Sabtu, 30 April 2011

sosok

RIZQAN
Sosok pria dalam novel Sandiwara langit yang kukagumi


Sosok pria yang teguh memegang agamanya

Sosok yang selalu haus akan ilmu

Sangat amanah dan menepati janji-janjinya

Sangat menjaga nafkah yang dicarinya dari yang shubhat apalagi yang haram

Sangat wara’ –menjaga diri- dari yang haram bahkan yang mubah sekalipun

Sabar dalam kekurangan dan tak lupa diri ketika berada

Husnudzon dan pemaaf

Pekerja keras, ulet dan pantang menyerah

Sangat mencintai istri dan anaknya

Menjadikan istrinya sebagai ”ratu” dirumahnya

Manjaga rumahnya dari segala yang melalaikan




Sosok seperti itulah yang kuharapkan menjadi pendampingku,
Menemaniku mengarungi rimba rayaNya ini hingga ke jannahNya,
Membimbingku menegakkan syariatNya dalam hidup yang fana ini,
Menguatkanku ketika aku lemah,
Mengingatkanku ketika aku khilaf,
Memotivasiku menjadi lebih baik,
Bersamaku bahu-membahu mendidik generasi hebat umat ini.

Hmm, masihkah tersisa sosok seperti itu, satu saja untukku?
Wahai penguasa hatiku pertemukan aku dengannya,
Aku rindu, sangat merindukannya.

260411

Rabu, 27 April 2011

KEINDAHAN YANG MELENAKAN

Asy Syifa’s note 260411

Memang benar sungguh akan kecewa mereka yang memilih teman –baik teman hidup atau sekedar teman main- hanya karena faktor lahiriah semata.

Karena keindahan lahiriah itu cepat atau lambat akan luntur.

Karena faktor waktu: dimakan usia, kerupawanan itu akan berubah menjadi kerentaan. Kecelakaan atau sakit yang menyebabkannya tak tak lagi menarik. Atau sekedar karena perubahan2 kecil lainnya.

Lagipula seringkali pesona itu hanyalah karena kemasannya yang menarik sehingga membuat si objek terlihat begitu indah.

Sungguh benar sabda Nabi yang mewanti-wanti kita agar berteman dengan orang2 yang baik karena mereka ibarat minyak wangi, yang darinya kita akan mendapatkan bau wanginya, baik dengan kita membeli minyak wangi itu darinya, diberi olehnya atau sekedar kecipratan wanginya.

Begitupun dengan teman hidup, rasul mengingatkan kita untuk menjadikan agama sebagai kriteria utama dalam memilih.

Namun bukan berarti kita tak boleh menyukai keindahan itu, sah-sah saja selama bukan itu yang dijadikan kriteria utama dan selama keindahan itu tidak melenakan.

(Mau baca kisah nyata tentang keindahan lahiriah yang melenakan? Bisa dibaca di link ini
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/cinta-sejati-dalam-islam.html)


Tak hanya itu, dunia ini dengan segala keindahannya pun seringkali melenakan.

Padahal sesungguhnya dunia ini hanya bersolek. Ibarat perempuan tua keriput yang bersolek dan mengenakan pakaian yang bagus, hingga membuat para lelaki terpesona olehnya dan berebut ingin menikahinya. Untuk dapat menikahinya dia tidak meminta mahar, hanya saja syaratnya si lelaki harus melepas akhiratnya untuk mendapatkannya. Kesepakatan terjadi dan pernikahan pun berlangsung. Setelah menikah si lelaki pun sadar bahwa wanita yang dinikahinya adalah wanita tua keriput yang jelek, maka diapun menceraikannya dengan talak 3 (ini adalah orang yang beruntung, dia sempat tertipu oleh dunia, lalu dia sadar dan bertobat). Tapi ada juga yang setelah menikah dan dia tau wanita itu tua, keriput dan jelek, dia malah mengatakan ”terlanjur basah, mandi sekali” dan pernikahannya tetap berlanjut (ini adalah orang yang bodoh, sudah tau tertipu oleh dunia tapi masih diteruskan).

