu kesannya tidak bersahabat, pola komunikasinya pun sebagai si sakit dan si dokter, jadi benar2 merasa sakit.
Mungkin yang paling membuat saya enggan adalah karena saya pernah dimarahi oleh seorang dokter, sampai nangis lagi (duh memalukan sekali). Orang udah sakit dimarahi lagi, membuat saya tidak bisa menahan untuk tidak menangis, padahal saya bukanlah jenis orang yang mudah menangis didepan orang. Begini katanya “obat itu bukan segala2nya, perilaku itu yang segala2nya”. Tapi memang benar sih apa yang dikatakannya, mungkin juga dia bosan melihat wajah saya, datang beberapa kali dan dengan keluhan yang sama pula. He2 saya memang bandel.
Tapi, kemarin ketika saya ke dokter untuk memeriksakan gangguan yang saya sebut diatas, saya menemukan sosok dokter yang berbeda dari yang biasa saya temui. Baru melihat wajahnya saja, wajahnya tidak membuat saya takut. Dan setelah masuk ke ruangan dan berkonsultasi, sikapnya pun sangat bersahabat, ditambah wajahnya yang menyunggingkan senyum. Dan lagi dia juga menjelaskan secara terperinci mengenai hasil diagnosanya, jenis penyakitnya, sebab2nya de el el (sehingga saya benar2 paham) dengan bahasa yang lugas dan bersahabat, dan juga diselingi diskusi, seperti seorang siswa yang menjelaskan kepada teman sebangkunya tentang pelajaran yang susah dimngerti. Belum apa2 saya sudah merasa sembuh.
Semestinya memang begitulah seharusnya seorang dokter bersikap, dengan begitu pasien akan merasa sembuh sebelumnya. Dan orang tidak akan takut berkunjung ke dokter bila dia sakit. Seperti kata upin n ipin pada kak Ros yang galak dan bercita-cita jadi dokter “ada ke yang mau jumpa dokter garang macam akak? Ha3“....
Tapi memang tidak bisa disalahkan jika ada orang yang memiliki wajah “serius“ atau “seram“, yang kadang belum apa2 membuat orang merasa takut, karena mungkin memang itu bawaan dari lahir. Tapi setelah dekat ternyata orang tersebut adalah orang yang ramah.
Mungkin saya juga termasuk orang dengan wajah begitu, karena dari beberapa teman yang saya tanya, kesan pertama ketika melihat saya adalah “seram”. Jadi saya tidak heran atau marah ketika ada seorang teman saya yang mengatakan kalau saya “agak” antagonis –sepetinya kata “agak” ini hanya untuk memperhalus-. Karena itu, dulu ketika setelah didiagnosa mata saya min, saya tetap saja jarang memakai kacamata, bahkan sekaramg tidak sama sekali. Lalu bagaimana ya agar wajah kita tidak terkesan seram atau terlalu serius?
Saya selalu beranggapan seseorang dikatakan sakit itu jika dia “benar2“ sakit dan hanya bisa tergeletak di tempat tidur. Sementara jika hanya mengalami “sedikit masalah“ pada tubuhnya tapi masih bisa beraktifitas itu bukanlah sakit, hanya tidak enak badan.
Mungkin karena anggapan itulah saya tidak pernah menganggap gangguan2 kecil pada tubuh saya sebagai sakit, sehingga saya santai2 saja dan tidak terlalu merisaukannya, apalagi jika gangguan itu sudah lama membersamai saya.
Tapi belakangan ketika ada satu gangguan yang mulai ngelunjak dan saya sudah capek dengannya, dan juga kekhawatiran saya –mungkin lebih tepatnya paranoid- jika gangguan itu bisa berdampak pada rahim saya (padahal ga ada hubungannya, he3..... soalnya saya kan pengen punya rahim yang subur dan bisa melahirkan banyak anak) saya mengazzamkan diri untuk berkunjung ke dokter. Setelah diidagnosa ternyata bukan penyakit yang serius dan juga bukan penyakit yang bisa berdampak buruk pada rahim dan kesuburan.
