Selasa, 29 Maret 2011

SEBENARNYA

Sebenarnya menjadi wanita karir, bekerja dan memiliki jabatan yang tinggi di tempatku bekerja bukanlah cita2ku –apalagi jika atmosfernya tidak kondusif-, sungguh aku sama sekali tidak berhasrat untuk itu. Sederhana saja sebenarnya, aku hanya ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi anak2ku. Yah, ibu rumah tangga, yang dihari2 ini banyak ditinggalkan karena dianggap tidak keren.
Sungguh, aku ingin membesarkan anak2ku dengan kedua tanganku sendiri. Ingin menjadikan anak2ku merasa memiliki ibu. Bukan menjadi “anak” baby sitter, “anak” neneknya, atau “anak” titipan –karena ketika ditinggal kerja dititipkan di tempat penitipan anak-. Menjadikan anak2ku merasa sangat nyaman untuk berbagi atau sekedar bercerita tentang kehidupan2nya. Menjadi Ibu yang tidak hanya sekedar menyandang gelar ”ibu”, tapi menjadi ibu yang sesungguhnya.
Sungguh aku ingin menjadikan rumahku sebagai madrasah pertama bagi anak2ku, aku ingin menjadi guru pertama bagi anak2ku. Mengajarkan anak2ku tentang tujuan hidup, tentang Din ini.
Rindu sekali rasanya untuk segera memeluk mimpiku.
AKU INGIN MENJADI

Entahlah saat2 ini ku ingin menjadi seorang guru, menjadi pengajar sekaligus pendidik. Yah, sebuah pekerjaan yang seringkali diremehkan, padahal sungguh besar jasa mereka. Ingin menjadi pendidik, yang tidak hanya mentransfer ilmu, tapi sekaligus mendidik, mentransfer prinsip2 ku kepada anak didikku, tentang makna hidup, tentang tujuan hidup dan hal2 lain yang ku yakini selama ini. Tentu saja yang kumaksud menjadi pendidik di sekolah Islam, dimana lingkungannya kondusif, yang disana ku bisa bertemu dengan orang2 semanhaj, aman dari fitnah, tidak ada ikhtilath.
COBAAN ATAUKAH TEGURAN??

Seringkali atau terkadang ketika kita menghadapi sebuah masalah atau rintangan, dengan PD kita menyangka semua itu adalah wujud cobaan dari Allah -yang tentunya hnaya diberikan kepada orang2 beriman-. padahal bisa saja itu adalah teguran, karena kita sempat “lupa” atau bisa saja itu adalah “balasan” atas dosa2 kita yang Allah segerakan di dunia.

Syukur dalam keadaan apapun

21 MARET 2011


Terkadang, ketika cobaan yang sedemikian berat menimpa kita, kita merasa dunia ini jadi sedemikian sempit –di mata kita-. Dan merasa tidak lagi bisa ada hal lain yang bisa membuat kita sedikit bahagia.


Bersyukurlah, karena di tiap keadaan yang paling menyakitkan sekalipun, masih ada saja 1 atau 2 hal yang bisa membuat kita tersenyum..


Jadi, tetaplah tersenyum di setiap keadaan. keep smile (karena sejelek2nya wajah anda –bagi yang merasa jelek,he3- akan terlihat lebih bagus jika tersenyum)

HUSNUDZON & TAWAKAL

Asy Syifa’s note: 21 maret 2011/ 16 rabiul akhir 1432 H

Memang kita harus selalu husnudzon/berbaik sangka padaNya.

Karena tidak selalu apa yang kita inginkan dan kita pandang baik untuk diri kita adalah yang baik menurut Allah.

Karena Dia punya cara sendiri memilihkan yang terbaik untuk kita, yang mungkin tidak atau belum bisa kita nalar.

Karena tidaklah selalu, ketika semua permintaan kita dikabulkan, ketika kita dimudahkan mendapat apa yang kita inginkan, ketika kita dimudahkan memperoleh rizki kita –termasuk jodoh,he3- , itu berarti Allah sayang dan ridho pada kita, tidak sungguh tidak demikian.

Ridho dan tidaknya Allah, terletak dari bertaqwa atau tidaknya kita.

Bisa jadi semua kemudahan yang dialami seseorang, karena Allah tidak lagi peduli dengannya, sehingga dia dibiarkan terlena dengan semua kemudahan itu dan tidak sadar bahwa Allah murka padanya.