Mungkin terkadang kita lupa bahwa Rasul pernah mengingatkan bahwa dunia ini tak lebih dari ”bangkai kambing yang cacat” yang jangankan membeli dengan harga 1 dirham, diberi gratispun tak ada yang mau.

Dunia ini pun tak lebih nilainya dari sayap nyamuk, kalu saja dunia ini berharga seharga sayap nyamuk saja, tentu Allah tidak akan memberi kenikmatan dunia pada orang kafir meski hanya seecuil.

Sungguh merugi mereka yang menjadikan dunia sebagai orientasinya, dan bukannya akhirat..

Hidup kita di dunia ini hayalah seperti mimpi dalam tidur, dan kita baru akan sadar ketika kita bangun dari tidur, yaitu ketika datang kematian.

Dunia ini tak lebih dari sekedar senda gurau dan main2, hanyalah “mata’ul ghurur” kesenangan yang menipu, ”la’ibuwwalaHwun” permainan dan sesuatu yang melalaikan.
” Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al ankabut:64)

Karena kelak mereka yang paling sengsara di dunia, tapi dia beriman, ketika ditanya oleh Allah, apakah dia pernah sengsara di dunia, dia menjawab ”tidak”, mengapa? Karena di lupa akan kesengsaraaannya di dunia ketika telah ditunjukkan sedikit saja kenikmatan yang akan diperolehnya di surga.

Sebaliknya, orang yang paling bahagia di dunia, tapi dia kafir. ketika ditanya oleh Allah, apakah dia pernah bahagia di dunia, dia menjawab ”tidak”, mengapa? Karena di lupa akan kebahagiaannya di dunia ketika telah ditunjukkan sedikit saja kesengsaraan yang akan diperolehnya di neraka.

Namun bukan berati dunia ini selalu tercela, dunia ini bisa menjadi baik jika kita menjadikannya sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal ,kebahagiaan di akhirat.

Mencari nafkah –bagi para bapak- yang diniatkan untuk menafkahi anak istri bisa manjadi ibadah. Tidur yang diniatkan agar bisa kuat untuk bangun dimalam hari bisa menjadi ibadah. Makan yang diniatkan agar tubuh kuat dan sehat untuk melakukan ketaatan juga ibadah, de el el.

Jadi, masihkah kita mencintai dunia dan menjadikannya sebagai tujuan kita??.

(untuk mendengar kajian tentang cinta dunia silahkan di download di link ini
http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdullah%20Shaleh%20Hadrami/Cinta%20Dunia%20dan%20Solusinya)

semoga coretan ini bermanfaat, kalau ada kata2 yang ngawur tolong diingatkan ya.

(sebagian ditulis di aelembar kertas ketika sedang bosan mengantri)

Senin, 25 April 2011

SEBUAH CERITA TENTANG CINTA

Asy Syifa’s note: 250411


Dari sekian kota yang ku pernah tinggal dan menetap disana –dili, lamongan, manado, timika en malang- atau yang sekedar ku lewati dan singgah disana, rasanya hanya satu yang membuatku benar2 jatuh cinta dan sangat merindukannya.
Yah, Malang –meski namanya tak serupawan rupanya- sebuah kota yang sejuk, tidak hanya udaranya, tapi juga “atmosfernya”.
Disana ku merasakan warna-warninya hidupku, kemandirian bersikap, kebebasan berpikir, menjadi lebih dewasa, bermetamorfosis menjadi diriku saat ini dan banyak lagi.
Dan yang terpenting disana ku menemukan jati diriku –melalui proses pencarian yang panjang, hampir seperempat abad dan puncaknya di 4 tahun terakhir- .
Dan ketika aku baru saja menemukan diriku, aku sudah harus pergi meninggalkannya, bagai seorang pecinta yang baru saja menemukan kekasihnya, lalu dipisahkan, tentu saja cinta itu masih sangat merindu dendam.
Kini aku terlempar jauh ke ruang dan waktu yang berbeda, atmosfer yang berbeda, pergi jauh meninggalkannya.
Aduhai, Malang, kau benar2 sudah merenggut hatiku –bukan hanya separuh, tapi seutuhnya-.
Membuatku jatuh cinta setengah mati, mabuk kepayang oleh pesonamu dan rindu sekali untuk kembali berjumpa denganmu.
Semoga saja ku bisa kembali berjumpa denganmu dan menghabiskan sisa waktuku bersamamu, walau sepertinya susah, tapi bukan berarti tidak mungkin bukan?
Kini aku hanya bisa mengharap kejutan dariNya Sang pemilik hatiku, yang bisa membawaku kembali padamu.

