Kamis, 25 Agustus 2011

Tarawih pertamaku

2 ramadhan 1432


Tarawih pertama, yah moment pertama yang seharusnya menjadi pembakar semangat. Sangat kesal, sekaligus sedih bercampur jadi satu. Ramadhan yang seharusnya menjadi moment tepat untuk perbaikan diri, dari ulat yang rakus menjadi kupu2 yang cantik.
Banyak sekali kesalahan yang ku temukan malam ini. Pemuda-pemudi menjadikan tarawih sebagai moment untuk “mejeng“, habis shalat mulai deh mereka ngumpul2 cewek + cowok, pacaran? Ngedate? Au ah gelap...

Perempuan2 berdandan dan berparfum berkeliaran ke mesjid, ga cuma yang ABG, emak2 juga ga mau kalah. Bermacam2lah modelnya, dari yang baju n celana ketat + rambut terurai sampai yang ber“jilbab“ tapi tampilannya sangat “wah“.

O ya hampir lupa, ketika kamar mandi begitu antri, orang2 pun berinisiatif untuk masuk bareng, 2 atau bahkan 3 orang. Subhanallah, mereka beralasan sama2 perempuan saja. Padahal Rasul melarang untuk melihat aurat orang lain meskipun sesama jenis (batas aurat sesama jenis: antara pusar sampai lutut), bahkan tidur dengan 1 selimut saja dilarang. Bukan tidak mungkin dari hal2 (yang dianggap) sepele seperti ini muncullah cinta sesama jenis, penyakit yang membinasakan kaum sodom.

Rasa2nya ingin sekali orang2 itu semua kuberi tahu, apa dan bagaimana yang semestinya.

Ketika pulang Juga sempat kulihat seorang bapak mengepulkan asap rokoknya selepas tarawih, yah suatu “barang“ yang sebenarnya haram hukumnya, mau bunuh diri secara perlahan?? Dan yang sangat menyebalkan, perokok itu bunuh dirinya ngajak2 orang, bagaimana tidak, orang2 pun diajak menikmati asap rokoknya. Ada juga seorang lelaki yang rambutnya dibuat gimbal kayak mbah surip plus diikat lagi. Padahal, rasul melaknat orang yang menyambung rambutnya, rambu gimbal seperti itu biasanya disambung bukan? Rasul juga melarang seorang pria shalat dengan rambut terikat bukan? perumpamaannya seperti orang yang shalat dengan tangan terikat.

Begitupun masalah jamaah shalatnya, shaf yang tidak rapat, dzikir2 ba’da tarawih yang entah dari mana asalnya, juga tak lupa lafadz niat “nawaitu showmaghodin...“, plus bersalam2an ba’da shalat. Di masjid satunya bahkan, shalatnya sangat cepat (23 rakaat memang) seperti burung mematuk. Subhanallah, padahal Rasul pernah menyuruh orang yang shalatnya begitu untuk mengulangi shalatnya. Bahkan jika dia mati dan shalatnya tetap seperti itu, dia mati diluar ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Subhanallah, dimana di kota ini bisa kutemukan masjid yang shalatnya benar2 nyunnah, mesjid yang seharusnya menjadi central perbaikan umat, bukan sekedar bangunan megah yang tak dimakmurkan, atau dimakmurkan tapi dengan pemakmuran yang tidak ada tuntunannya.

He3, postingnya telat ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar