Jumat, 17 Juni 2011

MENUNGGU YANG HALAL

100611
Setelah hampir seperempat abad perjalanan hidupku, dan dengan banyaknya peristiwa yang kualami, aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa: terkadang aku harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan sesuatu, tapi aku selalu mendapatkan yang hasil yang rata2 lebih baik dari orang kebanyakan.
Misalnya saja dalam hal pekerjaan, cukup lama aku menunggu, dan pada akhirnya aku diterima sebagai CPNS , sebuah pekerjaan yang diimpikan banyak orang, bahkan tidak sedikit yang rela menyuap demi posisi ini. Padahal Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap , dan dilaknat Allah bukanlah perkara kecil, dilaknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah n otomatis dijauhkan dari surga. Masih menunggu SK memang, dan cukup menguras tenaga dan pikiran untuk mengurus pemberkasannya. Walaupun sebenarnya aku sendiri tidak terlalu berminat dengan profesi ini, bukan apa2 sebenarnya, siapa yang bisa menjamin ketika ngantor nanti tidak ada ikhtilath -campur baur antara laki2 dan perempuan-, belum lagi atmosfernya yang tidak kondusif, orang dari berbagai latar belakang agama ada, yang seakidahpun tidak bisa dijamin orang2nya sepaham denganku. Berbeda halnya jika bekerja di tempat yang kondusif, tidak ada ikhtilath, orang2nya seakidah dan bagus atmosfernya.
Sambil menunggu SK yang masih lama, aku mencoba melamar ke 2 sekolah Islam –yang 1 sudah jauh2 hari sebelum itu sih-, dan aku lebih cenderung ke sekolah pertama, tapi sampai saat ini belum ada kelanjutannya. Dan aku diterima di sekolah kedua, atmosfernya bagus memang, hanya saja ada hal berbenturan denganku. Tapi its ok lah, alhamdulilah aku bisa menjadi guru, sebuah profesi yang belakang ini sangat kuidamkan, -padahal dulu aku benar2 tidak ingin menjadi guru, sampai2 aku rela tidak mengambil jurusan yang sangat aku suka (matematika) karena tak ingin berprofesi tersebut-. Aku benar2 ingin menjadi seorang pendidik, yang tidak hanya mencerdaskan, tapi juga mampu mendidik serta mentransfer prinsip2 yang kuyakini pada anak didikku.
Dan 1 hal lagi yang tak kalah pentingnya, bekerja di sektor ini relatif aman dari penghasilan2 yang syubhat atau bahkan haram.
Sebelumnya aku juga pernah melamar di sebuah bank berlabel syariah yang tadinya aku yakin disana aman (baca: halal) tapi ternyata setelah aku telusuri lebih lanjut, bank2 berlabel syariahpun pada hakikatnya masih menggunakan riba. Ketika aku tahu tentang hal itu, aku sudah melalui beberapa tahapan tes dan hanya tinggal satu tahap lagi, dan aku yakin aku akan diterima. Tapi akhirnya aku bulatkan tekad untuk tidak melanjutkannya.
Alhamdulillah aku bisa diterima bekerja di sektor yang aman, bebas dari riba dan teman2nya. karena tidak sedikit teman2 kuliahku yang bergelut di sektor yang bergelimang dengan riba, karena memang jurusanku (ekonomi akuntansi) rawan bergelut di sektor yang sarat riba. Dan tidak bisa dipungkiri, hari2 ini sektor2 ekonomi sangat banyak yang bersinggungan dengan riba, yang jelas2 tampak bank misalnya. Belum lagi perusahaan properti yang biasanya menggiunakan sistem riba, finance, pegadaian, asuransi de el el.
Dan memang segala yang haram selalu menyisakan masalah, termasuk harta. Dari cerita teman2 maupun orang yang kukenal yang bekerja di bank –bergelimang riba pastinya- sering ku dengar mereka ditimpa masalah yang timbul dari pekerjaannya. Salah seorang temanku yang tadinya berjilbab –meskipun jilbabnya masih jilbab gaul- karena bekerja di bank diapun melepas jilbabnya. Sudah membuka jilbab, makan harta haram pula. Ada lagi yang mengalami “selisih kurang“, kas yang ada lebih sedikit dari yang dibuku, dan diapun harus diomel2in atasannya didepan teman2nya dan mengganti kekurangan tersebut. Ada juga yang entah bagaimana ceritanya dia terkena kasus, kabarnya karena mengambil uang nasabah –sepertinya modusnya mirip Malinda Dee- sampai2 beritanya masuk surat kabar.
Jadi intinya tak perlu merisaukan masalah rizki, karena bahkan sebelum kita lahir rizki kita sudah ditentukan jatahnya, tak akan berubah dan tak akan salah alamat. Tinggal ikhtiar kita mau mengambil dengan cara halal atau haram, pilihan ada di tangan kita. Dan kita pun tak akan mati sebelum dicukupkan rizki yang menjadi jatah kita.
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS: Al Ankabut: 60)

1 komentar:

  1. assalamualaikum, saya ingin bertanya tentang hal ini, pertanyaan saya telah saya kirimkan ke email mbakyu lif.syifa@gmail.com

    wassalam
    Ricky Pratama
    http://www.facebook.com/ricky.pratama

    BalasHapus