Ha3, lebay sangad
(ditulis dengan sudut pandang seseorang yang sedang sangat merindukan kekasihnya)

Minggu, 24 April 2011

WAHAI SEKALIAN WANITA

Asy Syifa’s note: 24 April 2011

Dalam kitab Ash-Shahihain disebutkan bahwa pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan untuk melaksanakan shalat. Setelahnya beliau berkhutbah dan ketika melewati para wanita beliau bersabda: “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (meminta ampun) karena sungguh diperlihatkan kepadaku mayoritas kalian adalah penghuni neraka.” Salah seorang wanita yang hadir di tempat tersebut bertanya: “Apa sebabnya kami menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya namun dapat menundukkan lelaki yang memiliki akal yang sempurna daripada kalian.”

Saudariku, mungkin hadits ini sudah sering kita dengar. Yah, Rasul sudah mengabarkan jauh-jauh hari bahwa mayoritas penduduk neraka adalah kaum hawa. Mengapa? Karena kaum kita –baca: wanita- banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami.

Mungkin sekedar curhat sekaligus mencoba mengingatkan, terutama mengingatkan diri saya sendiri. Yang ku lihat di lapangan, memang benar hadits Rasul tersebut, bahwa wanita memang lebih suka melaknat jika merasa jengkel dibanding laki-laki, mungkin karena mereka lebih mengedepankan perasaan dibanding akal.

Sumpah serapah, kutukan, mendoakan keburukan kadang terlontar begitu saja ketika ada yang menyulut amarah mereka. Lihat saja contohnya kisah Juraij –seorang ahli ibadah Yahudi- ktika dia shalat dan ibunya memanggil namun tak dijawabnya, 3 hari berturut2, di hari ke3 ibunya jengkel dan mendoakan keburukan untuknya –agar dia tidak mati sebelum mendapat fitnah pelacur-.

Saudariku mari jaga lisan kita dari semua perkataan buruk, termasuk melaknat.apalagi kepada anak2 kita, jangan sampai anak kita menjadi buruk karena perkataan buruk kita yang diijabah Allah.

Dalam sebuah hadits marfu' riwayat Abu Zaid Tsabit bin Adh-Dhahak Al-Anshari radhiallahu 'anhu disebutkan, "...dan barangsiapa melaknat seorang mukmin maka ia seperti membunuhnya."( HR.Al-Bukhari,.lihat Fathul Bari, 10.)

Sedangkan mengenai kufur suami, ada hadits lain yang menjelaskan hal ini, bahwa ketika seorang wanita punya suami yang selalu berbuat baik padanya, dan satu ketika dia melihat yang tidak disukai dari suaminya, maka dia mengatakan bahwa suaminya tidak pernah berbuat baik padanya.

Seselesainya dari Shalat Kusuf (Shalat Gerhana), Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat:
“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka[8].” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka pada suatu masa, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata: ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 2106)

Tapi tenang kawan, Selain menjaga diri dari melaknat dan mengkufuri kebaikan suami, Rasul sudah memberi solusi lain untuk kita, yaitu dengan bersedekah dan istighfar.

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

"Dan hendaklah kamu ber-istighfar kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadanya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya." (Qs. Huud: 3).

Islam ini sangat indah, ketika sesuatu dilarang, maka diberikan solusinya.

Allahu a’lam.
Semoga coretan ini bermanfaat

(Artikel tentang keutamaan sedekah n istighfar bisa di-googling di yufid.com)

Sabtu, 23 April 2011

BERJILBAB TAPI TELANJANG??

Asy Syifa’s note: 9 April 2011
Jilbab, hari-hari ini sudah menjadi kata yang tidak lagi asing di telinga dan mata kita. Sudah jamak kita jumpai wanita2 muslimah mengenakannya. Tapi, apakah ini sebuah kemajuan yang pantas dibanggakan ataukah kemunduran yang perlu ditangisi??