Tapi sekarang, saya ingin lebih menyayangi tubuh saya. Gangguan2 sekecil apapun ingin segera saya atasi. Termasuk gangguan yang sebenarnya sudah saya ketahui sebabnya, tapi saya lebih suka menurutkan nafsu saya untuk tidak berpola hidup yang bersahabat terhadap gangguan tersebut.
Bicara sakit tentu tidak jauh dari profesi satu ini. Dokter, merupakan profesi yang membuat saya enggan untuk menemuinya. Entah sejak kapan saya mulai enggan menemui jenis profesi ini, padahal dulunya saya biasa2 saja, mungkin sejak kuliah.
Ketika bertemu dokter biasanya selalu bertemu wajah2 yang serius, mugkin kebanyakan mikir kali ya. Udah gitu kesannya tidak bersahabat, pola komunikasinya pun sebagai si sakit dan si dokter, jadi benar2 merasa sakit.
Mungkin yang paling membuat saya enggan adalah karena saya pernah dimarahi oleh seorang dokter, sampai nangis lagi (duh memalukan sekali). Orang udah sakit dimarahi lagi, membuat saya tidak bisa menahan untuk tidak menangis, padahal saya bukanlah jenis orang yang mudah menangis didepan orang. Begini katanya “obat itu bukan segala2nya, perilaku itu yang segala2nya”. Tapi memang benar sih apa yang dikatakannya, mungkin juga dia bosan melihat wajah saya, datang beberapa kali dan dengan keluhan yang sama pula. He2 saya memang bandel.
Tapi, kemarin ketika saya ke dokter untuk memeriksakan gangguan yang saya sebut diatas, saya menemukan sosok dokter yang berbeda dari yang biasa saya temui. Baru melihat wajahnya saja, wajahnya tidak membuat saya takut. Dan setelah masuk ke ruangan dan berkonsultasi, sikapnya pun sangat bersahabat, ditambah wajahnya yang menyunggingkan senyum. Dan lagi dia juga menjelaskan secara terperinci mengenai hasil diagnosanya, jenis penyakitnya, sebab2nya de el el (sehingga saya benar2 paham) dengan bahasa yang lugas dan bersahabat, dan juga diselingi diskusi, seperti seorang siswa yang menjelaskan kepada teman sebangkunya tentang pelajaran yang susah dimngerti. Belum apa2 saya sudah merasa sembuh.
Semestinya memang begitulah seharusnya seorang dokter bersikap, dengan begitu pasien akan merasa sembuh sebelumnya. Dan orang tidak akan takut berkunjung ke dokter bila dia sakit. Seperti kata upin n ipin pada kak Ros yang galak dan bercita-cita jadi dokter “ada ke yang mau jumpa dokter garang macam akak? Ha3“....
Tapi memang tidak bisa disalahkan jika ada orang yang memiliki wajah “serius“ atau “seram“, yang kadang belum apa2 membuat orang merasa takut, karena mungkin memang itu bawaan dari lahir. Tapi setelah dekat ternyata orang tersebut adalah orang yang ramah.
Mungkin saya juga termasuk orang dengan wajah begitu, karena dari beberapa teman yang saya tanya, kesan pertama ketika melihat saya adalah “seram”. Jadi saya tidak heran atau marah ketika ada seorang teman saya yang mengatakan kalau saya “agak” antagonis –sepetinya kata “agak” ini hanya untuk memperhalus-. Karena itu, dulu ketika setelah didiagnosa mata saya min, saya tetap saja jarang memakai kacamata, bahkan sekaramg tidak sama sekali. Lalu bagaimana ya agar wajah kita tidak terkesan seram atau terlalu serius?
DUA SHALAT SUNNAH
Dua shalat sunnah yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan dalam keadaan safar sekalipun, ya itulah shalat sunnah fajar dan shalat witir.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqoshor shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.”
Perlu diketahui shalat fajar sama dengan sholat Qobliyah subuh, karena tidak jarang yang mengira keduanya berbeda. Waktu pelaksanaannya setelah adzan subuh dan sebelum iqomat, jumlah rakaatnya 2 rakaat.
