Jumat, 26 Agustus 2011

Kebathilan “PSK“nya Abu Sangkan


Kau mengernyitkan dahi membaca judul diatas kawan? yang kumaksud dengan PSK adalah pelatihan shalat khusyuk, untuk selanjutnya ku sebut saja PSK

Berikut ini artikel2 tentang penyimpangan Abu Sangkan dengan PSKnya
- Mengenal Abu Sangkan dan Keilmuannya (I): http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1379
- Mengenal Abu Sangkan dan Keilmuannya (II): http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1380
- Penyimpangan-Penyimpangan Abu Sangkan (1): http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1381
- Penyimpangan-penyimpangan Abu Sangkan (2): http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1382
- Penyimpangan-penyimpangan Abu Sangkan (3): http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1383


Ini sekedar cerita bersumber dari kisah nyata he3, agar lebih meyakinkan.
Ketika itu (sekitar tahun 2007-2008, ketika itu aku memang masih mencari2), aku bersama kakakku tercinta mengikuti PSK, PSKnya Abu Sangkan tentunya. Ketika itu kakakku diundang temannya dan akupun diajaknya. Peserta yang datang jumlahnya cukup banyak ratusan lah, laki2 dan perempuan dari tampilannya pun beragam.

Mulanya sih aku asyik aja, aku ikuti rangkaian acaranya mengalir begitu saja, hingga sesi muhasabah-lah kalau boleh ku istilahkan begitu, mentornya memberi sugesti berupa kata2 yang mengingatkan tentang Allah (kira2 begitu, aku juga tidak ingat tepatnya). Dan bagai dihipnotis -mula2 tubuh disuruh rileks terlebih dulu, dan kami disuruh mengikuti irama tubuh kami tanpa menolaknya- tubuh kami yang semula dalam posisi berdiri (atau mungkin ruku‘, saya lupa) lama-kelamaan menjadi sujud dengan sendirinya mengikuti irama, dan semua atau mungkin hampir semua peserta menangis (kecuali kakakku, sepertinya dia tidak menangis karena di sesi istirahat kulihat wajahnya tidak menunjukkan bekas menangis), tak hanya perempuan, kaum pria yang biasanya tidak mudah menangis juga ikut menangis, tangisan kami pun tak hanya sekedar isakan tapi lebih mirip raungan (srigala kalee).

Setelah itu tiba sesi istirahat, peserta dipersilahkan membasuh wajah n berwudhu. Disini aku mulai berpikir, mengapa tadi aku menangis sampai sedemikian rupa dan apa pula yang aku tangisi, menangis karena ingat kebesaran Allah? Tidak, karena menyesali dosa2ku? Tidak juga. Aku memang menangis sampai meraung2, tapi hati ini rasanya kosong tak ada rasa sedih, rasa sesal atau perasaan lain yang menyebabkan seseorang menangis. Entahlah, apa aku menangis hanya karena sugesti2 itu? dan aku pun mulai merasa ada yang ganjil. Kemudian aku mengazzamkan diri untuk tidak mau “mendengar“ lagi sugesti2 yang diberikan atau mungkin “masuk telinga kanan, keluar telinga kanan“ istilahnya (kalau keluar telinga kiri kan berarti sugestinya sudah masuk ke otak).

Di sesi selanjutnya, ketika mentor mulai memberi sugesti lagi –kali ini posisi kami duduk- dan orang2 mulai menangis lagi, aku sama sekali tidak ada lagi keinginan untuk menangis, mungkin karena aku sudah tak lagi mau mendengar sugesti2 itu. Dan aku pun melihat sekelilingku, heran melihat mereka menangis sedemikian rupa (hmm, ternyata di sesi sebelumnya aku juga seperti mereka), juga sempat melihat orang2 di depan (team PSK), ternyata ada yang bertugas memberi kode untuk menghentikan sugesti dan menggantinya dengan rekaman suara adzan –kalau adzan yang asli sepertinya sudah dari tadi-.