Dan bisa jadi juga, segala kesulitan yang kita lalui untuk memperoleh apa yang kita inginkan ataupun rizki kita karena kita sedang diuji –ingat, ujian hanya diberikan untuk orang beriman, semakin tinggi tingkat keimanan seseorang semakin berat pula ujiannya-

Tenang saja, semua akan indah pada waktunya.

Hingga tak perlulah kita terburu-buru mengambil rizki kita dari jalan yang tidak dibenarkan syariat –baca: haram–

Sebab Allah sudah menulis rizki kita, bahkan sebelum kita dilahirkan, dan kita tidak akan dimatikan sebelum dicukupkan rizki kita.

Tinggal ikhtiar kita, mau mengambilnya dari jalan haram atau halal? Pilihan ada di tangan kita.

Intinya adalah TAWAKAL. Cukuplah tawakal membuat kita tenang menjalani hidup ini.

Seperti halnya burung yang keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang, begitu setiap harinya. Dia tidak pernah bingung memikirkan ”tidak ada makanan untuk besok atau tidak ada warisan untuk 1-7 turunanku-

Kawan, mari bersiap untuk kejutan-kejutan (dari Allah) berikutnya. ^^


NB: tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata –he3, kayak film aja-

Minggu, 13 Maret 2011

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

Asy Syifa’s note: 13 maret 2011
Dusta, satu kata yang sudah jamak dan ladzim di masyarakat kita. Sebuah perkara sering kita lihat, dilakukan baik dengan serius maupun bercanda. Sebuah perkara yang dianggap sepele oleh orang awam maupun orang yang katanya alim/berilmu. Sungguh ironis.

Seringkali kita melihat orang tua membohongi anaknya yang rewel, dengan anggapan dia masih kecil, padahal tetap saja statusnya adalah dusta. Dari Abdullah bin Amir ra dia berkata: “Suatu hari ibuku memanggilku, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di dalam rumah kami. Ibuku berkata, “Hai kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya kepada ibuku, “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ibuku, “Ketahuilah, jika kamu tidak jadi memberikan sesuatu kepadanya, maka itu akan ditulis sebagai kebohongan atasmu.” (HR. Abu Daud)

Atau mungkin seringkali kita melihat orang yang suka menceritakan berita apapun yang dia dengar. Padahal belum tentu yang dia dengar adalah berita yang benar, tetapi berita dusta. Dan dengan menyebarkan berita dusta tersebut menjadikan kita terjerumus dalam dusta. Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw beliau bersabda: “Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan.” (HR. Muslim)

Sungguh kawan, dusta bukanlah perkara kecil, bahkan hanya sekedar bercanda –dimana komunikan dan komunikator tahu bahwa yang dibicarakan adalah dusta-. Bahkan Rasulullah sampai mendoakan kecelakaan bagi pelakunya 3 kali ”Celakalah orang yang berbicara dengan suatu pembicaraan dusta untuk membuat orang lain tertawa, celakalah ia, celakalah ia,celakalah ia.” (HR.Imam Ahmad).

Tentu bukan berarti kita tidak boleh bercanda, bercandalah dengan kadar yang wajar dan dengan kata2 yang baik, tanpa dibumbui dusta, seperti Rasulullah yang juga bercanda dengan memanggil seorang sahabat dengan sebutan ”wahai pemilik dua telinga”.

Kawan, mari tinggalkan dusta, dalam bercanda sekalipun, karena Rasul menjanjikan rumah untuk kita, rumah di surga ”Aku pemimpin sebuah rumah di tengah surga yang diperuntukkan bagi siapa yang meninggalkan dusta meski sedang bergurau.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Sedangkan dalam perkara2 serius, mungkin terkadang kita terdesak untuk berdusta. Sebenarnya ada solusinya, gantilah perkataan dusta dengan tauriyah. Tauriyah adalah memilih kata-kata tertentu dengan maksud yang benar dan kata-kata tersebut bukanlah kebohongan jika ditinjau dari niat pembicara. Walaupun pendengar akan memahami perkataan pembicara dengan arti yang berbeda.

Ketika Rasulullah tengah berjalan bersama para shahabat, tiba-tiba mereka bertemu dengan pasukan kaum musyrikin. Mereka bertanya, ‘Dari manakah kalian?”. Nabi menjawab, “Kami dari ma-in” (ma-in bisa berarti nama kampung dan bisa berarti air). Orang-orang musyrik saling memandang lalu mengatakan, “Kampung-kampung di Yaman itu sangat banyak. Memang salah satu mereka berasal dari satu perkampungan di Yaman”. Orang-orang musyrik tersebut akhirnya berlalu. Padahal yang Nabi maksudkan adalah ‘air’ sebagaimana dalam firman Allah di surat Ath Thariq ayat ke-6. ”Manusia itu diciptakan dari air yang dipancarkan”.