Lalu mengapa shalat sunnah fajar ini begitu penting?
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sangat tekun mengerjakan suatu shalat sunnah sebagaimana tekunnya beliau mengerjakan shalat dua raka’at fajar”. (HR. Al-Bukhari no. 1169)
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Dua rakaat (sebelum shalat) fajar (subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)
Sedangkan shalat witir hukumnya sunnah muakkadah yaitu sangat ditekankan. Waktu pelaksanaannya ba’da isya sampai menjelang subuh. Jumlah rakaatnya ganjil, minimalnya 1 rakaat. Jika melakukan 3 rakaat bisa dilakukan dengan 3 rakaat dengan 1 salam atau 2 rakaat 1 salam dan 1 rakaat 1 salam. Bisa dikerjakan di awal waktu dan di akhir waktu, namun lebih utama di akhir waktu jika yakin bisa bangun. Jika tidak yakin bisa bangun, bisa dikerjakan sebelum tidur seperti Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Dan mengapa shalat witir begitu penting?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.” (Muttafaqun’alaihi)
Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia bertutur, “Sesungguhnya shalat witir tidak harus dikerjakan dan tidak (pula) seperti shalat kamu yang wajib, namun Rasulullah melakukan shalat witir, lalu bersabda, “Wahai orang-orang yang cinta kepada Al-Qur’an, shalat witirlah, karena sesungguhnya Allah itu ganjil yang menyenangi (shalat) yang ganjil.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:959, Ibnu Majah I: 370 no:1169, Tirmidzi I:282 no: 452, Nasa’i III:228 dan 229 dalam dua hadits dan ‘Aunul Ma’bud IV:291 no:1403 secara marfu’ saja)
Yuk kita rutinkan….
Lebih jelasnya baca:
http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2813-merutinkan-shalat-sunnah-rawatib.html
http://muslimah.or.id/fikih/shalat-witir.html
atau search di www.yufid.com atau www.yufid.tv
PENDIDIKAN ANAK-ANAK KITA
080611
Diakui atau tidak, anak hasil didikan sekolah umum dan sekolah islam memang berbeda, akhlaknya terlihat sekali berbeda –ini hanya dari pengamatan yang saya lakukan-.
Di sekolah Negeri gurunya tidak harus muslim, mau kafir, pelaku kesyirikan maupun bidah pun sah-sah saja, karena memang tidak ada seleksi akidah disana.
Saya teringat ketika SMA, guru saya (kafir) menyayangkan mengapa dua pasang sejoli yang akan menikah membatalkan hanya gara2 beda keyakinan, padahal semua agama kan sama saja katanya. Itu kan kata dia, kalau kata Allah hanya islam yang benar.
Belum lagi pergaulan dengan teman2 sekolah, anak2 dari berbagai latar belakang ada disana: anak orang kafir, anak dukun, anak koruptor de el el.
Kalau misalnya si anak duduk sebangku dengan anak dukun, terus pulang2 minta Keris gimana? (sekedar contoh, ini juga nyontek, he3)
Siapa yang bisa menjamin anak2 tidak akan terpengaruh dengan teman2 sekolahnya
Lagi2 saya teringat masa SMA saya, teman laki2 sekelas saya, ketika saya meminjam hpnya, ternyata banyak gambar2 perempuan tak berbusana. Belum lagi di jaman serba mudah sekarang dengan mudah video2 asusila bisa didapat –bluetooth via hp misalnya-.
Belum lagi isu2 yang berkembang diantara mereka, pembicaraan atau obrolan2 mereka. Saya pernah mendengar anak SD menyanyikan yel2 yang isinya kurang sopan,
Juga pergaulan antar jenisnya, anak SD bahkan sudah mengenal pacar-pacaran,bahkan istilah ciuman. Saya sangat ngeri mengetahui anak SD sudah tau hal2 yang berbau se*s.