Kini jilbab sudah menjadi TREND dalam berbusana.
Yah, banyak muslimah –sangat banyak bahkan- menjadikan jilbab tak lebih dari selembar kain penutup kepala, tidak lagi sampai menutup dada –yang hanya menutup bagian kepala, itupun tidak sempurna tertutup- yang tidak lagi memenuhi fungsinya untuk menutup (bukan membungkus) aurat, keindahan tubuh mereka yang sudah seharusnya ditutup
Mungkin mereka2 itu tidak paham untuk apa mereka berjilbab

Jilbab pun mengalami pergeseran fungsi dari penutup aurat menjadi sekedar tren dalam berbusana. Menjadi sekedar kelengkapan berbusana, yang digunakan justru untuk semakin mempercantik penggunanya. Jilbab menjadi sekedar kain penutup kepala ala kadarnya, yang tidak sampai menutupi bagian dada.

Subhanallah lihat saja contohnya:
• jilbab kecil yang dililitkan ngepas dileher, yang justru semakin menampakkan jenjangnya leher si pemakai
• sanggulan atau ikatan rambut yang dibuat tinggi menjulang –seperti punuk onta- yang dibungkus dengan selembar jilbab berukuran pas-pasan yang semakin menampakkan indahnya si punuk onta
• selembar kain yang dikenakan dengan memperlihatkan sedikit rambut bagian depan, jipon (jilbab poni) istilah kerennya
• ada juga selembar kain yang sangat tipis transparan hingga bayang2 rambutpun terlihat

itu baru bagian atsnya, bagian bawahnya?
• celana jeans dan kaos ketat menjadi padanannya, sehingga semua lekuk2 tubuh tetap terlihat, dan ketika sedikit membungkuk terlihatlah punggung bagian bawah
• ada juga yang menjadikan abaya sebagai padanan, tapi sengaja dipilih yang ukuran kecil n ngepas di badan.

hmm,kalau dulu ada istilah “berpakaian tapi telanjang”, nampaknya sekarang ada istilah baru: “berjilbab tapi telanjang”, nah lo? Karena jilbabnya belum bener.

saudariku, mari kembali belajar tentang apa itu jilbab, apa fungsinya, untuk apa kita memakainya, dan apa kriteria jilbab yang benar –syar’i- agar jangan sampai jilbab yang kita kenakan justru menjadi fitnah

-ditulis tak lain karena keresahan melihat fenomena maraknya jilbab (yang tidak syar’i)-

Kita hidup di era digital -bukan di jaman primitif- dimana sangat mudah mendapat informasi, jadi rasanya tidak ada alasan untuk mengatakan tidak tahu bagimana cara berjilbab yang benar.
• Disela2 kecanduanmu mendengarkan musik2 haram itu sempatkanlah beberapa menit untuk mendengarkan ceramah tentang jilbab.
• Disela2 kegemaranmu membaca novel n majalah2 ga bermutu itu, sempatkanlah barang sejenak membaca buku tentang jilbab
• Disela2 kegilaanmu pada jejaring sosial, sempatkanlah sedikit waktu untuk browsing artikel tentang jilbab – dari sumber yang benar tentunya-

Sesungguhnya tidak ada maksud menghujat atau memojokkan InsyaAllah, hanya sekedar ingin mengingatkan, kita semua adalah manusia yang tak lepas dari sifat ”lupa”, jadi rasanya tidak berlebihan jika kali ini saya ingin mengingatkan mereka2 yang mungkin sedang lupa. Agar jangan sampai kesalahan2 yang pernah kita lakukan, kembali dilakukan oleh orang2 yang kita cintai.
Dan bukankah teman yang baik itu bukanlah yang selalu membenarkan perbuatan kita, tetapi yang mengingatkan kita ketika kita salah?

Rasanya perlu saya tutup coretan ini dengan firmannya:
”Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung keDADAnya.....” (QS: An Nur:31)

”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al Ahzab:59)

Semoga gambar ini bisa sedikit memberi gambaran bagaimana jilbab yang syar’i. Semoga lain waktu bisa menulis kriteria jilbab syar’i. Mohon maaf atas kata2 yang tidak berkenan. Love U All Coz Allah. ^_^V

Selasa, 19 April 2011

FIRASAT ATAUKAH PRASANGKA??