Atau misalnya ada seorang muslim yang sedang dicari untuk didzalimi, sedang kita mengetahui keberadaannya, maka geserlah posisi duduk kita dari posisi semula n katakan ”selama aku duduk disini aku tidak melihatnya”. Saudara kita selamat, lisan kita juga selamat.

Atau mungkin ketika kita diundang dalam acara2 maksiat, kita bisa menghindarinya dengan berdalih ”kemarin saya ada perlu – perlu makan, tidur dst- jadi tidak bisa datang”. Dan perkataan2 serupa dengannya.

Mungkin terkadang kita lupa bahwa dusta adalah salah satu ciri orang munafik (nifaq amali, bukan nifaq keyakinan – dosa besar, yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam-). Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, ”Ada empat hal, barangsiapa yang memiliki semuanya, maka dia munafik sejati. Dan barangsiapa memiliki salah satu di antaranya, berarti dia mempunyai satu jenis sifat munafik hingga dia
meninggalkannya. Yaitu bila diberi amanat dia khianat, bila berkata dia dusta,
bila berjanji dia mengingkari, dan jika berselisih dia berkata kotor.”
(Muttafaqun ‘alaih).

Namun Islam ini mudah, berdustapun ada kalanya diperbolehkan. Ibnu Syihab az Zuhri, seorang tabi’in, berkata, “Aku belum pernah mendengar adanya dusta yang diperbolehkan kecuali dalam tiga hal yaitu ketika perang, untuk mendamaikan orang yang berselisih dan ucapan suami untuk menyenangkan istrinya atau sebaliknya.” (HR Muslim no 6799).

Para ulama telah membuat kaedah tentang dusta yang diperbolehkan. Kaedah yang paling bagus adalah perkataan Abu Hamid Al Ghazali.

Seorang muslim yang bersembunyi dari kejaran penjahat, kemudian penjahat itu bertanya kepada kita tentang di manakah keberadaan orang tersebut maka berdusta dalam kondisi semisal ini hukumnya adalah wajib demi menyelamatkannya. Demikian pula jika kita mendapatkan titipan barang dari seseorang lalu ada seorang penjahat yang menanyakan keberadaan barang tersebut dengan tujuan untuk merampasnya maka berdusta dalam kondisi seperti ini hukumnya wajib demi menyelamatkan barang tersebut.

Ini semua dilakukan jika memang suatu tujuan tidaklah mungkin dicapai kecuali dengan berdusta. Upaya hati-hati dalam hal ini adalah menggunakan tauriyah.

Beberapa kalimat mengutip dari http://abangdani.wordpress.com/2010/05/27/jangan-ada-dusta-diantara-kita/

Sabtu, 12 Maret 2011

TANYAKAN PADA AHLINYA

Asy Syifa’s note, 9 maret 2011

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Beberapa kali melihat orang2 menjadikan ’suatu masalah syariat’ sebagai bahan perbincangan di dunia maya, berdiskusi n bertanya pada orang2 yg bukan ahlinya, Dan masing2 memberikan pendapatnya masing2.

Subhanallah, apakah syarait mau diserahkan pada pendapat masing2?? Bisa kacau agama ni, kalau semua orang berbicara menurut pendapatnya masing2, terlebih yg berpendapat adalah orang2 yang bukan ahlinya. Qola fulan dan qola fulan. Masing2 berkata, menurut saya n menurut saya.

Padahal Din ini sudah final, tidak bisa ditawar-tawar. Kalaupun ada masalah fiqih yang disana banyak perbedaan pendapat. Dan sebagai penuntut ilmu yang ingin mencari kebenaran, tanyakanlah apa yg mengganjal di hatimu pada ahlinya: pada para ustadz, dengan melihat pendapat para ulama dan mengambil pendapat yang paling mendekati kebenaran.

Pendapat ulama pun beragam, tapi bukan berarti kita taklid pada seorang ulama dan menerima mentah2 semua pendapatnya. Bahkan imam Syafii, slah satu dari imam 4 madzhab yang terkenal mengatakan untuk tidak mengambil pendapatnya jika bertentangan dengan hadits.