Belum lagi kata2 kotor yang mungkin berkembang diantara mereka. Teringat ketika SMA dulu, teman2 dengan ringannya mengucapkan makian atau menyapa temannya dengan panggilan sayang nama2 binatang “b*bi“ misalnya, bahkan bukan dalam keadaan marah.
Di sekolah islam, paling tidak semua gurunya muslim. Dan dengan adanya kesamaan akidah paling tidak atmosfernya lebih kondusif. Disana juga akan lebih ada penekanan masalah agama dan akhlak. Apalagi jika sekolah itu benar2 komitmen untuk benar2 menjadi sekolah islam, mereka tidak akan sembarang menerima guru, pasti ada kriteria2 tertentu yang harus terpenuhi. Begitupun halnya dengan kurikulum, akan ada tambahan pelajaran2 agama yang tidak ada di sekolah umum. Kalau saran saya sih, cari sekolah islam yang benar2 kondusif, bukan hanya sekedar namanya yang terdengar islami. Pelajari dulu profil sekolah sebelum memutuskan dimana anak kita akan kita titipkan.
Dan yang lebih parah, jangan sampai anak2 kita kita sekolahkan di sekolah kafir. Ketika disana –seperti yang saya dengar dari tetangga- mau tidak mau mereka akan diberi pelajaran agama mereka, bahkan ketika ada acara keagamaan (baca: ibadah) mereka juga diwajibkan ikut.
Miris sekali melihat fenomena ini, siapakah yang berhak disalahkan orang tuanya kah ataukah sekolah2 itu?
Selain memilih sekolah yang bernafaskan Islam, Masukkan juga anak2 kita ke TPQ, itupun tidak asal TPQ, carilah yang pengajarnya benar manhajnya, sehingga tidak mengajarkan bid’ah atau segala bentuk penyimpangan dalam beragama. Itu pun perlu kita beri teladan, tidak hanya menyuruhnya mengaji sementara orang tua hanya sibuk nonton sinetron.
Jangan sibuk mengurusi dunianya saja, tapi yang terpenting perhatikan akhiratnya. Dan tak perlulah anak2 kita diberikan les2 tambahan yang tak berguna bahkan haram semacam les piano, les menari de es be.
Kalau bisa alangkah lebih baiknya lagi jika anak2 dididik di pondok pesantren sejak kecil. Dan tak perlulah percaya dengan teori psikologi yang mengatakan anak yang sejak kecil dipisahkan dari orang tua akan merasa dibuang, terlebih yang mengemukakan teori itu juga orang kafir. Seperti Imam syafii, yang mungkin tidak akan jadi ulama besar seperti itu jika ibunya tidak menngirimkannya untuk dididik dari kecil.
Tapi perlu diingat tidak semua pesantren bisa dijadikan pilihan. orang tua harus cermat memilih pesantren yang benar2 “bersih” dan benar manhajnya.
Karena tidak jarang pesantren saat ini yang sudah dipenetrasi pemikiran liberal, seperti halnya kampu2 berlabel islam, tempat2 yang semestinya mencetak para da‘i. Mereka diberi kucuran dana oleh instansi yang mendukung penyebaran virus liberal (asia foundation kalau ga salah) bukan tanpa maksud –tak ada makan siang gratis istilahnya-. Para santri bahkan ustadznya diberi beasiswa keluar negeri –entah nama negaranya apa saya lupa, yang jelas bukan negaranya para ulama- untuk belajar islam dari dari sumber yg salah (tentang pesantren jenis ini saya baca disebuah potongan majalah yang ditempel di mading masjid). Untuk tahu nafas pesantren ini bisa dilihat buku2 di perpustakaannya.
Ada juga pesantren yang masih kental dengan ritual2 bidah, misalnya saja shalawatan ba’da adzan, dzikir berjamaah, tahlilan, yasinan dan masih banyak contoh lain.
Atau pesantren yang didalamnya masih membuka pintu kemaksiatan, sangat jelas maksiat itu tidak dianggap haram, terlihat dengan memberikan fasilitas. Saya pernah sekilas membaca sebuah novel dengan latar sebuah pesantren, disana mereka diberi fasilitas2 kegiatan ekstra, dan salah satunya adalah musik, untuk itu mereka difasilitasi dengan alat musik.