Asy Syifa’s note: 12 April 2011
Ketika melihat orang2 dengan berbagai macam gerak-gerik dan atribut yang dipakainya, otomatis kita bisa langsung menilai karakteristik orang2 itu –walaupun tidak selalu gerak-gerik n atribut yg dipakainya mewakili diri mereka sesungguhnya- tapi paling tidak dengan sekilas melihat kita bisa mengira-ngira siapa mereka.

Mungkin karena aku suka memperhatikan orang dengan segala tingkah lakunya.

Misalnya saja antara ikhwan - ikhwan dalam tulisan ini maksudnya laki2 yang berjenggot n tidak isbal- n bukan ikhwan (walaupun sebenarnya ikhwan n cowok tu pada hakikatnya sama saja, sama2 laki) , terasa sekali bedanya –mungkin karena tampilannya sudah beda-. Lalu antara sesama ikhwan pun bisa dibedakan, misalnya antara ikhwan s****i n ikhwan h****i –mungkin karena tingkat kecingkrangannya beda kali ya? Biasanya ikhwan s****i lebih cingkrang, n kadang ikhwan h****i juga ada yang masih isbal- tapi tidak melulu itu, ”bau”nya memang beda –entah apa istilah yang tepat untuk menggantikan kata bau,he2-. Trus, antara ikhwan yang bener n ikhwan yang ”salah jalan” juga baunya beda –entahlah, padahal secara dhohirnya tampilannya sama-

Sekedar info saja disini ada aliran yang sudah difatwakan sesat, tapi tumbuh dengan nyaman disini, tanpa ada ribut2 dari masyarakat untuk membasmi mereka seperti nasib ahmadiyah.
N ironisnya, banyak masyarakat mengidentikkan tampilan mereka yang syar’i dengan kesesatan mereka.
Ini tugas kita bersama, untuk menyadarkan orang2 terdekat kita tentang bagaimana berpakaian yang syar’i itu, agar tidak ada lagi –minimal tidak banyak- pengidentikan tampilan syar’i itu dengan kesesatan, apapun bentuknya.

Begitu juga kaum hawanya, antara perempuan yang katanya baik2 n perempuan ga baik bisa dibedakan –lagi2 baunya beda- walaupun tampilannya sama, sama2 berpakaian tapi telanjang.
Karena hari2 ini perempuan2 yang katanya baik2 itu tampilannya tidak kalah beraninya dengan perempuan2 ga baik. Baju ketat n celana pendek seakan menjadi pakaian yang ladzim.

Terkadang perempuan ga baik itu memakai pakaian yang cukup sopan (dalam pandangan masyarakat umum, tapi tetap saja itu tidak benar jika dilihat dengan kacamata syariat), tapi tetap saja baunya tidak bisa ditutupi. Bahkan kata temanku, mereka itu, walau dijilbabi sekalipun baunya tetap tercium.

Subhanallah, sungguh islam telah memuliakan penganutnya, diantaranya dengan pakaian –baik laki2 maupun perempuan- untuk membedakan mereka dari kaum diluar mereka. Untuk membedakan perempuan baik2 dengan perempuan ga baik n perempuan kafir. Begitupun kaum adamnya, bahkan kata temenku atribut2 mereka -jenggot n celana cingkrang- itu hijab bagi mereka, kalau dulu bisa bilang ”emangnya gue cewek apaan”, sekarang juga bisa bilang ”emangnya gue cowok apaan”.

Tapi sekali lagi, tampilan tidak bisa dijadikan satu2nya faktor untuk menilai. Tapi, bukan berarti penampilan tidak penting, sangat penting bahkan.

Hmm, harus lebih hati2 dalam menilai, butuh kacamata yang jernih untuk melihat jauh lebih dalam hakikat sesungguhnya objek yang terlihat. Agar jangan sampai salah menilai, under value ataupun over value.

Tulisan ini sekedar cerita –berdasarkan apa yang kulihat disekitarku- n semoga bisa diambil manfaatnya.

Hmm, ini tapi ini firasat atau prasangka ya? ^^