”........Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.....” (Annisa: 59)

Para ulama saja berkata demikian, Maka bagimana pula denag kita? Masihkah kita berani berpendapat semau kita? Ingat kawan, akal kita ini terbatas, ada kalanya akal kita ini tidak akan sampai untuk memikirkan syariat. Jangan sampai kita menjadi oarng yang mengagung2kan akal kita, dan mengutak-atik agama dengan akal kita, na’udzubillah....

Teringat sebuah artikel yang ditulis seorang ustadz, disana dia menyebutkan pendapat tentang masalah yang dibahasnya, dan tanpa akhlak penanya memojokkannya ”anda hanya mendasarkan argumen pada pendapat ulama dari golongan anda sendiri, tanpa mau menengok pendapat ulama dari kelompok lain....bla...bla...bla....”

Dan dengan bijak penanya lain menjawab ”seharusnya anda mengetahui bahwa islam adalah agama yg berdasarkan al qur’an dan as sunnah. apabila terdapt dua pendapat maka dilihat yang paling dekat pada kebenaran yaitu pada al qur’an dan as sunnah. maka tidak ada cela apabila setelah dibandingkan pendapat ulama tertentu yng diambil dan selainnya ditinggalkan karena menyelisihi dalil yg lebih shahih.”

Ada juga seorang kawan yang bersikukuh dengan satu pendapat (entah pendapat ulama siapa) n bertanya di dunia maya (lebih tepatnya mencari pembelaan n pembenaran atas pendapatnya) dan ketika diberi tau pendapat yang benar, dia menolak dengan alasan ”melihat kondisi saat ini”.Subhanallah,bukankah syariat ini untuk sepanjang jaman, n sesuai untuk sepanjang jaman??

Ada lagi yang ditunjukkan bahwa amal yang dilakukan tidak ada dalilnya, dia berdalih "kita hanya beda ijtihad”. Ijtihad versi siapa? Versi dia?. Apakah semua orang boleh berijtihad untuk masalah syariat kawan?? Tentu jawabannya tidak.

Logika mudahnya jika kita mau membuat kue, lalu bertanya caranya pada orang yang tidak pernah membuat kue, tentu hasilnya akan hancur. Ini masalah duniawi kawan, maka bagaimana pula jika yang kita tanyakan adalah masalah syariat, untuk kepentngan dunia n akhirat kita? Tentu akibatnya lebih fatal bukan?

Mari kembali merenungi ayat ini:
”........Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.....” (Annisa: 59)

Semoga kita selalu dibimbing untuk berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah –tanpa menambahi dan mengurangi sedikitpun- hingga maut menjemput kita, hingga husnul khotimah....amin...

”....Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu....” (Al Maidah:3)

SEBUAH KESADARAN YANG SEMOGA TIDAK TERLALU TERLAMBAT

Asy Syifa’s note, 9 maret 2011

Setelah sekian lama merenung dan berfikir. Setelah lama bergumul dengan pergolakan batin dan fikiran. Setelah banyak waktu dan perasaan dikorbankan.

Akhirnya ku berhasil menarik kesimpulan, ternyata aku egois, ya egois.
Ku terlalu memikirkan diriku dendiri, melihat dengan kacamataku sendiri, dari sudut pandangku sendiri.

Yah, harusnya sudah sedari dulu aku sadar.

Apapun bentuknya, bagaimanapun rupanya, semua yang mereka lakukan semata-mata tidak lain dan tidak bukan karena mereka menyayangimu.
Mereka hanya ingin yang terbaik untukku.

Walaupun bentuk perwujudan rasa sayang itu tidak seperti bentuk yang ku inginkan.

Karena dunia mereka berbeda, karena kaca mata mereka berbeda.

Ayah bunda maafkan aku.

Maafkan aku yang sempat membuatmu meneteskan air mata.
Maafkan aku yang sempat membuatmu terluka.

Dan aku yang harus aku lakukan sekarang adalah:
Bersabar, yah bersabar, karena tidak ada hal lain yg bisa ku lakukan.
Lagipula tak ada gunanya mengutuki keadaan, tak ada gunanya meratapi semuanya.
Serta berusaha ikhlas menerima semunya.

Dan semoga kelak impianku benar-benar dapat ku peluk. Entah bagaimana caranya. Tak ada yang tak mngkin jika Dia brkehendak.

Sabtu, 05 Maret 2011

lifsyifa: PAMER AMAL VS PAMER MAKSIAT

lifsyifa: PAMER AMAL VS PAMER MAKSIAT: "Asy Syifa’s note: 24 februari 2011 Dengan menjamurnya ”kegilaan” pada jejaring sosial, tak jarang manfaat yang kita peroleh darinya, namun ..."