Agar tidak salah memilih pesantren,pelajari dulu profil2 pesantren yang dilirik dan minta rekomendasi dari orang2 terpercaya.
Semua hal diatas hanyalah upaya yang perlu dilakukan orang tua untuk menjaga anak2nya. Tak selalu anak hasil didikan sekolah yang tak bernafas Islam menjadi buruk, begitupun sebaliknya tak bisa dijamin anak hasil didikan sekolah islam atau bahkan pesantren hasilnya baik. Masih banyak factor lain yang mempengaruhi, termasuk lingkungan sekitar dan keluarga. Dan yang terpenting hidayah itu ditangan Allah. Namun sebagai orang tua kita berkewajiban mengarahkan anak2 kita, termasuk dalam hal memilih tempat belajar.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluarganu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS: at Tahrim: 6)
Allahu a’lam
semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik dan dikaruniai anak2 yang sholih dan sholihah
Diakui atau tidak, anak hasil didikan sekolah umum dan sekolah islam memang berbeda, akhlaknya terlihat sekali berbeda –ini hanya dari pengamatan yang saya lakukan-.
Di sekolah Negeri gurunya tidak harus muslim, mau kafir, pelaku kesyirikan maupun bidah pun sah-sah saja, karena memang tidak ada seleksi akidah disana.
Saya teringat ketika SMA, guru saya (kafir) menyayangkan mengapa dua pasang sejoli yang akan menikah membatalkan hanya gara2 beda keyakinan, padahal semua agama kan sama saja katanya. Itu kan kata dia, kalau kata Allah hanya islam yang benar.
Belum lagi pergaulan dengan teman2 sekolah, anak2 dari berbagai latar belakang ada disana: anak orang kafir, anak dukun, anak koruptor de el el.
Kalau misalnya si anak duduk sebangku dengan anak dukun, terus pulang2 minta Keris gimana? (sekedar contoh, ini juga nyontek, he3)
Siapa yang bisa menjamin anak2 tidak akan terpengaruh dengan teman2 sekolahnya
Lagi2 saya teringat masa SMA saya, teman laki2 sekelas saya, ketika saya meminjam hpnya, ternyata banyak gambar2 perempuan tak berbusana. Belum lagi di jaman serba mudah sekarang dengan mudah video2 asusila bisa didapat –bluetooth via hp misalnya-.
Belum lagi isu2 yang berkembang diantara mereka, pembicaraan atau obrolan2 mereka. Saya pernah mendengar anak SD menyanyikan yel2 yang isinya kurang sopan,
Juga pergaulan antar jenisnya, anak SD bahkan sudah mengenal pacar-pacaran,bahkan istilah ciuman. Saya sangat ngeri mengetahui anak SD sudah tau hal2 yang berbau se*s.
Belum lagi kata2 kotor yang mungkin berkembang diantara mereka. Teringat ketika SMA dulu, teman2 dengan ringannya mengucapkan makian atau menyapa temannya dengan panggilan sayang nama2 binatang “b*bi“ misalnya, bahkan bukan dalam keadaan marah.
Di sekolah islam, paling tidak semua gurunya muslim. Dan dengan adanya kesamaan akidah paling tidak atmosfernya lebih kondusif. Disana juga akan lebih ada penekanan masalah agama dan akhlak. Apalagi jika sekolah itu benar2 komitmen untuk benar2 menjadi sekolah islam, mereka tidak akan sembarang menerima guru, pasti ada kriteria2 tertentu yang harus terpenuhi. Begitupun halnya dengan kurikulum, akan ada tambahan pelajaran2 agama yang tidak ada di sekolah umum. Kalau saran saya sih, cari sekolah islam yang benar2 kondusif, bukan hanya sekedar namanya yang terdengar islami. Pelajari dulu profil sekolah sebelum memutuskan dimana anak kita akan kita titipkan.