Dan kamipun digiring untuk shalat dhuhur berjamaah di ruangan itu –kebetulan pelatihan itu diadakan di gedung t*lko* di lantai 8 seingatku, yang jelas tempatnya diatas karena kami perlu menaiki lift-. Dan percaya atau tidak durasi shalat dhuhur yang 4 rakaat itu sangat lama, sekitar setengah jam mungkin. Setelah shalat si imam bertanya dengan kalimat kurang lebih begini “bagaimana tidak terasa kan? padahal tadi kita shalat ... menit (dia menyebut angka durasi shalatnya)“, hebatnya dia tau durasi shalat yang kami lakukan, sudah direncanakan atau dihitung dengan stopwatch ya? Peserta lain sepertinya asyik saja, aku yang menggerutu bukannya khusyuk yang ada malah jengkel.

Setelah shalat ada 1 sesi lagi sih, masing2 peserta disuruh mencari pasangan (sesama jenis tentunya) untuk saling mengucap dan menjawab salam sambil berjabat tangan, dan disuruh untuk benar2 menghayati hingga akhirnya masing2 pasangan akan berpelukan dengan sendirinya. Lagi2 aku (juga pasanganku) tidak bisa merasakan chemistynya sugesti itu, jadi kami biasa2 saja tidak seperti peserta2 lain yang berpelukan dengan sangat “mesra“.

Tadinya hanya masalah tangisan itu yang membuatku merasa ganjil, aku pun mendiskusikan hal itu dengan kakakku, namun sepertinya dia terlalu husnudzon dan tidak menganggap itu sebagai hal yang perlu dicurigai. “masa kalau hanya untuk menangis menyesali dosa2 kita harus berjamaah seperti itu, mustinya kan nangis itu ketika sendiri dalam munajat kepadaNya“ begitu kira2 celetukku kala itu.

Sepulang dari situ aku juga sempat bercerita pada teman sekostku tentang tangisan aneh itu (biasa, perempuan memang hobi banget curhat). Waktu berlalu dan aku pun masih menyimpan “prasangka“ dan “?“ (baca: tanda tanya, kayak judul film yang merusak akidah itu) pada PSK itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun (ha3 kayak cerita2 novel aja) di tahun 2010 ketika aku baru mengenal manhaj ini dan baru menemukan dan mengikuti pengajian2 keislaman (yang shahih) yang sudah lama kucari2 sebenarnya, dan ketika itu aku datang telat sehingga aku tidak mendengar secara utuh penjelasan ustadz tentang kesesatan PSKnya Abu Sangkan, -yang kemudian kutanyakan pada mbak disebelahku, ini juga awal aku berkenalan dengan mbak ini, he3 jadi ngelantur kemana2- diantanya adalah mengenai keberadaan Allah. Dan ingatanku kembali terlembar ke PSK itu (flash back ceritanya, alur cerita ini adalah alur campuran), memang benar waktu itu pemateri menjelaskan mengenai letak dzat Allah dengan menganalogikannya dengan segelas air dan tisu. Pemateri memasukkan tisu kedalam segelas air, dan mengatakan bahwa dzat Allah meliputi hambanNya sebagaimana air meliputi tisu. Dan itu adalah sebuah kedustaan yang amat besar.

Lalu dimanakah Allah?
Allah itu diatas langit, bersemayam di atas arsy (tanpa perlu kita bayangkan bagaimananya, karena itu dilarang) berdasarkan ayat2 dan hadits shahih. Dan ilmu Allah meliputi makhlukNya.

Secara fitrah saja orang yang berdoa akan mengangkat tangan dan menengadah ke atas, jika ada orang ditanya tentang urusannya dia menjawab saya serahkan semua pada “yang diatas“. Dan sangat aneh jika ada yang mengatakan Allah itu dimana-mana, lalu dimana?

Dan belakangan ku tahu, PSK itu hanyalah wasilah untuk menyebarkan pemahaman sesatnya, ga tanggung2 acaranya bahkan sempat ditayangkan di sebuah stasiun TV.

NB: Dalam cerita diatas mungkin ada kata2, waktu atau yang tidak sama persis dengan aslinya karena faktor lupa

Allahu a’lam, semoga bermanfaat.
Mari waspada dari segala bentuk pemikiran2 baru yang menyesatkan yang ditampilkan dengan bentuk yang sangat anggun dan elegan!!
0202711

Tidak ada komentar:

Posting Komentar