Dan yang lebih parah, jangan sampai anak2 kita kita sekolahkan di sekolah kafir. Ketika disana –seperti yang saya dengar dari tetangga- mau tidak mau mereka akan diberi pelajaran agama mereka, bahkan ketika ada acara keagamaan (baca: ibadah) mereka juga diwajibkan ikut.
Miris sekali melihat fenomena ini, siapakah yang berhak disalahkan orang tuanya kah ataukah sekolah2 itu?
Selain memilih sekolah yang bernafaskan Islam, Masukkan juga anak2 kita ke TPQ, itupun tidak asal TPQ, carilah yang pengajarnya benar manhajnya, sehingga tidak mengajarkan bid’ah atau segala bentuk penyimpangan dalam beragama. Itu pun perlu kita beri teladan, tidak hanya menyuruhnya mengaji sementara orang tua hanya sibuk nonton sinetron.
Jangan sibuk mengurusi dunianya saja, tapi yang terpenting perhatikan akhiratnya. Dan tak perlulah anak2 kita diberikan les2 tambahan yang tak berguna bahkan haram semacam les piano, les menari de es be.
Kalau bisa alangkah lebih baiknya lagi jika anak2 dididik di pondok pesantren sejak kecil. Dan tak perlulah percaya dengan teori psikologi yang mengatakan anak yang sejak kecil dipisahkan dari orang tua akan merasa dibuang, terlebih yang mengemukakan teori itu juga orang kafir. Seperti Imam syafii, yang mungkin tidak akan jadi ulama besar seperti itu jika ibunya tidak menngirimkannya untuk dididik dari kecil.
Tapi perlu diingat tidak semua pesantren bisa dijadikan pilihan. orang tua harus cermat memilih pesantren yang benar2 “bersih” dan benar manhajnya.
Karena tidak jarang pesantren saat ini yang sudah dipenetrasi pemikiran liberal, seperti halnya kampu2 berlabel islam, tempat2 yang semestinya mencetak para da‘i. Mereka diberi kucuran dana oleh instansi yang mendukung penyebaran virus liberal (asia foundation kalau ga salah) bukan tanpa maksud –tak ada makan siang gratis istilahnya-. Para santri bahkan ustadznya diberi beasiswa keluar negeri –entah nama negaranya apa saya lupa, yang jelas bukan negaranya para ulama- untuk belajar islam dari dari sumber yg salah (tentang pesantren jenis ini saya baca disebuah potongan majalah yang ditempel di mading masjid). Untuk tahu nafas pesantren ini bisa dilihat buku2 di perpustakaannya.
Ada juga pesantren yang masih kental dengan ritual2 bidah, misalnya saja shalawatan ba’da adzan, dzikir berjamaah, tahlilan, yasinan dan masih banyak contoh lain.
Atau pesantren yang didalamnya masih membuka pintu kemaksiatan, sangat jelas maksiat itu tidak dianggap haram, terlihat dengan memberikan fasilitas. Saya pernah sekilas membaca sebuah novel dengan latar sebuah pesantren, disana mereka diberi fasilitas2 kegiatan ekstra, dan salah satunya adalah musik, untuk itu mereka difasilitasi dengan alat musik.
Agar tidak salah memilih pesantren,pelajari dulu profil2 pesantren yang dilirik dan minta rekomendasi dari orang2 terpercaya.
Semua hal diatas hanyalah upaya yang perlu dilakukan orang tua untuk menjaga anak2nya. Tak selalu anak hasil didikan sekolah yang tak bernafas Islam menjadi buruk, begitupun sebaliknya tak bisa dijamin anak hasil didikan sekolah islam atau bahkan pesantren hasilnya baik. Masih banyak factor lain yang mempengaruhi, termasuk lingkungan sekitar dan keluarga. Dan yang terpenting hidayah itu ditangan Allah. Namun sebagai orang tua kita berkewajiban mengarahkan anak2 kita, termasuk dalam hal memilih tempat belajar.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluarganu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS: at Tahrim: 6)
Allahu a’lam
semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik dan dikaruniai anak2 yang sholih dan sholihah
Langganan:
Postingan (Atom)



